Kamis, 13 September 2018

Iman, Amanah Dan Rasa Aman

Iman, Amanah Dan Rasa Aman

Puasa diwajibkan kepada orang yang beriman. Tidak hanya puasa, ibadah umumnya diwajibkan kepada orang yang beriman. Perintah berwudu’, perintah salat, ber-Islam secara kaffah, menjaga diri dari hal-hal yang menjerumuskan ke dalam neraka, semua itu diperintahkan kepada orang beriman. Bahkan, dalam urusan muamalah menyerupai perintah mencatat hutang-piutang yang disebutkan dalam ayat terpanjang dalam Quran yaitu orang yang beriman.

Bagaimana Kita Memaknai Iman?
Iman dalam bahasa arab berasal dari akar kata amana. Terdiri atas tiga aksara alif/ hamzah, mim dan nun. Ada dua makna dasar kata ini yaitu pembenaran dan ketenangan hati. Orang beriman secara bahasa berarti orang yang membenarkan. Orang yang beriman secara bahasa berarti orang yang hatinya tenang dan tenteram alasannya yaitu keimanannya.
Ulama mendefinisikan iman berbeda-beda. Ada minimal tiga komponen yang terdapat dalam iman menurut definisi yang umum dan terkenal dipakai. Komponen pertama, Atashdiqu bil Qolbi, pembenaran dalam hati. Sejalan dengan makna dasarnya di atas bahwa iman yaitu pembenaran ihwal yang diimani itu dalam hati. Komponen Kedua, al-Iqraru billisani, pernyataan keimanan dengan ucapan. Ketiga, al-Amalu bil Arkan atau biljawarih, pernyataan dan pembenaran iman itu diwujudkan berupa perbuatan, perlakuan yang biasa disebut amal kebajikan.

Puasa yang kita lakukan yaitu perwujudan dari pembenaran terhadap perintah syara’. Salat yang kita lakukan juga yaitu bukti kita membenarkan adanya Allah yang menurunkan syariat salat. Mencatat hutang-piutang dalam urusan muamalah—sebagai ibadah yang jarang kita lakukan dan mungkin dalam hal ini hanya “diamalkan” oleh perbankan, koperasi, atau bahkan pihak rentenir—juga merupakan perwujudan keimanan.
Pendek kata, mengamalkan Islam secara totalitas, sempurna, kaffah, tanpaknya hanya sanggup dilakukan dengan iman. Ibadah itu hanya sanggup dilakukan oleh orang beriman. Ya Ayyuhallazina Amanu Udkhulu fissilmi kaffah. Hai orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara sempurna. Bahkan dalam ayat lain yang diperintah bertakwa itu orang yang beriman. Karena takwa itu ndak sanggup dilakukan kecuali oleh orang beriman. Ya Ayyhullazina amanu ittaqu rabbakum. Inna zalzalatis’sa’ati syai’un Azhimun. Ya Ayyhullazina amanu ittaqullaha wal tanzhur nafsun maa qaddamat li ghad.

Apa Hubungan Iman dengan Amanah dan Rasa Aman
Kembali kepada makna dasar iman yang kita sebutkan sebelumnya. Kata ini berasal dari akar kata amana. Kata lain yang juga berasal dari kata ini di antaranya yaitu amanah dan aman.

Dalam sebuah hadis Riwayat Ahmad bin Hanbal dalam kitab Musnadnya dari Anas bin Malik, Rasulullah bersabda لاَ إِيمَانَ لِمَنْ لاَ أَمَانَةَ لَهُ، وَلاَ دِينَ لِمَنْ لاَ عَهْدَ لَه, tidak ada iman bagi orang yang tidak amanah dan tidak ada agama bagi orang yang tidak memenuhi janjinya. Sanad hadis ini ada yang menilainya shahih dan ada yang menilai dhoif alasannya yaitu terdapat Abu Hilal Al-Rasibiy yang dinilai dha’if dan Qatadah bin Di’amah yagn dinilai sebagai mudallis. Ada bayak syahid dan tabi’ bagi hadis ini, umunya menyebut لاَ إِيمَانَ لِمَنْ لاَ أَمَانَةَ لَهُ tanpa وَلاَ دِينَ لِمَنْ لاَ عَهْدَ لَه.
Poin yang ingin kita sampaikan bahwa ada keterkaitan iman dengan aspek sosial seorang yang menyatakan dirinya mukmin. Dalam konteks amanah, orang beriman yaitu orang yang amanah. Muhammad sebelum menjadi Nabi dan Rasul digelari dengan al-Amin, seorang yang amanah, jujur dan sanggup dipercaya. Benang merah makna iman di atas yaitu adanya pembenaran terhadap apa yang diimani itu sehingga memunculkan rasa tenang, nyaman bagi orang yang memberi amanah.

Kita yang diberi amanah yaitu orang yang beriman. Ketika kita menjalankan amanah—amanah kepemimpinan, jabatan, kepercayaan sebagai pengurus sesuatu dan lain-lain apa pun bentuknya amanah itu—kita jalankan dengan baik, maka muncul rasa nyaman dan tenang serta adanya kepercayaan bagi orang lain yang menawarkan amanah itu kepada kita.
Dalam konteks puasa, mukmin yang berpuasa seyogyanya yaitu orang yang terpercaya dan menandakan kepada orang lain bahwa beliau layak diberi kepercayaan

Selanjutnya kaitan iman, amanah dengan rasa kondusif yang akhir-akhir ini mulai terusik. Dalam hadis Muttafaqun Alaihi dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:
"واللَّهِ لاَ يُؤْمِنُ، واللَّهِ لاَ يُؤْمِنُ،"قِيلَ: منْ يارسولَ اللَّهِ؟ قَالَ:"الَّذي: لاَ يأْمنُ جارُهُ بَوَائِقَهُ،"
Tidak tepat keimanan seseorang yang tetangganya tidak kondusif dari tingkah lakunya. Rasa kondusif dalam kehidupan bermasyarakat juga merupakan perwujudan dari keimanan. Ibadah ritual kepada Allah belumlah merupakan bentuk totalitas keimanan. Betul ibadah shalat dan puasa yang kita lakukan yaitu perwujudan keimanan, tapi itu saja belum cukup menandakan kita sepenuhnya beriman jikalau tetangga kita masih belum kondusif dari tingkah polah dan tindak tanduk kita.

Contoh lain hadis nabi yang megatakan iman kepada Allah dan hari simpulan disyaratkan dengan bertutur kata yang baik, memuliakan tetangga dan tamu.
من كان يؤمن بالله واليوم الآخر ، فليقل خيرا أو ليصمت ، ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر ، فليكرم جاره ، ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر ، فليكرم ضيفه
Hadis lain juga menyebutkan

لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحبه لنفسه
Mencintai orang lain menyerupai menyayangi diri kita sendiri. Hadis ini menyerukan kepada kita supaya kita punya standar yang sama, tidak standar ganda dalam memperlakukan orang lain. Filosofi cubit tangan sendiri. Jika sakit terasa oleh kita, maka sakit juga berarti kalau kita cubit orang lain. Jika tidak mau diganggu oleh orang lain, maka jangan ganggu orang lain. Untuk mewujudkan keamanan dan ketenteraman mesti didasari dengan iman. Tidak tepat iman seorang mukmin jikalau belum menyayangi hal lain sebagaimana beliau menyayangi dirinya atau apa yang ada pada dirinya sendiri.

Dalam konteks rasa kondusif yang akhir-akhir ini mulai terusik, maka sanggup dikatakan bahwa perbuatan apa pun yang mengancam rasa kondusif sejatinya tidak dilakukan oleh seorang yang mengaku dirinya sebagai mukmin.
Allah menyebut satu di antara namanya dalam surah al-Hasyr sebagai almu’min, pemberi rasa aman. Jika seorang mukmin yang benar-menar meneladani Allah dalam sifatnya al-mukmin, maka seyogyanya setiap langsung mukmin mewujudkan rasa kondusif dan nyaman di mana pun ia berada. Karena perwujudan rasa kondusif bagi dirinya, orang lain dan lingkungannya yaitu bab dari bukti keimanan seseorang. Belum tepat iman seseorang jikalau belum menawarkan rasa aman, nyaman, tenteram dan kedamaian bagai semua.

_____
Dibuat untuk disampaikan pertama kali dalam pengajian bulan berkat di Mesjid Kota Takengon pada hari Senin 13 Ramadhan 1439 H/ 28 Mei 2018 M
Iman, Amanah Dan Rasa Aman

Iman, Amanah Dan Rasa Aman

Puasa diwajibkan kepada orang yang beriman. Tidak hanya puasa, ibadah umumnya diwajibkan kepada orang yang beriman. Perintah berwudu’, perintah salat, ber-Islam secara kaffah, menjaga diri dari hal-hal yang menjerumuskan ke dalam neraka, semua itu diperintahkan kepada orang beriman. Bahkan, dalam urusan muamalah menyerupai perintah mencatat hutang-piutang yang disebutkan dalam ayat terpanjang dalam Quran yaitu orang yang beriman.

Bagaimana Kita Memaknai Iman?
Iman dalam bahasa arab berasal dari akar kata amana. Terdiri atas tiga aksara alif/ hamzah, mim dan nun. Ada dua makna dasar kata ini yaitu pembenaran dan ketenangan hati. Orang beriman secara bahasa berarti orang yang membenarkan. Orang yang beriman secara bahasa berarti orang yang hatinya tenang dan tenteram alasannya yaitu keimanannya.
Ulama mendefinisikan iman berbeda-beda. Ada minimal tiga komponen yang terdapat dalam iman menurut definisi yang umum dan terkenal dipakai. Komponen pertama, Atashdiqu bil Qolbi, pembenaran dalam hati. Sejalan dengan makna dasarnya di atas bahwa iman yaitu pembenaran ihwal yang diimani itu dalam hati. Komponen Kedua, al-Iqraru billisani, pernyataan keimanan dengan ucapan. Ketiga, al-Amalu bil Arkan atau biljawarih, pernyataan dan pembenaran iman itu diwujudkan berupa perbuatan, perlakuan yang biasa disebut amal kebajikan.

Puasa yang kita lakukan yaitu perwujudan dari pembenaran terhadap perintah syara’. Salat yang kita lakukan juga yaitu bukti kita membenarkan adanya Allah yang menurunkan syariat salat. Mencatat hutang-piutang dalam urusan muamalah—sebagai ibadah yang jarang kita lakukan dan mungkin dalam hal ini hanya “diamalkan” oleh perbankan, koperasi, atau bahkan pihak rentenir—juga merupakan perwujudan keimanan.
Pendek kata, mengamalkan Islam secara totalitas, sempurna, kaffah, tanpaknya hanya sanggup dilakukan dengan iman. Ibadah itu hanya sanggup dilakukan oleh orang beriman. Ya Ayyuhallazina Amanu Udkhulu fissilmi kaffah. Hai orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara sempurna. Bahkan dalam ayat lain yang diperintah bertakwa itu orang yang beriman. Karena takwa itu ndak sanggup dilakukan kecuali oleh orang beriman. Ya Ayyhullazina amanu ittaqu rabbakum. Inna zalzalatis’sa’ati syai’un Azhimun. Ya Ayyhullazina amanu ittaqullaha wal tanzhur nafsun maa qaddamat li ghad.

Apa Hubungan Iman dengan Amanah dan Rasa Aman
Kembali kepada makna dasar iman yang kita sebutkan sebelumnya. Kata ini berasal dari akar kata amana. Kata lain yang juga berasal dari kata ini di antaranya yaitu amanah dan aman.

Dalam sebuah hadis Riwayat Ahmad bin Hanbal dalam kitab Musnadnya dari Anas bin Malik, Rasulullah bersabda لاَ إِيمَانَ لِمَنْ لاَ أَمَانَةَ لَهُ، وَلاَ دِينَ لِمَنْ لاَ عَهْدَ لَه, tidak ada iman bagi orang yang tidak amanah dan tidak ada agama bagi orang yang tidak memenuhi janjinya. Sanad hadis ini ada yang menilainya shahih dan ada yang menilai dhoif alasannya yaitu terdapat Abu Hilal Al-Rasibiy yang dinilai dha’if dan Qatadah bin Di’amah yagn dinilai sebagai mudallis. Ada bayak syahid dan tabi’ bagi hadis ini, umunya menyebut لاَ إِيمَانَ لِمَنْ لاَ أَمَانَةَ لَهُ tanpa وَلاَ دِينَ لِمَنْ لاَ عَهْدَ لَه.
Poin yang ingin kita sampaikan bahwa ada keterkaitan iman dengan aspek sosial seorang yang menyatakan dirinya mukmin. Dalam konteks amanah, orang beriman yaitu orang yang amanah. Muhammad sebelum menjadi Nabi dan Rasul digelari dengan al-Amin, seorang yang amanah, jujur dan sanggup dipercaya. Benang merah makna iman di atas yaitu adanya pembenaran terhadap apa yang diimani itu sehingga memunculkan rasa tenang, nyaman bagi orang yang memberi amanah.

Kita yang diberi amanah yaitu orang yang beriman. Ketika kita menjalankan amanah—amanah kepemimpinan, jabatan, kepercayaan sebagai pengurus sesuatu dan lain-lain apa pun bentuknya amanah itu—kita jalankan dengan baik, maka muncul rasa nyaman dan tenang serta adanya kepercayaan bagi orang lain yang menawarkan amanah itu kepada kita.
Dalam konteks puasa, mukmin yang berpuasa seyogyanya yaitu orang yang terpercaya dan menandakan kepada orang lain bahwa beliau layak diberi kepercayaan

Selanjutnya kaitan iman, amanah dengan rasa kondusif yang akhir-akhir ini mulai terusik. Dalam hadis Muttafaqun Alaihi dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:
"واللَّهِ لاَ يُؤْمِنُ، واللَّهِ لاَ يُؤْمِنُ،"قِيلَ: منْ يارسولَ اللَّهِ؟ قَالَ:"الَّذي: لاَ يأْمنُ جارُهُ بَوَائِقَهُ،"
Tidak tepat keimanan seseorang yang tetangganya tidak kondusif dari tingkah lakunya. Rasa kondusif dalam kehidupan bermasyarakat juga merupakan perwujudan dari keimanan. Ibadah ritual kepada Allah belumlah merupakan bentuk totalitas keimanan. Betul ibadah shalat dan puasa yang kita lakukan yaitu perwujudan keimanan, tapi itu saja belum cukup menandakan kita sepenuhnya beriman jikalau tetangga kita masih belum kondusif dari tingkah polah dan tindak tanduk kita.

Contoh lain hadis nabi yang megatakan iman kepada Allah dan hari simpulan disyaratkan dengan bertutur kata yang baik, memuliakan tetangga dan tamu.
من كان يؤمن بالله واليوم الآخر ، فليقل خيرا أو ليصمت ، ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر ، فليكرم جاره ، ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر ، فليكرم ضيفه
Hadis lain juga menyebutkan

لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحبه لنفسه
Mencintai orang lain menyerupai menyayangi diri kita sendiri. Hadis ini menyerukan kepada kita supaya kita punya standar yang sama, tidak standar ganda dalam memperlakukan orang lain. Filosofi cubit tangan sendiri. Jika sakit terasa oleh kita, maka sakit juga berarti kalau kita cubit orang lain. Jika tidak mau diganggu oleh orang lain, maka jangan ganggu orang lain. Untuk mewujudkan keamanan dan ketenteraman mesti didasari dengan iman. Tidak tepat iman seorang mukmin jikalau belum menyayangi hal lain sebagaimana beliau menyayangi dirinya atau apa yang ada pada dirinya sendiri.

Dalam konteks rasa kondusif yang akhir-akhir ini mulai terusik, maka sanggup dikatakan bahwa perbuatan apa pun yang mengancam rasa kondusif sejatinya tidak dilakukan oleh seorang yang mengaku dirinya sebagai mukmin.
Allah menyebut satu di antara namanya dalam surah al-Hasyr sebagai almu’min, pemberi rasa aman. Jika seorang mukmin yang benar-menar meneladani Allah dalam sifatnya al-mukmin, maka seyogyanya setiap langsung mukmin mewujudkan rasa kondusif dan nyaman di mana pun ia berada. Karena perwujudan rasa kondusif bagi dirinya, orang lain dan lingkungannya yaitu bab dari bukti keimanan seseorang. Belum tepat iman seseorang jikalau belum menawarkan rasa aman, nyaman, tenteram dan kedamaian bagai semua.

_____
Dibuat untuk disampaikan pertama kali dalam pengajian bulan berkat di Mesjid Kota Takengon pada hari Senin 13 Ramadhan 1439 H/ 28 Mei 2018 M

Selasa, 11 September 2018

Mengambil Peringatan Dari Program Peringatan Nuzul Alquran

Mengambil Peringatan Dari Program Peringatan Nuzul Alquran

Sebelum Alquran diturunkan,  kondisi masyarakat Arab ketika itu berada dalam masa jahiliah. Jahiliah tidak dipahami dalam pengertian bodoh dan bodoh dalam ilmu dan peradaban. Buktinya bangsa Arab waktu itu telah mengenal ilmu perbintangan dan pertukaran trend yang mereka gunakan untuk keperluan perdagangan ekspor impor (رحلة للشتاء والصيف). Jahilah dipahami sebagai kondisi bodoh dan bodoh dalam perkara tauhid.

Satu teladan bentuk jahiliahnya masyarakat Arab waktu itu sebagaimana diceritakan oleh Umar ibn Khatab. Jika ingat masa itu sanggup menangis dan sanggup tertawa. Umar menangis bila ingat bagaimana dia membunuh anak perempuannya dengan menguburnya hidup-hidup. Umar tertawa geli bila ingat pernah memakan tuhan yang dibentuk dari gandum. Ada berhala yang dibentuk dari gandum. Berhala itu disembah. Namun ketika trend paceklik tiba tuhan tadi dimakan. Meskipun kebenaran riwayat terkait Umar yang mengubur anak ini diperselisihkan oleh ulama, namun tradisi jahiliah mengubur anak wanita hidup-hidup itu dibenarkan ulama ada di Arab walau bukan dilakukan oleh suku Quraisy.Itulah di antara citra jahiliah. 

Dalam keadaan jahiliyah menyerupai itu Nabi Muhammad mengasingkan diri di gua Hirak. Di sanalah ia mendapatkan wahyu untuk pertama kalinya. Iqra'!.Ayat ini tidak berbunyi Iqra'il Qur'an atau Iqra'ul Qur'an!. Tapi hanya Iqra'! Hebatnya wahyu pertama ini memerintahkan untuk membaca tanpa menyebutkan objek apa yang dibaca. Ketika suatu perintah muncul tanpa menyebutkan objek tertentu yang diperintahkan--dalam perkara ayat ini membaca--dipahami bahwa objek yang diperintahkan itu bersifat luas dan tidak terbatas.
Perintah membaca ini tidak hanya dimaknai dengan membaca ayat-ayat Allah yang tertulis, tapi juga membaca ayat-ayat Allah yang tidak tertulis, termasuk membaca alam semesta. "Alam terkembang dijadikan guru" begitu di antara pepatah populer. Perintah membaca sanggup dipahami sebagai pintu gerbang ilmu pengetahuan dan peradaban. Perintah membaca di ayat ini juga dipahami dengan membaca masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang. Perintah membaca tantangan, peluang dan harapan. Pendek kata, bacalah semua yang ada dan sanggup dibaca.

Alquran Sebagai Petunjuk Bagi Manusia
Ayat yang dibacakan oleh Qori di awal acara kita tadi (شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ) menyampaikan bahwa Alquran ialah sebagai petunjuk bagi insan secara umum. Ayat ini tidak membedakan jenis manusianya menyerupai apa, apakah manusianya seorang muslim atau kafir, apakah manusianya seorang yang taat atau seorang pendosa, apakah bawah umur atau orang cukup umur atau orang tua. Ayat ini tidak menyebutkan dengan batasan siapa insan yang akan menerima petunjuk dari Allah. Artinya, bahwa petunjuk Alquran itu ialah berlaku bagi semua orang, tanpa dibedakan apa pun latar belakangnya.

Kita kutip kembali penggalan kisah Umar bin Khatab dalam konteks hidayah Islam yang diterimanya sebelum Islam. Dikisahkan bahwa Umar yang belum Islam menerima hidayah doktrin ketika membaca Alquran yang diambilnya dari adiknya.

Umar yang sangat benci dengan Islam dan berencana membunuh Nabi Muhammad. Betapa marahnya Umar ketika mendengar adik wanita yang dicintainya ternyata beriman dengan aliran yang dibawa oleh Muhammad. Umar tidak jadi pergi membunuh Nabi Muhammad dan berbalik arah menuju ke rumah adiknya. Sesampai di rumah adiknya, didapati adiknya sedang membaca sesuatu yang belakangan diketahui Umar ialah Alquran. Pendek kata, Umar menerima hidayah sehabis membaca potongan ayat Alquran dan meyakini bahwa apa yang dibacanya bukanlah perkataan manusia, tapi sesuatu yang indah dan berasal dari Zat Yang Maha Agung.

Sebagian kita mungkin juga tahu bahwa ada orang yang sanggup hidayah Islam sehabis mengalami banyak sekali lika-liku kehidupan. Ada yang sanggup hidayah Islam di penjara. Ada yang sanggup hidayah sehabis berlumuran dosa sebelumnya. Ada yang sanggup hidayah sehabis kehilangan keluarga, harta benda, jabatan dan lain sebagainya. Ada juga yang sanggup hidayah Islam tanpa melalui itu semua. Alquran petunjuk bagi semua manusia.

Alquran Sebagai Petunjuk Bagi Orang Yang Bertakwa
Dalam ayat yang lain, Q.S. Albaqarah ayat 2 hingga 5 disebutkan bahwa Alquran ialah sebagai petunjuk bagi orang yang bertakwa. Jika disandingkan ayat ini dengan ayat dalam Albaqarah ayat 185 di atas, tampaknya terdapat pernyataan yang bertolak belakang. Satu ayat menyampaikan hidayah itu bagi semua manusia. Ayat lain menyampaikan hidayah itu diperuntukkan bagi orang yang bertakwa.

Buya Hamka menyampaikan betul bahwa Alquran sebagai petunjuk bagi orang yang bertakwa. Betul juga pernyataan ayat yang menyampaikan bahwa Alquran sebagai petunjuk bagi insan keseluruhannya tanpa dibedakan dia insan bertakwa atau tidak bertakwa. Hanya saja, bagi orang yang bertakwa Alquran ialah petunjuk bagaikan jalan tol yang bebas hambatan. Tidak demikian halnya dengan insan lain yang tidak bertakwa. Mereka sanggup saja mendapatkan petunjuk sehabis melalui banyak sekali hambatan, rintangan, tantangan berupa kemudian lampu merah, kemacetan dan mungkin jalan yang rusak. Bahkan ada yang mengalami kecelakaan di jalan raya. Beda halnya dengan jalan tol, jalan ini bebas macet, tanpa lampu merah dan jalannya tidak rusak.

Demikianlah halnya keberadaan Alquran sebagai petunjuk bagi orang yang bertakwa. Ia ialah petunjuk yang akan didapatkan dengan cepat tanpa melalui banyak rintangan dan hambatan. Tidak perlu bergelimang dosa dulu gres menerima petunjuk. Andai bergelimang dosa dalam keadaan belum menerima petunjuk, dalam ketika yang sama yang bersangkutan meninggal dunia, maka mati dalam keadaan berdosa. Maka penting bagi kita memberi peringatan kepada diri kita semoga berusaha menjadi langsung yang bertakwa semoga cepat sanggup petunjuk.

Siapa mereka yang disebut sebagai orang yang bertakwa? Puasa yang kita lakukan alasannya ialah doktrin dan keikhlasan insya Allah akan berbuah takwa. Kita akan keluar menjadi langsung yang bertakwa. La'allakum tattaqun, demikian suara ujung ayat perintah puasa dalam surah Albaqarah tersebut.

Dalam Surah Albaqarah ayat 3 hingga ayat 5 disebutkan paling tidak ada lima kategori langsung bertakwa yang akan mendapatkan hidayah Alquran. Yaitu orang yang beriman dengan yang gaib, mendirikan salat, bersedekah dengan harta yang telah diberikan Allah kepada dirinya, beriman dengan kitab suci yang Allah turunkan, percaya akan adanya akhirat. Ditegaskan pada ujung ayat kelima surah ini, merekalah yang beroleh petunjuk dari Allah dan kelima golongan itu juga disebut sebagai orang yang beruntung.

"Peringatan" dari Peringatan Acara Nuzul Alquran
Setiap tahun diadakan program peringatan/ memperingati nuzul Alquran. Pertanyaannya ialah dari setiap tahun program peringatan itu, sudahkan kita memberi peringatan kepada diri kita masing-masing tentang  bagaimana meraih petunjuk dari Alquran itu? Sudahkah kita memberi peringatan kepada diri kita perihal pentingnya membaca Alquran? Bagi yang belum lancar membaca Alquran, sudahkan dibentuk peringatan tegas bagi diri kita perihal ruginya orang yang tidak sanggup membaca Alquran. Bagi yang jarang membaca Alquran. sudahkan mengambil peringatan semoga intensitas membaca Alquran ditingkatkan. Lebih lanjut, sudahkah kita memberi peringatan kepada diri kita bagaimana caranya menjadikan Alquran sebagai petunjuk. Bagaimana mungkin akan meraih petunjuk Alquran dengan jalur tol, bila tidak berinteraksi dengan Alquran.

____
Disarikan dari penyampaian ceramah Nuzul AlQuran di Masjid Nurul Iman Burni Bius Kec. Silih Nara Kab. Aceh Tengah pada malam 19 Ramadhan 1439 H/ 3 Juni 2018
Mengambil Peringatan Dari Program Peringatan Nuzul Alquran

Mengambil Peringatan Dari Program Peringatan Nuzul Alquran

Sebelum Alquran diturunkan,  kondisi masyarakat Arab ketika itu berada dalam masa jahiliah. Jahiliah tidak dipahami dalam pengertian bodoh dan bodoh dalam ilmu dan peradaban. Buktinya bangsa Arab waktu itu telah mengenal ilmu perbintangan dan pertukaran trend yang mereka gunakan untuk keperluan perdagangan ekspor impor (رحلة للشتاء والصيف). Jahilah dipahami sebagai kondisi bodoh dan bodoh dalam perkara tauhid.

Satu teladan bentuk jahiliahnya masyarakat Arab waktu itu sebagaimana diceritakan oleh Umar ibn Khatab. Jika ingat masa itu sanggup menangis dan sanggup tertawa. Umar menangis bila ingat bagaimana dia membunuh anak perempuannya dengan menguburnya hidup-hidup. Umar tertawa geli bila ingat pernah memakan tuhan yang dibentuk dari gandum. Ada berhala yang dibentuk dari gandum. Berhala itu disembah. Namun ketika trend paceklik tiba tuhan tadi dimakan. Meskipun kebenaran riwayat terkait Umar yang mengubur anak ini diperselisihkan oleh ulama, namun tradisi jahiliah mengubur anak wanita hidup-hidup itu dibenarkan ulama ada di Arab walau bukan dilakukan oleh suku Quraisy.Itulah di antara citra jahiliah. 

Dalam keadaan jahiliyah menyerupai itu Nabi Muhammad mengasingkan diri di gua Hirak. Di sanalah ia mendapatkan wahyu untuk pertama kalinya. Iqra'!.Ayat ini tidak berbunyi Iqra'il Qur'an atau Iqra'ul Qur'an!. Tapi hanya Iqra'! Hebatnya wahyu pertama ini memerintahkan untuk membaca tanpa menyebutkan objek apa yang dibaca. Ketika suatu perintah muncul tanpa menyebutkan objek tertentu yang diperintahkan--dalam perkara ayat ini membaca--dipahami bahwa objek yang diperintahkan itu bersifat luas dan tidak terbatas.
Perintah membaca ini tidak hanya dimaknai dengan membaca ayat-ayat Allah yang tertulis, tapi juga membaca ayat-ayat Allah yang tidak tertulis, termasuk membaca alam semesta. "Alam terkembang dijadikan guru" begitu di antara pepatah populer. Perintah membaca sanggup dipahami sebagai pintu gerbang ilmu pengetahuan dan peradaban. Perintah membaca di ayat ini juga dipahami dengan membaca masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang. Perintah membaca tantangan, peluang dan harapan. Pendek kata, bacalah semua yang ada dan sanggup dibaca.

Alquran Sebagai Petunjuk Bagi Manusia
Ayat yang dibacakan oleh Qori di awal acara kita tadi (شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ) menyampaikan bahwa Alquran ialah sebagai petunjuk bagi insan secara umum. Ayat ini tidak membedakan jenis manusianya menyerupai apa, apakah manusianya seorang muslim atau kafir, apakah manusianya seorang yang taat atau seorang pendosa, apakah bawah umur atau orang cukup umur atau orang tua. Ayat ini tidak menyebutkan dengan batasan siapa insan yang akan menerima petunjuk dari Allah. Artinya, bahwa petunjuk Alquran itu ialah berlaku bagi semua orang, tanpa dibedakan apa pun latar belakangnya.

Kita kutip kembali penggalan kisah Umar bin Khatab dalam konteks hidayah Islam yang diterimanya sebelum Islam. Dikisahkan bahwa Umar yang belum Islam menerima hidayah doktrin ketika membaca Alquran yang diambilnya dari adiknya.

Umar yang sangat benci dengan Islam dan berencana membunuh Nabi Muhammad. Betapa marahnya Umar ketika mendengar adik wanita yang dicintainya ternyata beriman dengan aliran yang dibawa oleh Muhammad. Umar tidak jadi pergi membunuh Nabi Muhammad dan berbalik arah menuju ke rumah adiknya. Sesampai di rumah adiknya, didapati adiknya sedang membaca sesuatu yang belakangan diketahui Umar ialah Alquran. Pendek kata, Umar menerima hidayah sehabis membaca potongan ayat Alquran dan meyakini bahwa apa yang dibacanya bukanlah perkataan manusia, tapi sesuatu yang indah dan berasal dari Zat Yang Maha Agung.

Sebagian kita mungkin juga tahu bahwa ada orang yang sanggup hidayah Islam sehabis mengalami banyak sekali lika-liku kehidupan. Ada yang sanggup hidayah Islam di penjara. Ada yang sanggup hidayah sehabis berlumuran dosa sebelumnya. Ada yang sanggup hidayah sehabis kehilangan keluarga, harta benda, jabatan dan lain sebagainya. Ada juga yang sanggup hidayah Islam tanpa melalui itu semua. Alquran petunjuk bagi semua manusia.

Alquran Sebagai Petunjuk Bagi Orang Yang Bertakwa
Dalam ayat yang lain, Q.S. Albaqarah ayat 2 hingga 5 disebutkan bahwa Alquran ialah sebagai petunjuk bagi orang yang bertakwa. Jika disandingkan ayat ini dengan ayat dalam Albaqarah ayat 185 di atas, tampaknya terdapat pernyataan yang bertolak belakang. Satu ayat menyampaikan hidayah itu bagi semua manusia. Ayat lain menyampaikan hidayah itu diperuntukkan bagi orang yang bertakwa.

Buya Hamka menyampaikan betul bahwa Alquran sebagai petunjuk bagi orang yang bertakwa. Betul juga pernyataan ayat yang menyampaikan bahwa Alquran sebagai petunjuk bagi insan keseluruhannya tanpa dibedakan dia insan bertakwa atau tidak bertakwa. Hanya saja, bagi orang yang bertakwa Alquran ialah petunjuk bagaikan jalan tol yang bebas hambatan. Tidak demikian halnya dengan insan lain yang tidak bertakwa. Mereka sanggup saja mendapatkan petunjuk sehabis melalui banyak sekali hambatan, rintangan, tantangan berupa kemudian lampu merah, kemacetan dan mungkin jalan yang rusak. Bahkan ada yang mengalami kecelakaan di jalan raya. Beda halnya dengan jalan tol, jalan ini bebas macet, tanpa lampu merah dan jalannya tidak rusak.

Demikianlah halnya keberadaan Alquran sebagai petunjuk bagi orang yang bertakwa. Ia ialah petunjuk yang akan didapatkan dengan cepat tanpa melalui banyak rintangan dan hambatan. Tidak perlu bergelimang dosa dulu gres menerima petunjuk. Andai bergelimang dosa dalam keadaan belum menerima petunjuk, dalam ketika yang sama yang bersangkutan meninggal dunia, maka mati dalam keadaan berdosa. Maka penting bagi kita memberi peringatan kepada diri kita semoga berusaha menjadi langsung yang bertakwa semoga cepat sanggup petunjuk.

Siapa mereka yang disebut sebagai orang yang bertakwa? Puasa yang kita lakukan alasannya ialah doktrin dan keikhlasan insya Allah akan berbuah takwa. Kita akan keluar menjadi langsung yang bertakwa. La'allakum tattaqun, demikian suara ujung ayat perintah puasa dalam surah Albaqarah tersebut.

Dalam Surah Albaqarah ayat 3 hingga ayat 5 disebutkan paling tidak ada lima kategori langsung bertakwa yang akan mendapatkan hidayah Alquran. Yaitu orang yang beriman dengan yang gaib, mendirikan salat, bersedekah dengan harta yang telah diberikan Allah kepada dirinya, beriman dengan kitab suci yang Allah turunkan, percaya akan adanya akhirat. Ditegaskan pada ujung ayat kelima surah ini, merekalah yang beroleh petunjuk dari Allah dan kelima golongan itu juga disebut sebagai orang yang beruntung.

"Peringatan" dari Peringatan Acara Nuzul Alquran
Setiap tahun diadakan program peringatan/ memperingati nuzul Alquran. Pertanyaannya ialah dari setiap tahun program peringatan itu, sudahkan kita memberi peringatan kepada diri kita masing-masing tentang  bagaimana meraih petunjuk dari Alquran itu? Sudahkah kita memberi peringatan kepada diri kita perihal pentingnya membaca Alquran? Bagi yang belum lancar membaca Alquran, sudahkan dibentuk peringatan tegas bagi diri kita perihal ruginya orang yang tidak sanggup membaca Alquran. Bagi yang jarang membaca Alquran. sudahkan mengambil peringatan semoga intensitas membaca Alquran ditingkatkan. Lebih lanjut, sudahkah kita memberi peringatan kepada diri kita bagaimana caranya menjadikan Alquran sebagai petunjuk. Bagaimana mungkin akan meraih petunjuk Alquran dengan jalur tol, bila tidak berinteraksi dengan Alquran.

____
Disarikan dari penyampaian ceramah Nuzul AlQuran di Masjid Nurul Iman Burni Bius Kec. Silih Nara Kab. Aceh Tengah pada malam 19 Ramadhan 1439 H/ 3 Juni 2018