Rabu, 12 September 2018

Bukan Baju Lebaran Biasa

Bukan Baju Lebaran Biasa

Kita sudah hingga di penghujung Ramadhan. Setelah ini Insya Allah kita akan berhari raya. Kita salat Idul Fithri dan bersilaturahim dengan sesama muslim. Di antara tradisi tahunan bagi dominan ummat Islam di negeri kita ini yakni beraya atau berlebaran dengan pakaian baru.

Baju gres untuk lebaran tidak hanya diminati oleh anak-anak, tapi orang cukup umur pun ikut dengan tradisi menggunakan baju gres untuk hari lebaran. Tidak hanya baju, tapi juga celana, bantalan kaki. Bahkan pakaian pergi salat Id menyerupai sarung, baju gunting cina dan kopiah juga diperbarui.

Lihatlah ke pasar, atau sentra perbelanjaan. Ummat Islam tumpah ruah di sana. Tidak jarang diskon besar-besaran disengaja oleh pihak toko. Walaupun bahwasanya mereka sudah mempersiapkan stok untuk dihabiskan pada masa sebelum lebaran. Untuk inilah mungkin di antara alasan mengapa lebaran harus pakai pemberian yang disebut THR.

Tidak ada yang salah dengan tradisi berpakaian gres di hari raya. Jika dengan baju gres yang indah dan higienis itu kita bisa berhari raya, maka ada nilai pahala yang kita dapatkan. Karena Islam sangat menyayangi keindahan. Dengan semangat berbelanja lebaran ternyata bisa mendongkrak ekonomi masyarakat terutama para pedagang. Mereka rela tidak mudik demi berjualan menjelang lebaran. Karena bagi mereka berjualan sebelum lebaran yakni "hari raya"-nya para pedagang.

Namun sebagian kita ummat Islam masih terpaku memaknai pakaian hari raya dengan pakaian fisik dan jasmani tanpa memaknainya dengan pakaian rohani. Dalam bahasa Arab, pakaian biasa disebut dengan  (لباس) libas. Kata ini pernah disebutkan Allah dalam Surah Al-A'raf ayat 26

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ
Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu yakni sebahagian dari gejala kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.

Allah menyebutkan pakaian yang paling baik yakni takwa. Maka menjadi penting bagi setiap orang yang telah menyediakan pakaian gres untuk lebaran untuk juga menyiapkan pakaian takwa bagi dirinya. Pakaian takwa itulah yang senantiasa di pakai baik ketika lebaran maupun di luar lebaran. Bagi yang belum sempat membeli pakaian gres untum lebaran, tidak usah bersedih. Karena sebaik-baik pakaian yang Allah sebut dalam Quran yakni takwa.

Kita yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan didasari kepercayaan dan penuh keihklasan tentunya yang paling pantas diwisuda di hari raya dengan sebutan/ yudisium takwa. Ujung ayat perintah puasa menyebutkan لعلكم تتقون (agar kau menjadi langsung yang bertakwa).

Kenakanlah pakaian terindahmu untuk jasmanimu di hari raya, tapi jangan lupakan pakaian rohanimu. Karena sesungguhnya kau bukanlah makhluk yang hanya dikenal dengan fisik dan jasmanimu, tapi lebih dari itu kau yakni makhluk yang dilebihkan atas makhluk yang lain berupa rohani. Maka beri juga pakaian takwa untuk rohanimu.

Selamat (menyambut) Idul Fitri. Semoga ibadah dan amal saleh kita diterima Allah. Semoga Allah ampuni dosa-dosa kita. Kami sekeluarga juga mohon maaf kepada semua jamaah dan pembaca semua atas segala salah dan khilaf. Semoga kita benar-benar menjadi langsung yang bertakwa. Aamiin. Takengon, 29 Ramadhan 1439 H. Wassalamu Alaikum Warahmatullahi wabarakatuh.

Selasa, 11 September 2018

Puasa Sepanjang Masa

Puasa Sepanjang Masa

Ramadan gres saja berlalu meninggalkan kita. Entah kita masih berkesempatan untuk bertemu dan ikut ambil bab dengan rangkaian ibadanya di tahun-tahun berikutnya atau tidak. Bagi setiap mukmin yang mengecap betapa nikmat dan indahnya Ibadah puasa di bulan Ramadan, ada ibadah puasa lain yang dapat dilakukan yaitu berpuasa enam hari di bulan Syawal.

Rasulullah, melalui hadis dari Abu Ayyub Al-Anshoriy menyebutkan

Hadis ini di-ikhraj-kan oleh banyak andal hadis yaitu Ahmad (5/417 nomor 23580), 'Abd ibn Hamid (h. 104, nomor 228), Muslim (2/822 nomor 1164), Abu Dawud (2/324 nomor 2433), At-Tirmizi (3/132 nomor 759), Al-Nasai dalam Sunan Al-Kubra (2/163 nomor 2862), Ibn Majah (1/547 nomor 1716) dan Ibn Hibban (8/396 nomor 3634).

Apa Maksud Puasa Addahri (Sepanjang Masa)?

عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ"

Siapa yang berpuasa bulan rahmat kemudian dilanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka bagaikan telah berpuasa sepanjang masa.

Apa yang dimaksud dengan puasa addahri? Yaitu bagaikan puasa setahun penuh atau sepanjang masa. Ulama menjelaskan bagaimana maksud dapat puasa setahun penuh? Karena setiap kebaikan diganjari dengan sepuluh kali lipatnya. Puasa bulan rahmat sebulan dikali sepuluh berarti 10 bulan. Puasa 6 hari berarti 60 hari setara dengan hitungan dua bulan. Ini hitung-hitungan dua belas bulan setahun.

Begitu besarnya ganjaran dari ibadah ini maka betapa ruginya orang yang tidak mau ikut ambil bab dengan ibadah ini. Hukum puasa Syawal ialah sunat. Berpahala melaksanakannya, rugi bila tidak melaksanakannya. Namun, meninggalkannya tidak dihitung dosa.

Bagaimana Cara Melaksanakannya?
Imam al- Nawawi dalam Kitab syarah shahih Muslim mengatakan, cara utama dalam melakukan puasa Syawal ialah dengan pribadi berpuasa sehari setelah idul fitri. Namun bila tidak pribadi setelah hari idul fitri, tetap dianggap memenuhi maksud puasa Syawal. Kendatipun puasanya di pertengahan atau di selesai Syawal.


Senin, 10 September 2018

Kembali Ke Fitrah, Kembali Menjalankan Pedoman Agama

Kembali Ke Fitrah, Kembali Menjalankan Pedoman Agama

Dalam suasana Syawal masih relevan kiranya kita bahas wacana fitrah. Bagaimana kaitannya dengan kembali kepada fitrah (idul Fithri)?. Kita kaji Firman Allah Surah Al-Rum ayat 30

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah membuat insan berdasarkan fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan insan tidak mengetahui. (Q.S. al-Rum/ 30: 30)
Ayat ini merupakan perintah kepada Nabi Muhammad dan juga kepada kita umat beliau untuk menghadapkan wajah, dalam artian diri dan segenap jiwa raga kita, kepada al-Din dalam keadaan lurus. Menghadapkan segenap jiwa raga itu dihentikan tidak lurus. Harus benar-benar lurus keseluruhannya. Seumpama kita bangun di hadapan seseorang di arah barat, maka dihentikan menghadapkan kepala ke barat kemudian dada menghadap ke utara atau sebaliknya. Maka dihentikan dalam keadaan menghadap kepada al-Din ini, dalam dikala yang bersamaan juga menghadap ke hal lain selain al-Din ini. Oleh kesannya diperintahkan menghadapkan dan mengarahkan semua perhatian dengan lurus kepada agama yang disyariatkan. Artinya menghadap secara totalitas.

Selanjutnya Allah memerintahkan kita untuk tetap mempertahankan fitrah Allah yang telah membuat insan berdasarkan fitrah itu. Dalam potongan ayat ini ditemukan kata fithrah. Ibnu Manzhur, dalam kamus Lisanul Arab menyebutkan kata fitrah berarti sesuatu pengetahuan wacana Tuhan yang diciptakan oleh Allah bagi manusia. Ia berasal dari kata fathara yang berarti penciptaan awal yang belum ada pola sebelumnya. Di antaranya firman Allah dalam surat Fathir ayat 1 menyebutkan الْحَمْدُ لِلَّهِ فَاطِرِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ  (segala puji bagi Allah sebagai pencipta lagit dan bumi). Ibnu ‘Abbas menyebutkan bahwa ia tidak mengetahui makna fathir al-samawati wa al-ardhi sampai pada suatu hari melihat dua orang arab bertengkar wacana kepemilikan sumur. Salah seorang dari mereka menyebutkan ana fathartuha (saya yang pertama membuatnya). 

Poin yang ingin saya sampaikan dari pernyataan Ibnu Manzhur ini ialah bahwa fithrah ialah sesuatu yang sengaja diciptakan oleh Allah kemudian diberikan kepada insan sebagai bekal bagi insan untuk hingga mengenal Allah atau untuk bertauhid. Sejalan dengan pendapat di atas, Al-Raghib al-Ashfahaniy dalam kitab ­Mufradat-nya menyebutkan bahwa fitrah ialah pengetahuan keimanan yang diberikan oleh Allah kepada setiap manusia. Sampai di sini kita pahami bahwa fitrah (fithrah) adalah potensi dasar yang diberikan oleh Allah bagi setiap insan untuk bertauhid dan mengenal agama dengan baik.

Lalu Allah sebutkan tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Fitrah itu tetap ada bagi setiap manusia. Fitrah yang Allah berikan itu tidak akan berubah. Quraish Shihab menyebutkan bahwa sekelas Firaun yang mengaku sebagai ilahi sekalipun di selesai hayatnya memunculkan akreditasi yang terlambat dengan menyampaikan “aku beriman dengan Tuhannya Musa dan Harun”. Pengakuan itu berdasarkan Quraish Shihab ialah fitrah beragama yang tetap itu.

Lalu muncul pertanyaan bagaimana dengan orang yang ternyata kini kita temukan tidak beragama dengan agama yang lurus? Nabi sebutkan dalam hadis yang disampaikan oleh Abu Hurairah sebagaimana dikutip al-Suyuthi:

وأخرج البخاري ومسلم وابن المنذر وابن أبي حاتم وابن مردويه عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم " ما من مولود إلا يولد على الفطرة فأبواه يهودانه وينصرانه ويمجسانه كما تنتج البهيمة بهيمة جمعاء هل تحسون فيها من جدعاء ؟ " ثم يقول أبو هريرة رضي الله عنه : اقرأوا ان شئتم فطرة الله التي فطر عليها لا تبديل لخلق الله لذلك الدين القيم
Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, Ibn Munzhir, Ibn Hatim dan Ibn Mardawaih dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda: “Tidak satupun bayi yang terlahir ke dunia ini kecuali atas dasar fitrah. Lalu kedua orang tuanya yang menjadikannya menganut agama yahudi, nashrani atau majusi. Seperti halnya hewan yang lahir sempurna. Apakah kau menemukan ada anggota badannya yang terpotong, kecuali kalau kau yang memotongnya?.” Kemudian Abu Hurairah berkata: bacalah fithratallahi (ayat 30 surat al-Rum).

Dalam hadis ini disebutkan bahwa tidak satu pun bayi yang terlahir ke dunia ini kecuali atas dasar fitrah. Lalu kedua orang tuanya, dalam hal ini sebagai lingkungan terdekat bagi seorang bayi, yang menjadikannya menganut agama Yahudi, Kristen atau Majusi. Orang bau tanah ialah lingkungan pertama yang mengakibatkan anak sanggup menjauhi fitrahnya. Tidak hanya orang tua. Lingkungan, sekolah, kawan, bahkan masyarakat juga besar lengan berkuasa dalam membuat anak akan tetap pada fitrahnya atau menjauhi fitrahnya.

Melalui ayat ini Allah menegaskan bahwa adanya fitrah keagamaan yang perlu dipertahankan oleh manusia. Bukankah awal ayat ini merupakan perintah untuk mempertahankan dan meningkatkan apa yang selama ini telah dilakukan oleh Rasul Saw., yakni menghadapkan wajah ke agama yang benar? Bukankah itu yang dinamai oleh ayat ini sebagai fitrah? Bukankah itu yang ditunjukkannya sebagai agama yang benar? Jika demikian, ayat ini berbicara wacana fitrah keagamaan.

Ayat di atas mempersamakan antara fitrah dengan agama yang benar, sebagaimana dipahami dari lanjutan ayat yang menyatakan “itulah agama yang lurus”. Jika pernyataan ini dikaitkan dengan pernyataan sebelumnya  bahwa Alllah yang telah membuat insan atas fitrah itu, ini berarti bahwa agama yang benar atau agama Islam ialah agama yang sesuai dengan fitrah itu. Juga dipahami bahwa fitrah beragama akan membawa insan kepada agama yang lurus. Ketika ada orang yang tidak beragama sesuai dengan agama yang lurus (al-Din al-Qayyim), itu alasannya ialah ia telah lari menghindar dari fitrahnya. Sebagaimana disebutkan oleh hadis di atas.

Sebagai bukti bahwa adanya fitrah beragama atau fitrah ketauhidan yang diberikan kepada insan ialah dengan adanya kesaksian insan pada dikala sebelum ia dilahirkan ke atas bumi ini. Kesaksian itu ialah menyatakan bahwa Allah sebagai rabb (Tuhan). Bagi kita umat Islam, warta wacana “perjanjian” kesaksian kita dengan Allah itu diinformasikan Allah dalam Surah al-A’raf ayat 172

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي ءَادَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan belum dewasa Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu) semoga di hari selesai zaman kau tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) ialah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)". (Q.S. al-A'raf/ 7: 172)

Terkait klarifikasi ayat ini kita bahas pada pertemuan yang lain In Sya’a Allah.

Lalu Bagaimana Kaitan Fitrah Dengan Idul Fitri?

Idul fitri ialah hari kemenangan alasannya ialah kita telah mengisi siang dan malam hari Ramadhan dengan puasa dan ibadah sunnah lainnya dengan keyakinan dan ikhlas. Sebagai ganjarannya, Allah ampuni dosa kita yang telah berlalu. Itulah kemenangan yang kita rayakan dengan bertakbir membesarkan Allah, bertahlil mengesakan Allah serta bertahmid memuji Allah.

Idul Fitri atau kembali fitrah idealnya juga ialah kita kembali kepada fitrah bertauhid kita, fitrah kita beragama dan menjalankan aliran agama. Idul fitri ialah kembali menjalankan aliran agama. Idul fitri bukanlah kita yang telah menjalankan aliran agama selama bulan Ramadhan, kemudian kita lupakan aliran itu selepas Ramadhan. Baru akan kembali melakukan aliran agama pada bulan Ramadhan yang akan datang. Ini sejatinya bukanlah Idul Fitri.

Karena fitrah ialah potensi dasar yang diberikan oleh Allah bagi setiap insan untuk bertauhid dan mengenal agama dan selanjutnya sanggup menjalankan agama dengan baik, maka kembali kepada fitrah tentunya kembali melakukan ibadah wajib dan sunnah yang sudah dilaksanakan di bulan Ramadhan. Orang yang telah beridul Fitri tentunya kembali shalat ke masjid, kembali mengaji, berinfak dan berderma, kembali mengikuti pengajian, kembali berpuasa dengan puasa sunnah. Pendek kata, orang yang telah beridul fitri ialah orang yang kembali menegakkan agama dalam dirinya. Bukan malah meninggalkan agama, apalagi malah kembali ke kubangan dosa dan maksiat lagi. Tetapi kebanyakan insan tidak mengetahui. Bunyi ujung ayat 30 surah al-Rum ini.

Hadanallahu wa iyyakum. Billahi taufiq walhidayah, warridho walinayah.  

___
Disampaikan pertama kali untuk pengajian subuh di Masjid Taqwa Muhammadiyah Aceh Tengah pada hari Kamis tanggal 14 Syawal 1439 H/ 28 Juni 2018 M
Kembali Fitri Jangan Kembali Berdosa Lagi

Kembali Fitri Jangan Kembali Berdosa Lagi

Taqabbalallahu minna wa minkum. Wa ja'alana minal 'aidin walfaizin.

Selamat untuk kita semua yang telah berpuasa dengan dogma dan nrimo lantaran Allah. Karena hari ini kita telah mendapat komitmen Allah berupa ampunan dari dosa yang telah berlalu. Sehingga hari ini kita disebut kembali kepada kondisi tanpa dosa sebagaimana layaknya seorang bayi yang gres lahir, suci tanpa dosa, Idul fitri.

Sebagian juga menyebutkan, selamat berhari raya. Selamat merayakan kemenangan. Menang bukan lantaran kita telah bebas dan merdeka dari rasa haus dan lapar yang kita lalui selama satu bulan. Kita menang alasannya sudah berhasil melawan musuh terbesar yang ada dalam diri kita, yaitu keinginan/ nafsu.

Namun sangat disayangkan. Masih ada di antara sebagian kita yang merayakan kemenangan dengan cara yang tidak tepat. Di beberapa kawasan kemenangan dirayakan dengan letupan mercun dan hiasan kembang api yang sejatinya bukan tradisi Islam. Uang THR dipakai untuk hal mubazir pembeli mercun dan kembang api yang harganya luar biasa mahalnya.

Dulu mungkin ada program hiburan di kampung yang digagas dan dipersiapkan dengan baik oleh para perjaka pemudi kampung. Ada pertunjukkan drama. Juga ada pentas seni tari yang diisi oleh bawah umur sekolah. Ada juga pertandingan bola kaki. Lomba balap karung dan permainan tradisional lainnya. Bahkan juga ada buayan ka[li]liang, ibarat wahana bianglala. Uniknya ia tidak digerakkan oleh mesin, tapi diputar bersama memakai tenaga para pemuda. Uang THR tetap berputar dan beredar di kampung.

Perubahan zaman terjadi dengan cepat. Tradisi usang itu sudah susah ditemukan. Yang ada kini kita temukan hiburan dan pasar malam yang acaranya digagas bukan lagi oleh perjaka kampung. Tapi, ini yakni bisnis yang tiba dari luar kampung. Uang THR sudah beredar luas hingga ke tangan pengusaha pasar malam.

Ada juga masyarakat berpesta merayan idul fitri dengan dentuman musik hingar-bingar. Menampilkan penyanyi yang tidak menutup aurat. Lalu program itu ditonton oleh masyarakat umum. Bergabung menontonnya ayah, anak, mamak dan kemenakan. Hilang rasa malu. Hilang basa basi, hilang raso jo pareso.

Tidak jarang, program hiburan itu dikunjungi oleh pemuda-pemudi dari luar kampung. Terkadang juga terdengar kerusuhan kecil berupa pertengkaran pemuda. Tapi ini tidak sering terjadi. Tidak diketahui juga apa penyebabnya. Entah lantaran bersenggolan ketika berjoget. Atau lantaran mereka lupa diri disebabkan efek minuman memabukkan. Tidak ada yang tahu niscaya apa penyebabnya. Informasi niscaya juga susah didapat. Yang ada hanya sisa botol bekas minuman keras di lokasi acara.

Ada juga yang mengikat hiburan musik ini dengan program 'amal' menggalang dana dengan program lelang kue, lelang singgang ayam atau bahkan lelang kambing guling. Acara ini juga memanfaatkan momen para perantau pulang kampung. Dana yang terkumpul biasanya diperuntukkan untuk pembangunan kampung, minimal membangun posko pemuda.

Kembali ke topik pembicaraan. Idul fitri bukanlah hari merayakan kemenangan nafsu yang sudah dipuasakan sebulan penuh. Idul fitri juga bukan hari raya untuk berpesta dengan melupakan silaturahim dan kekeluargaan. Idul fitri bukanlah hari kemenangan dengan melupakan ibadah yang sudah dilatih dan dibiasakan sebulan penuh. Idul fitri yakni hari raya membesarkan Allah (wa li tukabbirullah).

Idul fitri yakni hari raya kembali kepada kondisi fitri, kembali kepada kondisi suci. Bukan kembali lagi berdosa dan kembali ke kubangan maksiat lagi. Idul fitri yakni bagaimana rasanya keluar dari masa karantina dan pelatihan. Maka usaha yang sungguh berat bergotong-royong bukan pada ketika latihan, tapi setelah latihan.

Idul fitri yakni layaknya waktu awal bagi para siswa, santri dan mahasiswa kembali ke masyarakat setelah menamatkan pendidikannya. Idul fitri bagaikan masa awal mempraktekkan ilmu dan training yang sudah didapat di dingklik pendidikan.

Contoh yang sering disampaikan oleh buya dan tengku di mesjid dan musalla ketika ceramah yakni bagaimana ayam yang gres dibeli dikenalkan pada kandangnya. Biasanya dalam masa tiga hari seekor ayam dikurung dalam kandangnya. Setelah itu jikalau dilepas, ia akan kembali ke kandangnya pada senja harinya.

Contoh lain bagaimana seekor beruk yang diajar dan dilatih memetik kelapa. Setelah selesai pelatihannya, beruk dihadapkan pada kenyataan memetik kelapa yang sesungguhnya. Berpindah dari satu pohon ke pohon berikutnya untuk melakukan tugasnya memetik kelapa. Ia tetap patuh dan tunduk pada arahan tuannya. Walau terkadang ada godaan dan kendala yang dilaluinya ibarat bertemu sarang semut atau bahkan hewan berbisa.

Kita selaku makhluk terpelajar tentu mustahil sama ibarat ayam dan beruk dalam pola di atas. Kita yang sudah dilatih sebulan mengendalikan hawa nafsu tentunya jauh lebih cerdas dari dua pola di atas. Kita yang sudah melatih diri kita salat ke masjid selama bulan berkat hendaknya tidak melupakan jalan ke masjid. Kita sudah melatih diri kita untuk salat malam selama Ramadan. Tentunya juga kita lanjutkan praktek latihan sebulan itu setelah Ramadan. Kita juga sudah latihan berinfak dan bersedekah selama Ramadan. Hendaknya juga melanjutkan tradisi itu setelah Ramadan. Kita yang sudah tadarus dan membaca Quran bahkan hingga khatam, hendaknya tidak berhenti membacanya di luar Ramadan.

Terkadang kita merasa iba lantaran bulan berkat hanya sebagai pemberhentian sementara dari dosa bagi sebagian orang. Kita juga duka ketika melihat masjid musalla hanya berisi di bulan Ramadan. Kita harusnya aib lantaran ibadah kita masih bersifat musiman.

Kita patutnya menangis jikalau ternyata sesudah 'Idul Fitri (kembali suci) kita menjadi 'Idul Ma'ashi atau 'Idul 'Ishyani (kembali berdosa lagi). Semoga tidak ada lagi saudara kita yang kembali berjudi, mabuk dan mencuri setelah Ramadan. Semoga tidak ada lagi perbuatan curang dan riba dalam jual beli pasca Ramadan. Semoga tidak ada lagi praktek suap, memotong hak orang lain dan korupsi mulai Syawal ini. Aamiin.

Kita bermohon kepada Allah supaya menjadi hamba yang istiqamah beriman dan bersedekah serta menghindari perbuatan dosa. Selamat Idul Fitri. Semoga Allah terima ibadah dan amal soleh kita. Semoga Allah ampuni dosa-dosa kita, sihingga benar-benar menjadi hamba yang kembali suci dan tetap suci hingga final hidup nanti. Aamiin.

#idmubarak
Kembali Ke Fitrah, Kembali Menjalankan Pedoman Agama

Kembali Ke Fitrah, Kembali Menjalankan Pedoman Agama

Dalam suasana Syawal masih relevan kiranya kita bahas wacana fitrah. Bagaimana kaitannya dengan kembali kepada fitrah (idul Fithri)?. Kita kaji Firman Allah Surah Al-Rum ayat 30

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah membuat insan berdasarkan fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan insan tidak mengetahui. (Q.S. al-Rum/ 30: 30)
Ayat ini merupakan perintah kepada Nabi Muhammad dan juga kepada kita umat beliau untuk menghadapkan wajah, dalam artian diri dan segenap jiwa raga kita, kepada al-Din dalam keadaan lurus. Menghadapkan segenap jiwa raga itu dihentikan tidak lurus. Harus benar-benar lurus keseluruhannya. Seumpama kita bangun di hadapan seseorang di arah barat, maka dihentikan menghadapkan kepala ke barat kemudian dada menghadap ke utara atau sebaliknya. Maka dihentikan dalam keadaan menghadap kepada al-Din ini, dalam dikala yang bersamaan juga menghadap ke hal lain selain al-Din ini. Oleh kesannya diperintahkan menghadapkan dan mengarahkan semua perhatian dengan lurus kepada agama yang disyariatkan. Artinya menghadap secara totalitas.

Selanjutnya Allah memerintahkan kita untuk tetap mempertahankan fitrah Allah yang telah membuat insan berdasarkan fitrah itu. Dalam potongan ayat ini ditemukan kata fithrah. Ibnu Manzhur, dalam kamus Lisanul Arab menyebutkan kata fitrah berarti sesuatu pengetahuan wacana Tuhan yang diciptakan oleh Allah bagi manusia. Ia berasal dari kata fathara yang berarti penciptaan awal yang belum ada pola sebelumnya. Di antaranya firman Allah dalam surat Fathir ayat 1 menyebutkan الْحَمْدُ لِلَّهِ فَاطِرِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ  (segala puji bagi Allah sebagai pencipta lagit dan bumi). Ibnu ‘Abbas menyebutkan bahwa ia tidak mengetahui makna fathir al-samawati wa al-ardhi sampai pada suatu hari melihat dua orang arab bertengkar wacana kepemilikan sumur. Salah seorang dari mereka menyebutkan ana fathartuha (saya yang pertama membuatnya). 

Poin yang ingin saya sampaikan dari pernyataan Ibnu Manzhur ini ialah bahwa fithrah ialah sesuatu yang sengaja diciptakan oleh Allah kemudian diberikan kepada insan sebagai bekal bagi insan untuk hingga mengenal Allah atau untuk bertauhid. Sejalan dengan pendapat di atas, Al-Raghib al-Ashfahaniy dalam kitab ­Mufradat-nya menyebutkan bahwa fitrah ialah pengetahuan keimanan yang diberikan oleh Allah kepada setiap manusia. Sampai di sini kita pahami bahwa fitrah (fithrah) adalah potensi dasar yang diberikan oleh Allah bagi setiap insan untuk bertauhid dan mengenal agama dengan baik.

Lalu Allah sebutkan tidak ada perubahan pada fitrah Allah. Fitrah itu tetap ada bagi setiap manusia. Fitrah yang Allah berikan itu tidak akan berubah. Quraish Shihab menyebutkan bahwa sekelas Firaun yang mengaku sebagai ilahi sekalipun di selesai hayatnya memunculkan akreditasi yang terlambat dengan menyampaikan “aku beriman dengan Tuhannya Musa dan Harun”. Pengakuan itu berdasarkan Quraish Shihab ialah fitrah beragama yang tetap itu.

Lalu muncul pertanyaan bagaimana dengan orang yang ternyata kini kita temukan tidak beragama dengan agama yang lurus? Nabi sebutkan dalam hadis yang disampaikan oleh Abu Hurairah sebagaimana dikutip al-Suyuthi:

وأخرج البخاري ومسلم وابن المنذر وابن أبي حاتم وابن مردويه عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم " ما من مولود إلا يولد على الفطرة فأبواه يهودانه وينصرانه ويمجسانه كما تنتج البهيمة بهيمة جمعاء هل تحسون فيها من جدعاء ؟ " ثم يقول أبو هريرة رضي الله عنه : اقرأوا ان شئتم فطرة الله التي فطر عليها لا تبديل لخلق الله لذلك الدين القيم
Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, Ibn Munzhir, Ibn Hatim dan Ibn Mardawaih dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda: “Tidak satupun bayi yang terlahir ke dunia ini kecuali atas dasar fitrah. Lalu kedua orang tuanya yang menjadikannya menganut agama yahudi, nashrani atau majusi. Seperti halnya hewan yang lahir sempurna. Apakah kau menemukan ada anggota badannya yang terpotong, kecuali kalau kau yang memotongnya?.” Kemudian Abu Hurairah berkata: bacalah fithratallahi (ayat 30 surat al-Rum).

Dalam hadis ini disebutkan bahwa tidak satu pun bayi yang terlahir ke dunia ini kecuali atas dasar fitrah. Lalu kedua orang tuanya, dalam hal ini sebagai lingkungan terdekat bagi seorang bayi, yang menjadikannya menganut agama Yahudi, Kristen atau Majusi. Orang bau tanah ialah lingkungan pertama yang mengakibatkan anak sanggup menjauhi fitrahnya. Tidak hanya orang tua. Lingkungan, sekolah, kawan, bahkan masyarakat juga besar lengan berkuasa dalam membuat anak akan tetap pada fitrahnya atau menjauhi fitrahnya.

Melalui ayat ini Allah menegaskan bahwa adanya fitrah keagamaan yang perlu dipertahankan oleh manusia. Bukankah awal ayat ini merupakan perintah untuk mempertahankan dan meningkatkan apa yang selama ini telah dilakukan oleh Rasul Saw., yakni menghadapkan wajah ke agama yang benar? Bukankah itu yang dinamai oleh ayat ini sebagai fitrah? Bukankah itu yang ditunjukkannya sebagai agama yang benar? Jika demikian, ayat ini berbicara wacana fitrah keagamaan.

Ayat di atas mempersamakan antara fitrah dengan agama yang benar, sebagaimana dipahami dari lanjutan ayat yang menyatakan “itulah agama yang lurus”. Jika pernyataan ini dikaitkan dengan pernyataan sebelumnya  bahwa Alllah yang telah membuat insan atas fitrah itu, ini berarti bahwa agama yang benar atau agama Islam ialah agama yang sesuai dengan fitrah itu. Juga dipahami bahwa fitrah beragama akan membawa insan kepada agama yang lurus. Ketika ada orang yang tidak beragama sesuai dengan agama yang lurus (al-Din al-Qayyim), itu alasannya ialah ia telah lari menghindar dari fitrahnya. Sebagaimana disebutkan oleh hadis di atas.

Sebagai bukti bahwa adanya fitrah beragama atau fitrah ketauhidan yang diberikan kepada insan ialah dengan adanya kesaksian insan pada dikala sebelum ia dilahirkan ke atas bumi ini. Kesaksian itu ialah menyatakan bahwa Allah sebagai rabb (Tuhan). Bagi kita umat Islam, warta wacana “perjanjian” kesaksian kita dengan Allah itu diinformasikan Allah dalam Surah al-A’raf ayat 172

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي ءَادَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan belum dewasa Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi." (Kami lakukan yang demikian itu) semoga di hari selesai zaman kau tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) ialah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)". (Q.S. al-A'raf/ 7: 172)

Terkait klarifikasi ayat ini kita bahas pada pertemuan yang lain In Sya’a Allah.

Lalu Bagaimana Kaitan Fitrah Dengan Idul Fitri?

Idul fitri ialah hari kemenangan alasannya ialah kita telah mengisi siang dan malam hari Ramadhan dengan puasa dan ibadah sunnah lainnya dengan keyakinan dan ikhlas. Sebagai ganjarannya, Allah ampuni dosa kita yang telah berlalu. Itulah kemenangan yang kita rayakan dengan bertakbir membesarkan Allah, bertahlil mengesakan Allah serta bertahmid memuji Allah.

Idul Fitri atau kembali fitrah idealnya juga ialah kita kembali kepada fitrah bertauhid kita, fitrah kita beragama dan menjalankan aliran agama. Idul fitri ialah kembali menjalankan aliran agama. Idul fitri bukanlah kita yang telah menjalankan aliran agama selama bulan Ramadhan, kemudian kita lupakan aliran itu selepas Ramadhan. Baru akan kembali melakukan aliran agama pada bulan Ramadhan yang akan datang. Ini sejatinya bukanlah Idul Fitri.

Karena fitrah ialah potensi dasar yang diberikan oleh Allah bagi setiap insan untuk bertauhid dan mengenal agama dan selanjutnya sanggup menjalankan agama dengan baik, maka kembali kepada fitrah tentunya kembali melakukan ibadah wajib dan sunnah yang sudah dilaksanakan di bulan Ramadhan. Orang yang telah beridul Fitri tentunya kembali shalat ke masjid, kembali mengaji, berinfak dan berderma, kembali mengikuti pengajian, kembali berpuasa dengan puasa sunnah. Pendek kata, orang yang telah beridul fitri ialah orang yang kembali menegakkan agama dalam dirinya. Bukan malah meninggalkan agama, apalagi malah kembali ke kubangan dosa dan maksiat lagi. Tetapi kebanyakan insan tidak mengetahui. Bunyi ujung ayat 30 surah al-Rum ini.

Hadanallahu wa iyyakum. Billahi taufiq walhidayah, warridho walinayah.  

___
Disampaikan pertama kali untuk pengajian subuh di Masjid Taqwa Muhammadiyah Aceh Tengah pada hari Kamis tanggal 14 Syawal 1439 H/ 28 Juni 2018 M

Minggu, 09 September 2018

Khutbah Idul Fitri 1439 H Prof. Dr. Al Yasa' Abubakar Di Takengon

Khutbah Idul Fitri 1439 H Prof. Dr. Al Yasa' Abubakar Di Takengon

MENINGKATKAN KUALITAS DIRI

MENUJU MASYARAKAT YANG SANTUN, AMANAH DAN SEJAHTERA



                                                                                    Oleh: Al Yasa` Abubakar, Prof. Dr.



(Naskah Khutbah Hari Raya Idul Fitri 1439, Lapangan Kantor Bupati Aceh Tengah, Takengon, Jumat, 15 Juni 2018)





Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdu lillahi rabbil`Alamin; nahmaduhu wa nasta`inuhu, wa nastaghfiruhu min syururi anfusina wamin sayyi’ati a`malina; man yahdihil—Lahu fa la mudhilla lah, waman yudhlilhu fa la hadiya lah.

Ash-shalatu was-salamu `ala Muhammadin-il ladzi bu`itsa li-utammima makarima-l akhlaq, wa `ala alihi wa ashhabihi waman tabi`ahum bi-ihsanin ila yawmi-d din.

Asyhadu alla’ilaha illa-llahu wa asyhadu anna muhammadan Rasulullahi;



Allahu Akbar  Allahu  Akbar  Allahu Akbar;

Allahu Akbar  Allahu  Akbar  Allahu Akbar;

Allahu Akbar  Allahu  Akbar  Allahu Akbar;

Allahu Akbar kabira walhamdu lillahi katsira wa subhanallahi bukrata-w wa ashila;

La-ilaha illallahu wahdahu, shadaqa wa`dahu, wa nashara `abdahu wa a`azza jundahu wa hazama-l ahzaba wahdah.

La-ilaha illallahu wallahu akbar Allahu Akbar walillahi-l hamd.

Puji dan syukur kita persembahkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta`ala; yang Maha Mengatur dan Menjaga Kehidupan dengan penuh perhitungan, yang selalu berbuat adil dan bijaksana; yang Maha Menentukan Nasib dan Membagi Rezeki dengan rahmat dan kasih sayang, yang memperlihatkan nalar dan nafsu kepada insan biar mereka sanggup menentukan jalan lurus yang akan membawa mereka kepada kebahagiaan, dan sanggup menghindarkan diri dari jalan sesat dan buntu yang akan membawa mereka kepada kegagalan dan penyesalan. Puji dan syukur untuk Zat yang menurunkan rahmat dan cobaan, yang memberi tantangan dan peluang, yang mendapatkan taubat tetapi juga menurunkan siksa; Zat yang selalu jaga, selalu mengawasi, tidak pernah tidur, tidak pernah lalai, tidak pernah silap, dan tidak pernah lupa. 

Shalawat dan salam kita sanjungkan kepada junjungan umat;; Nabi Muhammad yang diutus Allah kepada umat insan untuk mengajarkan  akhlak dan sikap yang baik; yang dikirim Allah sebagai rahmat untuk seluruh alam, yang diberi  kitab suci sebagai pedoman untuk mensejahterakan dan membahagiakan insan di dunia dan di akhirat; shalawat dan salam juga kita sampaikan kepada keluarga Rasul dan para Sahabatnya, yang telah berjuang dengan harta dan nyawa untuk membela Rasulullah dalam membuatkan Islam; shalawat dan salam juga kita sampaikan kepada para pengikut ia yang patuh menjalankan aliran Al-qur’an hingga ke kiamat kelak.

Firman Allah dalam Al-qur’an, Al-Baqarah  ayat 185:

Ya Ayyuha-l ladzina amanu kutiba `alaykum-ush shiyamu kama kutiba `ala-l ladzina min qablikum la`allakum tattaqun.

Hadirin dann hadirat jamah shalat Idul Fitri yang berhadir.

Ada beberapa pesan yang tersirat puasa Ramadhan dan hari raya yang perlu kita raih. Namun pada kesempatan kini khatib ingin memusatkan perhatian pada dua buah saja, yang akan kita ulas untuk kita renungkan dan kita upayakan meraihnya. Pertama sekali kemampuan untuk memaafkan dan kemampuan untuk meminta maaf, sehingga setelah puasa dan hari raya ini kita menjadi orang yang higienis dari dosa. Yang kedua, kemampuan untuk menahan diri, menjaga emosi, dan mengendalikan perasaan; termasuk kedalamnya kemampuan untuk merasa selalu diawasi dan keyakinan bahwa semua yang kita kerjakan harus kita pertanggungjawabkan.

Harapannya setelah puasa selesai kita menjadi orang yang lebih berkualitas dari sebelumnya, lebih setia dan lebih bertanggung jawab kepada keluarga, lebih bertanggung jawab dan lebih amanah untuk semua yang dipercayakan kepada kita, dan menjadi lebih terbuka dalam pergaulan; sehingga kehadiran kita selalu memberi rahmat dan mendatangkan manfaat. Marilah kita berusaha biar kehadiran kita tidak mengakibatkan pertengkaran bagi orang di sekeliling kita, kehadiran kita tidak menjadikan keluarga atau masyarakat retak dan bahkan terbelah.

Saya yakin semua kita berharap rangkaian ibadat yang kita lakukan dalam bulan Ramadhan serta saling maaf memaafkan pada hari raya Idul Fitri yang mulia ini, akan menjadikan kita higienis dari dosa kepada Allah dan higienis juga dari dosa kepada sesama manusia. Puasa yang kita lakukan dengan nrimo dan sungguh-sungguh akan menjadikan kita mempoleh derajat taqwa, derajat paling tinggi yang sanggup dicapai seorang muslim dalam hubungannya dengan Khalik sang Pencipta, sesuai dengan ayat yang tadi sudah dibacakan.



Allahu Akbar,  Allahu  Akbar,  Allahu Akbar;

Lailaha illallahu wallahu akbar,  Allahu Akbar walillahi-l hamd.



Ada dua hadis sahih yang akan khatib kutip. Hadis pertama, Nabi bersabda man qama Ramadhana imanan wa-h tisaban ghufira lahu ma taqadama min dzanbihi. Maknanya lebih kurang, barangsiapa melaksanakan puasa dan amalan lainnya (terutama shalat tarawih, witir, sedekah, zakat fitrah) pada bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan kesadaran, maka dia akan memperoleh ampun atas semua dosa masa lalunya. Penuh keimanan artinya melaksanakan puasa dengan sungguh-sungguh karena ingin mematuhi perintah Allah; penuh kesadaran artinya melaksanakannya dengan baik dan benar, sesuai dengan rukun dan syaratnya dan lebih dari itu tidak dicampuri dengan perbuatan-perbuatan dosa. Hadis kedua berunyi, as-shiyamu junnah, fa-la yarfats, wa-la yajhal, wa-in-im ru’un qatalahu aw syatamahu, fa-l-yaqul inni sah’im marratayn. Maknanya, puasa itu mirip perisai (benteng) sehingga orang yang berpuasa tidak mengeluarkan kata-kata kotor atau mencaci maki. Kalau ada orang mengajaknya bertengkar/berkelahi atau mencaci makinya, maka dia hanya menjawab “saya sedang puasa”. Maksudnya jikalau orang melaksanakan puasa dengan benar dan sungguh-sungguh dia tidak akan bertengkar ataupun mengeluarkan kata-kata kotor. Kalau ada orang mengejeknya atau mengajaknya bertengkar, atau mengajaknya berbuat salah, maka dia akan menjawab saya sedang puasa. Tidak akan melayani lebih dari itu.

Menurut dua hadis ini, biar pahala atau nilai tambah dari puasa kita menjadi sempurna, yaitu menghapus dosa masa kemudian dan adanya peningkatan kualitas diri di masa depan, maka kita harus melaksanakan dua hal. Pertama di samping melaksanakan puasa, shalat tarawih, membaca Al-qur’an dan i`tikaf dengan khusyuk, kita juga harus  meminta maaf kepada orang-orang yang pernah kita rugikan atau kita sakiti hatinya secara tidka sah, karena Allah tidak akan mengampuni dosa kepada insan sebelum kita meminta maaf atau dimaafkan oleh orang yang bersangkutan. Kedua, puasa yang kita lakukan beserta rangkaian ibadah lainnya, menjadikan kita lebih mampu, bahkan benar-benar bisa menahan diri dari perbuatan dosa. Kemampuan ini muncul karena puasa yang kita lakukan menjadikan kita semakin yakin bahwa Allah SWT. mengawasi kita secara terus menerus, dan lebih dari itu, pada satu dikala nanti, kita musti mempertanggung-jawabkan semua pekerjaan dan sikap kita.



Allahu Akbar,  Allahu  Akbar,  Allahu Akbar;

Lailaha illallahu wallahu akbar,  Allahu Akbar walillahi-l hamd.

Dosa (termasuk utang) kepada sesama insan tidak akan diampuni oleh Allah Swt. sebelum dimaafkan oleh orang yang bersangkutan. Dosa kepada sesama insan ialah perbuatan-perbuatan yang merugikan orang lain. Ada yang dalam bentuk materil mirip utang yang terlambat dilunasi atau sama sekali tidak dilunasi, mengambil harta atau hak orang lain, seperti memindahkan pagar batas tanah secara tidak sah. Ada yang dalam bentuk moril mirip berlaku tidak adil, menuduh secara salah, mencemarkan nama baik, memanggil seseorang dengan nama atau gelar yang jelek atau tidak dia sukai, berbuat zalim dan aniaya (seperti memakai kekuasaan untuk menghalangi hak atau kesempatan yang seharusnya didapat oleh seseorang) dan sebagainya. Kalau kita terlanjur menciptakan kesalahan kepada seseorang, baik secara sengaja ataupun tidak sengaja, maka kita harus meminta maaf secara patut dan sungguh-sungguh kepada orang yang bersangkutan, dan gres setelah itu kita meminta ampun kepada Allah Swt.

Permintaan ini harus disampaikan secara patut, tulus dan sungguh-sungguh, alasannya ada seruan maaf yang dilakukan seseorang hanya secara basa basi; tidak secara sungguh-sungguh apalagi tulus. Misalnya sekedar bersalaman ketika berjumpa di jalanan atau tempat upacara. Ada juga yang meminta maaf secara serius, tetapi setelah dimaafkan, dia mengulangi kembali kesalahan tersebut. Ada juga orang yang minta maaf dengan setengah memaksa, contohnya denan cara memintanya di depan orang ramai. Kalau kita tidak meminta maaf secara patut, tulus dan sungguh-sungguh atas kesalahan yang kita lakukan kepada seseorang, maka masuk akal sekali sekiranya orang tersebut tidak memaafkannya dan karena itu Allah pun tidak akan mengampuninya, dan itu berarti puasa yang kita lakukan tidak sanggup mengampuni semua dosa masa kemudian kita.

Karena itu khatib mengajak semua kita, biar pada hari baik dan bulan baik ini, semua kita saling berkunjung bersilaturrahim, untuk meminta maaf dan memperlihatkan maaf. Permintaan maaf dan tunjangan maaf yang tulus pertama-tama hendaklah kita minta dan kita berikan kepada  keluarga dekat, orang-orang yang paling banyak bekerjasama dengan kita, orang yang paling kita kasihi dan sayangi, yaitu pasangan hidup serta anak dan orang tua; setelah itu gres kepada kerabat dan tetangga bersahabat lainnya; setelah itu kepada sahabat kerja dan sejawat, kepada handai dan taulan; dan setelah itu kepada semua orang yang pernah bekerjasama dengan kita. Jangan gengsi tidak mau atau aib meminta maaf, begitu juga sebaliknya tidak mau memberi maaf, karena menganggap kedudukan kita lebih tinggi dari orang tersebut.

Kita perlu meminta maaf kepada pasangan hidup dan keluarga dekat, karena biasanya kepada merekalah kita banyak berbuat dosa. Kewajiban kepada merekalah yang mungkin sekali tidak kita penuhi. Hati merekalah yang banyak kita sakiti. Sebagai suami atau ayah, sudahkah kita memperlihatkan nafkah, proteksi dan kasih sayang; begitu juga sebagai isteri atau ibu, sudahkah kita memperlihatkan perhatian, ketenteraman, kasih sayang dan perlindungan. Sudahkah kita berlaku adil kepada semua bawah umur kita; sudahkah kita memperlihatkan teladan dan teladan yang baik kepada mereka; sudahkah kita memperlihatkan motivasi, dorongan dan semangat  sehingga bawah umur kita menjadi orang yang jujur, rajin, suka bekerja keras, suka memaafkan dan bakir berkerja sama. Sudahkah kita berperilaku jujur dan tulus kepada pasangan kita masing-masing; apakah kita selaku suami selalu membawa rejeki yang halal ke rumah kita masing-masing; apakah kita selaku isteri telah mengelola ekonomi rumah tangga dengan hemat; sudahkah kita menjaga diam-diam rumah tangga dengan baik; pernahkah kita membohongi atau mengkhianati pasangan; pernahkah kita memaksa mereka, mengancam mereka, menyakiti hati mereka dan seterusnya. Sudahkah kita memperlihatkan perhatian,bakti dan menyantuni ayah dan ibu serta mertua kita. Sebagai insan tentu kita tidak sempurna. Paling kurang kita melaksanakan kesalahan tersebut secara tidak sengaja. Karena itu kita perlu meminta maaf denan tulus dan sungguh-sungguh.

Satu hal lagi yang sangat penting untuk diingat, setelah kita saling memaafkan, jangan lagi menciptakan dosa gres dengan menyakiti hati orang lain. Jangan lagi memakai kata-kata kasar, jangan memfitnah, jangan membuatkan kabar bohong. Jangan menuduh tanpa alasan yang terperinci dan juga jangan memaksakan kehendak, ingin selalu menang dan tidak mau disalahkan. Tumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang yang tulus kepada pasangan hidup, kepada anak-anak, cucu-cucu, orang renta ataupun mertua; kepada semua kerabat dalam keluarga besar, semua tetangga sekampung, dan semua kolega di tempat kerja.  

Dalam Al-qur’an surat al-Hujurat ayat 10, 11 dan 12, Allah berfirman yang maknanya lebih kurang: Sesungguhnya orang-orang mukmin itu saling bersaudara. Hendaklah kalian mendamaikan saudara kalian yang berselisih. Taatlah kepada Allah, mudah-mudahan kalian akan diberi rahmat.

Wahai orang-orang mukmin, janganlah satu kelompok merendahkan kelompok lainnya. Boleh jadi kelompok yang direndahkan itu lebih baik dari kelompok yang merendahkan. Janganlah seorang wanita merendahkan wanita lainnya, boleh jadi wanita yang direndahkan itu lebih baik dari wanita yang merendahkan. Janganlah kalian mencela sesama mukmin secara sembunyi-sembunyi. Jangan pula kalian memakai panggilan (gelar) yang buruk-buruk. Seburuk-buruk panggilan kepada orang yang beriman ialah panggilan masa jahiliah. Siapa saja yang tidak mau bertaubat dari dosanya maka mereka itu ialah orang-orang yang zalim.







Allahu Akbar,  Allahu  Akbar,  Allahu Akbar;

Lailaha illallahu wahdah shadaqa wa`dah wa nashara `abdahu. Wa a`azza jundahu wa hazama-l ahzaba wahdahu.

Lailaha illa-llahu wallahu Akbar,  Allahu Akbar walillahi-l hamd.

            Untuk pesan yang tersirat yang kedua, puasa yang kita lakukan hendaknya bisa mengakibatkan perasaan dan keyakinan bahwa kita selalu dalam pengawasan dan pada satu dikala nanti wajib mempertanggungjawabkan semua yang kita kerjakan. Puasa hendaknya sanggup mengakibatkan keyakinan pada kita bahwa semua yang kita kerjakan diawasi dan karena itu akan diketahui dan diberi ganjaran. Perbuatan baik akan menerima ganjaran baik dan perbuatan jelek akan menerima ganjaran buruk. Kita musti mempertanggungjawabkan semua sikap dan perbuatan kita. Keyakinan perihal adanya pengawasan dan kewajiban bertanggung jawab seharusnya sanggup menjadikan kita patuh pada peraturan, tidak melaksanakan pelanggaran, tidak mau berbuat curang, tidak mau berbohong, dan seterusnya. Dengan kata lain puasa seharunya menjadikan kita tidak mau dan tidka akan berani melakukan dosa.

            Berbohong dan mengumpat ialah perbuatan dosa; mencuri dan menipu ialah pebuatan dosa, meminum khamar atau mengkonsumsi narkoba ialah perbuatan dosa. Kapan saja dikerjakan, perbuatan-perbuatan di atas akan menjadikan pelakunya berdosa. Tetapi menurut hadis di atas tadi, kalau dilakukan dalam Ramadhan, di samping memperoleh dosa, perbuatan-perbuatan tersebut akan menghilangkan pahala puasa. Kaprikornus orang yang mengumpat dalam bulan Ramadhan, di samping memperoleh dosa karena mengumpat, menjadikan puasa yang dia lakukan kehilangan pahala. Dengan istilah dagang, puasa tersebut tidak memperlihatkan keuntungan, tetapi hanya sekedar pulang modal atau tidak rugi. Dengan kata lain puasa tersebut tidka memperlihatkan nilai tambah kepada pelakunya.

Hikmah yang kedua ini perlu lebih kita renungkan, karena dalam hidup keseharian di tengah masyarakat, masih kita temukan banyak perbuatan jelek mirip penipuan, kecurangan, pungli dan sogok menyogok, banyak sekali kezaliman dan sifat tidak bertanggung jawab, yang pada satu dikala nanti niscaya merugikan diri sendiri, setelah bulan rahmat kita lalui. Dalam watak Gayo ada beberapa sifat jelek yang seharusnya kita hindari, tetapi masih kita temukan di tengah masyarakat, mirip suka mencampuri urusan orang lain, coco, celo, sifat pengecut, geson, peterih, sifat pemalas, merke, tayuh, suka lepas tangan dan tidka mau bertanggungjawab, nume aku, gere mukemel.

Menurut khatib, berpengaruh dugaan seseorang berani melaksanakan perbuatan buruk, berani melanggar hukum, tidka takut kepada dosa, ialah karena dua hal. Pertama dia tidak pernah diajari dan karena itu tidak tahu bahwa dia selalu diawasi dan pada satu dikala nanti musti mempertanggung jawabkan semua pekerjaan dan perilakunya. Kedua, sebagai akhir dari yang pertama keimanan atau keyakinan bahwa dia diawasi dan musti mempertanggung jawabkan semua pekerjaannya, relatif rendah dan bahkan tidak ada sama sekali. Kaprikornus dia tidka yakin bahwa perbuatan jelek yang dia lakukan pada balasannya nanti niscaya menerima jawaban jelek dan perbuatan baik yang dia lakukan pada balasannya nanti niscaya menerima jawaban baik. Dengan dua alasannya ini, walaupun kita katakan kepada seseorang bahwa dia diawasi dan akan dieksekusi jikalau berbuat salah, dia tidak akan takut karena tidak tahu dan lebih parah lagi dia tidka takut karena tidka percaya.

Menurut khatib kita perlu mengajar, mendidik dan menanamkan keyakinan yang berpengaruh kepada generasi muda kita bahwa insan dalam hidup selalu diawasi dan pada satu dikala nanti musti mempertanggungjawabkan semua sikap dan perbuatannya, dan akan diberi imbalan sesuai dengan perbuatan tersebut. Firman Allah dalam surat al-Zilzalah:

Fa man ya`mal mitsqala dzarratin khayran yarah wa man ya`mal mitsqala dzarratin syarran yarah.



Allahu Akbar,  Allahu  Akbar,  Allahu Akbar;

Lailaha illallahu wallahu Akbar,  Allahu Akbar walillahi-l hamd

Khatib melalui khutbah singkat ini mengajak semua jamaah untuk merenung dan berpikir, apa yang perlu dan sebaiknya kita lakukan bagi bawah umur dan cucu-cucu kita para generasi muda, biar mereka memiliki keyakinan yang berpengaruh bahwa mereka selalu diawasi dan pada satu dikala nanti musti mempertanggungjawabkan semua pekerjaan dan perilakunya. Perilaku baik akan menerima imbalan baik dan sikap jelek akan menerima imbalan buruk.   

Pembentukan kebiasaan dan penanaman sifat-sifat, apakah yang akan ditanam tersebut sifat yang baik ataupun sifat yang buruk, lumrahnya selalu terjadi secara berangsur-angsur, dimulai dari masa kanak-kanak di tengah keluarga, yang lantas diperkuat oleh sekolah dan disempurnkan oleh masyarakat. Begitu juga perasaan dan keyakinan pada seseorang bahwa dia selalu diawasi dan musti mempertanggung-jawabkan semua yang sudah dia kerjakan, musti diajarkan dan dicontohkan kepada mereka semenjak masa kanak-kanak di dalam keluarga, diperkuat oleh sekolah dan dimatangkan oleh masyarakat.

Karena dianggap penting, Khatib mohon izin, untuk memperlihatkan sebuah ilustrasi mengenai cara menanamkan nilai dan keyakinan bahwa semua kita diawasi dan semua pekerjaan dan sikap kita akan dimintai pertanggunganjawab. Mungkin semua orang renta memperlihatkan jajan kepada anaknya setiap pagi hari ketika anaknya pergi ke sekolah. Tetapi apakah kita pernah bertanya kepada anak kita bagaimana dan untuk apa uang tersebut dia gunakan. Menurut khatib dengan cara ini kita sudha mengajari dan memberi tahu anak bahwa dia diawasi dan musti memberi klarifikasi atas pekerjaan yang dia lakukan. Pekerjaan menanyakan uang jajan bisa kita lanjutkan dengan menanyakan pelajaran sekolah, menilik tugas-tugas, buku-buku dan isi tas, meminta anak bercerita perihal kegiatan harian dan temannya bermain, penggunaan HP dan sebagainya. Syukur jikalau kita sudah pernah melakukannya, apalagi jikalau menanyakannya secara rutin. Tetapi jikalau ada ayah dan ibu yang belum melakukannya khatib menghimbau biar hal itu dilakukan. Anak tidak akan menolak jikalau hal ini sudah dilakukan semenjak anak kelas satu MIN atau SD. Tapi dia akan terkejut dan mungkin menolak jikalau kegiatan ini dilakukan secara tiba-tiba, ketika dia sudah di kursi SMU atau MAN. Si anak akan merasa kebebasannya terganggu. Si anak akan merasa bahwa ayah dan ibunya tidak berhak menilik tas sekolah atau barang milik pribadinya. Lebih dari itu mungkin sekali si anak akan sangat terkejut dan bahkan tidka siap sama sekali ketika ketika pengawasan baru dia terima sesudah sesudah dia dewasa, ketika dia bekerja, dilakukan oleh atasannya.



Allahu Akbar,  Allahu  Akbar,  Allahu Akbar;

Lailaha illallahu wallahu Akbar,  Allahu Akbar walillahi-l hamd.

Hadirin hadirat Jamaah Idul Fitri yang  dirahmati Allah.

Di pihak lain ada orang renta yang membiarkan anaknya mengambil uang lebih ketika disuruh membeli sesuatu. Ayah atau ibu merasa puas ketika anak menyerahkan barang yang tadi disuruh dia beli sehingga tidak bertanya kepada anak berapa harga barang yang dia beli dan berapa sisa uangnya. Ayah atau ibu tidak meminta anak menyerahkan uang sisa tersebut, mungkin menganggapnya “sebagai upah” atau mengagapnya tidak apa-apa, karena jumlahnya relatif kecil/sedikit. Menurut khatib, perbuatan ini jikalau sering dilakukan sehingga menjadi semacam kebiasaaan, maka secara tidak pribadi sudah mengajari anak untuk tidak amanah, yaitu boleh mengambil sisa uang apabila pekerjaan sudah dilakukan.

Ilustrasi di atas bisa dilanjutkan dengna banyak teladan lain, bagaimana orang renta secara sadar atau tidka telah mengajari anaknya untuk merasa tidak akan diawasi dan tidak perlu mempertanggungjawabkan sikap dan perkerjaan yang dipercayakan kepadanya. Dengan kata lain, anak tersebut telah diajari bahkan dibiasakan untuk boleh tidka amanah. Pada tataran selanjutnya, kebiasaan ini akan menjadikan anak merasa boleh membiarkan pekerjaannya terbengkalai, boleh ditinggalkan secara begitu saja dan dia tidak akan peduli  apakah perbuatan itu akan merugikan orang lain atau tidak. 

Kalau hal ini terbentuk menjadi kebiasaan di tengah masyarakat, maka banyak sekali penyakit masyarakat akan muncul, mirip kebiasaan untuk berbuat curang, menipu, mencuri, hingga kepada terjadinya keretakan rumah tangga yang akan berujung pada perselingkuhan, perceraian dan penelantaran anak-anak.

Kalau sikap jelek di atas sudah menjadi sifat dan kebiasaan seseorang, maka puasa Ramadhan tidak akan bisa menjadi penangkal yang sanggup mengubah orang tersebut dari berperilaku jelek menjadi berperilaku baik secara tiba-tiba. Menurut penulis puasa Ramadhan akan memperlihatkan nilai tambah, akan sanggup membangun dan mengarahkan seseorang meningkatkan kualitas diri dan setelah itu kualitas masyarakat menjadi masyarakat yang santun amanah dan sejahtera, apabila arah pendidikan dan pembentukan nilai di dalam keluarga dan masyarakat telah sejalan dengan cita-cita Al-qur’an. Kalau pendidikan tidka diarahkan dan kebiasaan di dalam masyarakat dibiarkan liar tidak terkendali, maka salah satu pesan yang tersirat dan tujuan berpuasa, yaitu terbentuknya masyarakat yang santun dan amanah menuju masyarakat yang sejahtera sukar akan tercapai.



Allahu Akbar,  Allahu  Akbar,  Allahu Akbar;

Lailaha illallahu wallahu akbar,  Allahu Akbar walillahi-l hamd.

Untuk memperbaiki keadaan ini, harus ada upaya sungguh-sungguh dari Pemda gotong royong dengan masyarakat secara keseluruhan, terutama sekali keluarga sebagai elemen terkecilnya. Harus disusun planning kerja yang menyeluruh dan berkelanjutan yang terperinci langkah dan tahapannya mengenai bagaimana menanamkan keyakinan kepada semua warga, bahwa semua orang diawasi dan semua orang akan dimintai pertanggungan jawab atas pekerjaan dan perilakunya. Harus kita tanamkan keyakinan, bahwa kita sepatutnya merasa berdosa karena membiarkan bawah umur kita menjadi liar tanpa tuntunan dan moral agama. Sepatutnya kita merasa berdosa kerena melahirkan generasi masa depan yang kurang bakir dan lemah, yang tidak bisa mengatur dirinya sendiri. Sepatutnya kita aib kepada saudara-saudara kita di daerah dan negeri lain, karena kita tidka bisa menyiapkan generasi yang siap bertanding dan bersaing untuk menjalani kehidupan, yang berpengaruh dugaan akan semakin kompetitif dan keras. Kita harus aib karena bawah umur kita yang sangat potensial karena relatif cerdas dan rajin, yang relatif sehat-sehat karena lahir dan dibesarkan di negeri yang subur dan kaya ini, menjadi tersia-siakan di tangan para orang renta yang kurang bertanggung jawab, di tangan masyarakat yang tidak peduli, di tangan pemerintah tempat yang kurang memberi perhatian. Semua kita harusnya resah karena harus  mempertanggung-jawabkan kesalahan dan ketiak-pedulian ini di depan Allah di hari alam abadi nanti.

Allah berfirman dalam An-Nisa’ ayat 9 yang maknanya lebih kurang, Para orang renta hendaknya takut kepada Allah apabila nanti mereka meninggalkan generasi muda yang lemah, yang dikuatirkan tidak akan bisa mensejahterakan diri mereka. Oleh alasannya itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar lagi tepat. Melalui ayat ini Allah memberi peringatan, bahwa kita selaku orang renta (generasi sekarang) harus merasa kuatir dan was-was sekiranya generasi muda kita menjadi oang-orang yang tidak bisa mensejahterakan dirinya.

Dalam Ar-Ra`d ayat 11 ditemukan firman yang maknanya lebih kurang, Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib (keadaan) suatu kaum/bangsa kecuali mereka mengubah apa yang ada dalam dada/hatinya terlebih dahulu. Allah tidak akan mendukung perubahan yang diusahakan oleh suatu bangsa sebelum mereka melaksanakan perubahan sikap mental (nilai budaya) kea rah yang baik terlebih dahulu.

Dalam surat Al-Hasyr ayat 18 Allah berfirman yang maknanya lebih kurang, Wahai orang-orang mukmin, taatlah kepada Allah. Hendaklah setiap orang menyiapkan diri untuk masa depan (merencanakan masa depannya). Taatlah kepada Allah. Allah Maha Mengetahui apa yang kalian lakukan. Kalau kita menginginkan kebahagiaan, kemuliaan dan kemampuan untuk bersaing dengan masyarakat lain, maka kita harus menyiapkan dan merencanakan masa depan kita dengan baik dan sungguh-sungguh.



Allahu Akbar  Allahu  Akbar  Allahu Akbar;

Lailaha illallahu wallahu akbar Allahu Akbar walillahi-l hamd.

Salah satu hikmah puasa yaitu membentuk masyarakat yang santun, amanah dan sejahtera dapat kita jadikan sebagai pintu masuk untuk mengetuk kesadaran hati nurani kita. Pada tingkat keluarga kita mulai dengan saling memaafkan, setelah itu kita iringi dengan menumbuhkan kesetiaan dan tanggung jawab, menghidupkan kepercayaan dan kasih sayang, dan mengupayakan keterbukaan, saling mendapatkan serta saling membantu antar pihak di dalam keluarga. Pada tingkat masyarakat kita mulai dengan menumbuhkan kepedulian dan kebernaian untuk menegur dan mengingatkan secara baik-baik para remaja yang berbuat salah di wilayah kita dan mengawasi bahkan jikalau perlu menutup semua tempat yang berpotensi menjadikan bawah umur dan remaja kita terperosok ke dalam perbuatan salah, melanggar aturan aturan dan agama, yang akan merusak kesehatan, serta menjadikan mereka tertinggal dalam pendidikan. Pada tingkat Pemda perlu tindakan yang tegas dan berkesinambungan dalam bentuk amar makruf dan nahi munkar. Maksudnya Pemda perlu mendorong sikap dan kegiatan yang faktual serta menindak secara tegas kegiatan dan sikap yan negatif atau berpotensi menjadikan bawah umur muda kita sebagai orang yang lemah yang setelah remaja nanti tidak bisa mandiri.



Alhamdu lillahi rabbil`Alamin; Nahmaduhu, wa Nasta`inuhu, wa Nastaghfiruhu wa natubu ilayh.

Ash-shalatu was-salamu `ala Muhammadin asyrafil anbya’i wa-l mursalin wa `ala alihi wa ashhabihi waman tabi`hum bi-ihsanin ila yawmi-d din.

Asyhadu allailaha illa-llahu wa ashhadu anna muhammadan Rasulullahi;

Ibadallah ushikum wa iyyaya bitaqwa-llahi fa qad faza-l muttaqun.

Ya Ayyuha-l ladzina amanu qu anfusakum wa ahlikum naran wa quduha-n nasu wa-l hijarah; `alayha malaikatun ghiladzun syidadun la ya`shuna-llaha ma amarahum wa yaf`aluna ma yu‘marun. At-Tahrim ayat 6.

Wahai orang yang  beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari siksa api neraka, yang materi bakarnya ialah insan dan kerikil (berhala). Malaikat yang kekar lagi agresif menjaganya. Mereka tidak pernah menyalahi perintah yang diberikan Allah kepada mereka, dan sebaliknya mereka senantiasa melaksanakan perintah-Nya.



Allahu Akbar  Allahu  Akbar  Allahu Akbar;

Allahu Akbar  Allahu  Akbar  Allahu Akbar;

Allahu Akbar  Allahu  Akbar  Allahu Akbar;

Allahu Akbar kabira walhamdu lillahi katsira wa subhanallahi bukrata-w wa ashila;

shadaqa wa`dahu, wa nashara `abdahu wa a`azza jundahu wa hazama-l ahzaba wahdah.

Lailaha illallahu wala na`budu illa iyyahu mukhlishina lahu-ddin.

Lailaha illallahu wallahu akbar Allahu Akbar walillahi-l hamd.



Ya Allah bukakanlah hati kami untuk saling memaafkan, saling menghargai dan saling menghormati. Ya Allah dekatkanlah hati kami sehingga kami saling bersilaturrahim dan selalu memperkuat ukhuwwah diantara kami. Ya Allah yang Maha Bijaksana jadikanlah keluarga kami keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah; jadikan kami orang yang bisa membesarkan bawah umur kami dengna cinta dan kasih sayang, jauhkan kami dari sifat memanjakan atau tidka peuli terhadap anak-anak.   

Beri kami kemampuan untuk berperilaku ekonomis tapi pemurah dan hindarkan kami dari perilaku boros atau kikir. Ya Allah berilah kekuatan dan kemampuan kepada kami untuk meningkatkan kualitas hidup dan sanggup mengamalkan semua perintah-perintah Mu. Ya Allah beri kami kecerdasan dan bukakan mata hati kami sehingga sanggup mendidik dan membesarkan bawah umur kami sesuai dengan aliran dan tuntunan Mu. Ya Allah mudahkanlah rezeki kami dan beri kekuatan kepada kami untuk menggunakannya secara hemat. Ya Allah jadikanlah kami orang-orang yang gigih dalam  belajar dan berusaha serta tabah dalam mendapatkan cobaan dan penderitaan.

Ya Allah, jauhkanlah dari kami sifat dengki dan iri hati. Hindarkan kami dari sifat besar kepala dan tinggi hati. Jauhkan kami dari sifat malas, tamak dan cepat merasa puas.  Ya Allah kami berlinduug kepada Mu dari sifat zalim dan aniaya, dari sifat penjilat dan cari muka, dari sifat pengecut dan khianat.

Ya Allah jadikanlah pemimpin kami orang-orang yang bertanggung jawab, jujur dan amanah yang terhindar dari korupsi; yang sungguh-sungguh menjalankan jadwal dan memiliki visi berjangkauan jauh ke depan untuk mensejahterakan masyarakat dan penduduk di kabupaten ini. Ya Allah ya Tuhan kami kepada Mu kami persembahkan bakti, kepada Mu kami minta pertolongan dan kepada Mu pula kami berserah diri.

Allahumma-ghfir lilmuslimina wa-l muslimat wa-l mukminina wa-l mukminat, al-ahya’i minhum wa-l amwat innaka sami`un qaribun mujib-ud dakwat wa qadhiy-al hajat; rabbana atina fid-dunya hasanah wa fi-l akhirati hasanah wa qina adzaba-n nar.

Selamat hari raya, mohon maaf lahir dan batin, taqabbalallahu minna wa minkum; kullu `am wa antum bikhayr.

Assalamu alaikum warahamtullahi wa barkatuh.



                        Banda Aceh, 08 Juni 2018 M, bertepatan 23 Ramadhan 1439 H.


_____________________



Disebarkan atas izin dari Prof. Al Yasa' Abubakar.


Baca juga Penyampaian Prof Al Yasa' Abubakar perihal hal berikut ini:

- Peran Ulama Dalam Penguatan Ekonomi Ummat

- Tiga Model Pemahaman Keagamaan

- Kedudukan Perempuan Menurut Model Pemahaman Tajdid