Selasa, 25 September 2018

Bidadari Sebening Mata


Sebuah kisah seorang cowok berumur 15tahun. Seorang cowok darah biru kaya raya,ia telah ditinggalkan mati oleh ayahnya dan memperoleh harta warisan yang sangat banyak.

Pada suatu hari ia mengikuti majelis pengajian yang diadakan oleh Syekh berjulukan Abdul Wahid.Di dalam majelis itu ada seorang penerima pengajian yang membacakan Al Qur'an, ayat 111 surat At-Taubah: "Sesungguhnya Allah telah membeli diri orang mukminin, jiwa dan harta mereka dengan bayaran jannah (surga)".
Lalu cowok tadi berkata : "Ya Abdul Wahid, sungguh Allah telah membeli dari kaum mukminin jiwa dan harta mereka, dan akan dibayar dengan jannah? Jawabku, "Ya, benar hai anakku tercinta," Lalu ia berkata, "Ya, Abdul Wahid, saksikanlah bahwa saya telah menjual diri dan hartaku untuk menerima jannah!"

Maka saya katakan kepadanya, "Sesungguhnya tajamnya pedang itu berat dihadapi, dan kau masih anak-anak, dan saya khawatir kalau-kalau kau tidak tabah, tidak sabar sehingga mereka tidak berpengaruh melanjutkan usaha itu." Pemuda itu menjawab,"Aku menjual diri kepada Allah untuk menerima Jannah, kemudian lemah?? Saksikanlah sekali lagi bahwa saya telah menjual diriku kepada Allah." Karena itu kami merasa malu, anak kecil sanggup berbuat demikian, sedang kami tidak, maka cowok itu segera menyedekahkan semua hartanya kecuali kuda dan pedangnya, dan sekedar harta untuk bekalnya.

Dan dikala telah tiba masa keberangkatan pasukan, maka dialah yang pertama-tama tiba dan mengucapkan,"Assalaamu`alaika ya Abdul Wahid". Jawabku,"Wa`alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh, biar Allah menunjukkan laba dalam jualanmu".

Kemudian dalam perjalanan maka cowok itu selalu puasa di waktu siang dan bangkit malam dan menjaga kami di waktu malam, dan melayani keperluan-keperluan kami di waktu siang, bahkan ia merangkap memelihara ternak kami sehingga sampailah kita diperbatasan Negeri Rum.

Tiba-tiba pada suatu hari ia tiba terburu-buru sambil berseru, “Alangkah rinduku pada Al-Aina Al-Mardhiyah .. !!", sehingga banyak orang menyangka mungkin ia terganggu ingatannya.

Maka saya sambut ia,"Wahai anakku tercinta, siapakah Al-Aina Al-Mardhiyah?" jawabnya, "Aku tadi tertidur sebentar, tiba-tiba saya mimpi ada orang tiba kepadaku dan berkata, "Mari saya bawa kau kepada Al-Aina Al-Mardhiyah," kemudian saya dibawa ke suatu kebun di tepi sungai yang airnya jernih segar, dan di sana banyak gadis-gadis manis yang lengkap dengan tambahan yang tidak sanggup saya katakan.Dan dikala melihat kepadaku, mereka merasa besar hati dan berkata, "Itulah suami Al-Aina Al-Mardhiyah, maka saya ucapkan,"Assalamu`alaikum apakah disini kawasan Al-Aina Al-Mardhiyah?".Mereka menjawab,"Kami hamba dan pelayan, teruslah berjalan ke depan."

Kemudian saya teruskan perjalanan tiba-tiba bertemu dengan sungai susu yang tidak berubah rasanya ditengah-tengah kebun(taman),juga dikelilingi gadis-gadis sangat cantik, dan dikala mereka melihatku,langsung berkata, "Demi Allah itulah suami Al-Aina Al-Mardhiyah telah tiba, kemudian saya salam, "Assalamu`alaikum, apakah ada diantara kau Al-Aina Al-Mardhiyah?" kemudian mereka berkata, "Kami hanya hamba dan
pelayan-pelayannya, silahkan maju terus.".

Tiba-tiba saya bertemu dengan sungai anggur disuatu lembah yang juga dipakai sebagai kawasan bersuka ria gadis-gadis yang sangat manis molek, sehingga saya lupa kecantikan gadis-gadis sebelumnya. Akupun mengucapkan, "Assalamu`alaikum, apakah ada diantara kalian Al-Aina Al-Mardhiyah?". "Tidak, kami hanya hamba dan pelayannya, teruskan jalan ke depan," jawab mereka.

Tiba-tiba saya bertemu dengan sungai madu dan kebunnya yang penuh dengan gadis-gadis cantik, yang kecantikannya bagaikan cahaya, maka saya ucapkan, "Assalamu`alaikum, apakah di sini ada Al-Aina Al-Mardhiyah?".Mereka menjawab, "Ya Waliyallah, kami hamba dan pelayannya,majulah terus."

Dan dikala saya berjalan tiba-tiba saya bertemu kemah dari permata yang berlubang, dan di muka kemah itu ada gadis penjaga pintu yang sangat manis dan lengkap dengan perhiasannya. Maka dikala ia melihatku, ia besar hati dan segera berseru, wahai Al-Aina Al-Mardhiyah, inilah suamimu telah datang, maka pribadi saya mendekat ke kemah itu. Tiba-tiba ia sedang duduk diatas kawasan tidur emas yang
bertaburkan permata yaqut dan berlian,dan dikala melihatnya benar-benar saya terpesona lantaran kecantikannya.

Lalu ia menyambut saya dengan kalimat, "Marhaban bin Waliyir rahman, sudah hampir (dekat) pertemuan kita." Maka saya pribadi akan mendekapnya, tetapi ia berkata, "Sabarlah dahulu, belum masanya, lantaran kau masih hidup di dunia, tetapi malam ini kau berbuka puasa disini, Insya Allah."

Kemudian saya bangkit dari tidurku itu, hai Abdul Wahid,dan rasa-rasanya saya tidak sabar lagi.Abdul Wahid berkata,”Maka belum final ia melanjutkan ceritanya tiba-tiba terlihat pasukan musuh, maka kami pergi menyerangnya bahu-membahu cowok itu, dan saya perhatikan ia telah membunuh sembilan orang kafir, maka segera saya pergi melihatnya, tiba-tiba ia tersenyum dengan berlumur darah sehingga ia meninggal dunia (Rahimahullah)."

Dikutip dari : Abu Laits As Samarqandi, Tanbihul Ghofilin hal 1004-1009

Dan (di dalam nirwana itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli, (Al Qur'an, Surat 56 : 22)
Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi manis - cantik.Bidadari-bidadari yang jelita, putih higienis dipingit dalam rumah.
Mereka tidak pernah disentuh oleh insan sebelum mereka dan tidak pula oleh jin.
(Al Qur'an, Surat 55 : 70,72,74)

0 komentar

Posting Komentar