Selasa, 27 Januari 2015

Tiket Jetstar Gratis Dari Poin Emirates

Tiket Jetstar Gratis Dari Poin Emirates


Dulu ketika kami masih tinggal di Sydney, Jetstar adalah maskapai murah andalan kami untuk keliling domestik Australia dan juga ke New Zealand. Setelah pulkam ke Indonesia, kami sudah jarang naik Jetstar. Tapi ternyata kami berjodoh kembali ketika saya cari-cari tiket murah dari Surabaya ke Singapura untuk mengambil hadiah voucher seribu dolar dari Changi Airport.

Alhamdulillah, #CeritaChangi saya menang lomba dengan hadiah voucher SGD 1000. Tapi syaratnya, hadiah harus diambil sendiri di bandara Changi. Waduh, saya berarti harus cari tiket murah dan pergi sendirian kalau nggak ingin besar pasak daripada tiang. Karena inginnya berangkat di akhir pekan, biar anak-anak bisa dititip ke Si Ayah, saya kesulitan mendapat tiket murah. Setelah mentok berburu diskon tiket pesawat, barulah saya ingat punya poin Frequent Flyer Emirates dari penerbangan ke Eropa Juli tahun lalu. Bisa dipakai nggak ya?

Ketika mendaftar sebagai anggota Skywards di website Emirates, saya ingat kalau poin mereka bisa ditukar dengan beberapa tiket dari partner airlines, jadi nggak harus ditukar dengan tiket Emirates sendiri. Kadang maskapai partner ini lebih murah tarifnya karena termasuk penerbangan budget. Salah satu partner Emirates adalah Jetstar, yang punya rute Surabaya - Singapura (pp). Eureka!

Berapa sih poin Skywards yang saya punya? Dari tiket SIN-Paris yang saya beli seharga 10 jutaan, saya mendapat 10.500 poin, termasuk bonus 2000 poin untuk anggota baru. Cukup nggak poinnya? Ketika saya intip tarif penukaran tiket Jetstar, rute Surabaya - Singapura harganya 10.250 poin. Hahaha, masih sisa dikit. Rute-rute lain seperti Jakarta - Singapura malah cuma 7.000 poin. Tapi untuk tiket ini kita tetap masih bayar pajak sendiri ya. Untuk tiket saya ini pajaknya USD 26.

Cara menukar poin Skywards menjadi tiket Jetstar:
1. Log in ke akun Skywards
2. Klik menu Emirates Skywards --> Spending Miles
3. Klik Partner Rewards --> Airlines
4. Klik Redeem Miles --> isi formulir berdasar penerbangan yang diinginkan 
5. Klik Submit request

Sebelum mengisi tabel dan mengirim request, kita sudah harus tahu nomor dan jadwal penerbangan yang kita inginkan. Saya cek ini di website Jetstar. Tadinya saya was-was, apakah request ini benar-benar ditanggapi. Juga khawatir tiket pada tanggal tersebut tidak tersedia karena akhir pekan. Eh ternyata hari berikutnya langsung ada jawaban email dari Emirates bahwa tiket saya sudah confirmed, berikut booking number-nya. Saya tinggal membayar pajak, bisa di kantor Emirates di Jakarta (duh!) atau bayar via telepon dengan kartu kredit. Tentu saya pilih yang kedua. Layanan call centre Emirates yang di Jakarta ini bagus. Berbekal nomor booking, saya berhasil membayar pajak via kartu kredit. Beberapa jam kemudian mereka menerbitkan e-ticket yang langsung masuk ke inbox email saya. Gampang banget, semua beres tanpa meninggalkan tempat duduk.



Urusan dengan Emirates beres. Sehari sebelum berangkat, saya mencoba cek in online di website Jetstar. Saya coba dengan dua booking code yang diberikan Emirates. Kok nggak bisa dua-duanya. Saya mulai was-was. Duh, bener nggak nih tiketnya. Akhirnya saya telepon call centre Jetstar di Jakarta. Alhamdulillah tiket saya sudah ada di sistem, besok tinggal cek in di konter Jetstar di bandara Juanda T2.

Cek in kali ini sangat mulus. Dalam tiga menit, saya sudah mengantongi boarding pass, tidak ditulis tangan seperti pengalaman kami naik Jetstar ke Singapura sebelumnya. Mungkin karena penerbangan Jetstar sekarang ini sudah dioperasikan oleh mereka sendiri (Jetstar Asia), bukan oleh Value Air yang pelayanannya jelek. Saya tidak kesal meski penerbangan saya kali ini ditunda satu jam. Mereka sudah memberi tahu sebelumnya ketika saya cek in. Delay karena pesawatnya memang belum sampai dari Singapura.

Saya mendapat kursi di barisan depan, nomor 2. Pramugari dan pramugara menyapa dengan ramah ketika penumpang masuk ke pesawat. Saya dengan pedenya menyapa dalam bahasa Indonesia. Raymond, salah satu pramugara hanya senyam-senyum. Saya baru ingat kalau mereka orang Singapura, hehe. Lha wajahnya kayak arek Suroboyo je.


Raymond ini pula yang melayani saya, memberi snack dan comfort pack. Ternyata di boarding pass saya ada kode tertentu bahwa saya punya voucher untuk ditukar makanan sebesar $10 dan voucher untuk comfort pack senilai $17. Sebenarnya saya juga punya jatah bagasi 20kg, yang tidak saya pakai. Lha wong saya bawanya cuma koper kosong :D Kalau dihitung-hitung, pajak yang saya bayar sebesar USD 26 sudah impas dengan fasilitas ini.

Jetstar tidak menyediakan makanan hangat kalau tidak ada pemesanan. Voucher $10 saya tukarkan dengan camilan kacang campur, pringles kecil dan
teh hangat dengan susu. Lumayan lah sebagai pengganjal perut. Comfort set $17 isinya macam-macam. Saya diberi selimut hitam dan satu pak tas berisi bantal leher, sleeping mask, kaos kaki, bolpen, lip balm, hand balm, ear plug dan tisu. Ternyata tas ini bisa dipanjangkan jadi tablet case. Bantal lehernya saya pakai, tapi tidak begitu bagus. Anginnya bocor keluar terus karena klepnya kurang menutup sempurna. Bantalnya kempes melulu. Akhirnya saya menyerah dan tidur tanpa bantal-bantalan.

Alhamdulillah selamat sampai Changi.

Moral of the story: daftarlah jadi anggota frequent flyer SEBELUM membeli tiket mahal, misalnya ke Eropa, Australia/NZ atau Amerika. Poin yang didapat bisa ditukar tiket dengan rute yang dekat-dekat oleh partner airline mereka masing-masing. Mendaftar frequent flyer ini bisa secara online di website masing-masing maskapai. Yang penting kita mendapat nomor keanggotaan yang bisa dicantumkan ketika membeli tiket rute yang jauh-jauh tadi. Poin ini biasanya expire setelah tiga tahun, masih banyak waktu untuk menukarkan tiket yang kita perlukan. Kalau toh hangus juga nggak rugi apa-apa karena daftar FF biasanya gratis. Sampai saat ini saya malah belum mendapat kartu fisik Skywards, padahal poinnya sudah hampir habis :D


Selamat mengumpulkan poin :)

~ The Emak


Baca juga:
Belanja Habis-Habisan di Bandara Changi
Tempat Nongkrong Paling Asyik di Bandara Changi
Terbang ke Singapura dengan Jetstar
Pengalaman Naik Jetstar Keliling Australia dan New Zealand
Terbang ke Eropa dengan Emirates

Minggu, 25 Januari 2015

Changi Shopping Trip

Changi Shopping Trip

100 lembar voucher SGD 10 numpang lewat doang :p
Semua masih ingat kan kalau saya menang lomba #CeritaChangi yang hadiahnya *uhuk* S$1000? Cerita keluarga Precils ketika transit di bandara Changi Singapura terpilih jadi 3 cerita terbaik. Alhamdulillah, rezeki nomplok. Thank you Changi Airport.

Ketika ada pengumuman di akun twitter @bandaraChangi, saya senang campur bingung. Soalnya hadiah harus diambil langsung dan hanya bisa dibelanjakan di bandara Changi. Maaf ya, tiket pesawatnya harus cari sendiri. Saya lebih bingung mencari cara nyampai ke sana daripada bingung vouchernya mau dibelanjakan apa :D



Tapi The Emak yang pinter ini tentu nggak kehabisan akal. Setelah mengecek semua poin, diskon dan kupon yang dimiliki, akhirnya saya bisa terbang pp ke Singapore dengan pesawat gratisan. Kelas bisnis pula, hahaha. Masih bayar pajaknya sih, tapi kan lumayan daripada bayar pesawat penuh. Nanti hadiahnya nggak 'nyucuk'. Nggak lucu kan kalau besar pasak daripada tiang, lebih mahal di ongkos daripada yang didapat.

Saya menukar poin Skywards dari penerbangan Emirates ke Eropa bulan Juli tahun lalu dengan tiket Jetstar Surabaya - Singapura. Pulangnya saya menukar poin Krisflyer Singapore Airlines yang saya dapat dari penerbangan ke New Zealand (hasil menang kuis juga) bulan Juni tahun lalu. Cerita saya naik Jetstar dengan tiket gratisan bisa dibaca di sini.

Tiket beres, saya tinggal pilih-pilih mau beli apa. Buka-buka guide Shop & Dine Changi airport malah jadi senewen sendiri. Lha masa' tas wanita harganya di atas $1000 semua? Harus nombok dong saya. Lupakan deh tas, sepatu dan aksesories branded. Kalau pengen beli barang-barang mewah, SGD 1000 sepertinya sedikit banget.


Tapi saya tetap membuat daftar belanja. Yang utama, saya ingin beli hadiah ulang tahun Big A yang jatuh tanggal 26 Januari. Karena itu juga saya mengambil hadiah sebelum tanggal ini. Little A tentu harus dibelikan mainan. Oke, catet. Emaknya juga. Hasilnya seperti ini daftar belanja saya.

Shopping List:
1. Hadiah untuk ultah Big A (ransel dan bodyshop set)
2. Mainan untuk Little A (Lego friends)
3. Mainan untuk Emak :p
4. Dompet atau kacamata hitam untuk Si Ayah
5. Oleh-oleh untuk Mamah dan Mama
6. Cokelat untuk ponakan-ponakan

Opsional: lingerie, perfume, Uniqlo, Muji Go, travel accessories, snorkeling set, Go Pro, underwater camera housing.

Lalu, seminggu sebelum berangkat saya baru ingat wejangan Ibu saya: "When life gives you money, buy gold." Nggak persis bahasa Inggris seperti itu sih :D Tapi intinya, kalau punya uang lebih, belikan emas untuk investasi. Langsung saya cari tahu apa ada toko emas di bandara Changi. Ternyata ada! Saya juga cek harga dan jenis-jenis emas yang dijual di toko ini. Lumayan kan, kalau berhasil beli emas, nilai uangnya nggak turun. Malah nanti bisa digadaikan kalau sedang perlu :p

Terbang Ke Changi
Saya terbang ke Changi sendiri, dan alhamdulillah selamat mendarat di bandara Changi hari Sabtu sore. Kata perwakilan bandara Changi di Jakarta yang mengadakan kuis, akan ada seseorang yang menjemput, membawa papan nama saya. Ketika saya keluar dari pesawat, kok nggak ada siapa-siapa? Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya saya melihat perwakilan bandara Changi yang berjalan ke arah gate dengan membawa kertas bertuliskan Traveling Precils. Saya hampiri sambil mengenalkan diri. Dia senang bisa bertemu saya dan langsung ke pokok persoalan tanpa basa-basi. Saya senang dengan orang seperti ini ;) Seratus lembar voucher masing-masing SGD 10 pun berpindah tangan. Saya menandatangani berita acara sambil di-briefing di mana saja bisa berbelanja dengan voucher tersebut. Bada, begitu katanya namanya, juga memberi saran-saran toko mana saja yang bisa saya datangi untuk membeli barang-barang di shopping list saya. Lalu, saya ditinggal sendiri. 

Ada lima menit saya duduk bengong sambil tersenyum nggak jelas. Saya masih bingung, hanya punya waktu 13 jam untuk menghabiskan $1000 karena besok pagi harus segera pulang ke Surabaya. Dari Bada saya diberi tahu kalau ingin belanja tanpa GST, saya harus belanja besok sebelum terbang. Kalau belanja sekarang sebelum saya meninggalkan Singapore, saya tetap harus bayar GST sebesar 7%. Saya nggak begitu 'mudheng' bagaimana mekanismenya, tapi akhirnya saya bangkit menuju imigrasi sambil tersenyum ke setiap orang yang berpapasan dengan saya :D

Public Area & Transit Area
Bandara Changi dibagi menjadi dua area: public area untuk umum dan transit area untuk penumpang yang akan naik pesawat. Di public area, pengunjung bandara non penumpang pun bisa berbelanja dengan bebas. Changi menerapkan diskon GST 7% juga di area umum ini, meski pilihan tokonya tidak sebanyak di area transit.

Setelah keluar dari imigrasi, saya siap-siap menjelajah public area. Dari shopping guide, pilihan toko yang asyik-asyik di public area ada di T3. Saya pun berhasil membeli tas ransel di toko Bratpack untuk hadiah ultah Big A dan juga titipan skin care The Body Shop buat dia. Setiap akan membeli sesuatu, saya selalu bertanya lebih dulu ke penjaga tokonya, apakah mereka menerima voucher Changi Dollars. "Can!" begitu jawab mereka. Setelah yakin kalau voucher bisa benar-benar dipakai, saya semakin bersemangat berbelanja.

Sebenarnya, toko-toko yang lebih menarik ada di area transit. Tapi masalahnya, kalau saya terlanjur di dalam, barang-barang itu harus saya tenteng sampai saya boarding. Kalau belanja sebelum cek in, barang belanjaan ini bisa saya masukkan bagasi. Padahal rencananya saya ingin membelikan Lego set yang cukup besar untuk Little A. Kalau beli di dalam, masa' harus saya tenteng-tenteng sampai pagi? Haduh, dilema.

Di public area T3 ada dua toko mainan. Tapi dua-duanya tidak punya koleksi Lego yang bagus, tidak ada Lego Friends. Jadi... terpaksa saya memang harus beli dan nenteng Lego di area transit. Akhirnya saya lanjut berbelanja... cokelat!




Saya agak kebablasan berbelanja cokelat di Cocoa & Co. Tapi daripada harus mikir mau ngasih oleh-oleh apa ke adik2, sepupu dan ponakan, mending saya belikan cokelat semua. Saya sendiri alergi cokelat, langsung batuk begitu mencoba. Hiks. Sebelum belanja cokelat, saya sudah jalan-jalan ke toko-toko lain, tapi malah bingung mau beli apa.

Public Area T3
Public Area T3
Saya punya tiket SQ kelas bisnis untuk penerbangan esok harinya. Menurut website SQ, saya bisa cek in 48 jam sebelum jam penerbangan saya. Jadi saya beres-beres hasil belanjaan saya sampai saat ini, masukkan ke koper yang saya bawa dan cek in. Ternyata memang bisa early cek ini sehari sebelumnya. Koper saya beratnya sekitar 8 kg. Lumayan lah beban nenteng koper sambil belanja berkurang. Dengan berbekal boarding pass, saya melangkah ke imigrasi dan mulus masuk ke transit area T2. Saat itu jam 9 malam. Saya belum merasa lapar dan masih sanggup untuk kembali berbelanja, hahaha.

Target pertama cari Lego untuk Little A. Ada dua toko mainan di dekat Enchanted Garden di T2, sebelah-sebelahan. Saya bandingkan harga legonya, ternyata lebih murah di Kaboom. Akhirnya saya beli Lego Friends Lighthouse seharga $70. Uhuy, saya senang kalau harganya pas begini. Kalau harganya bukan kelipatan $10, terpaksa saya harus nombok sendiri kelebihannya karena toko tidak memberi kembalian untuk pembayaran dengan voucher. Kalau mau disumbangkan ke toko ya monggo. Saya sih ogah, haha. Jadi di beberapa toko, saya genapkan dengan membeli benda-benda kecil lain, tapi ada yang memang harus nombok yang saya bayar dengan uang receh sisa ke Singapore tahun lalu atau bayar dengan kartu kredit. Oh, ya, kalau belanja di area Transit ini, kita harus menyerahkan paspor dan boarding pass untuk dipindai.

Sukses membeli mainan untuk Little A, saya mencari mainan untuk diri sendiri :p Ada toko 'mainan' iStudio di dekat situ. 

Kanan: mainan Little A. Kiri: mainan The Emak :p
Alhamdulillah, Little A dan Emaknya sudah dapat mainan. Sekarang saatnya menghabiskan sisa voucher dengan bijak. Saya mencari toko perhiasan yang menjual emas 22K dan 24K. Saya belum tahu apa yang akan saya beli, tapi di sana pas ada stok emas murni 5gr yang harganya terjangkau oleh sisa voucher saya. Ya udah, memang niatnya untuk disimpan kok, bukan untuk perhiasan. 

Setelah membayar belanjaan di Luvenus, saya baru sadar kalau voucher saya tinggal 5 lembar, dan saya belum beli apapun untuk Si Ayah. Dan untuk Mamah dan Mama Mertua. Dududu. Saya baru menyesal kebanyakan belanja cokelat dan permen. Ketika saya berangkat, sebenarnya Si Ayah nggak minta apa-apa, tapi kasihan juga kan kalau nggak dibelikan. Saya mondar-mandir di toko-toko fashion untuk laki-laki sambil ngintip harga kalau penjaga tokonya sedang nggak lihat. Duh, untung nggak pingsan setelah tahu harganya.
 

Saya menyerah setelah window shopping di beberapa toko. Akhirnya saya mampir ke toko teh TWG untuk berbelanja oleh-oleh teh premium. Dengan sisa voucher 1 lembar saya baru ingat kalau adik saya Diladol minta dibelikan magnet kulkas singapur. Eyaelah. Agak susah belanja magnet kulkas. Di bagian yang murah saya nyeletuk, "Dih, jelek banget bahan dan disainnya." Di bagian magnet yang bagus disainnya dan kuat bahannya, saya nyeletuk, "Ih, mahal amat." Akhirnya saya beli magnet kulkas kelas menengah sambil nyomot satu buku di Relay. Mission accomplished. Sorry Darling.




Saat itu jam 12 malam dan saya terseok-seok membawa barang belanjaan. Toko-toko mulai tutup dan perut saya keroncongan. Malam ini mau nggak mau harus menginap di Changi karena sudah cek in. Trus saya ingat, saya kan bisa masuk bisnis lounge SQ? Di sana kan ada makanan? Hahaha.

Berikut hasil perburuan saya di Changi Airport, gak tahu dapat mahal apa murah,lha wong saya juga gak tahu harga pasarannya :D



No Item Shop Price Voucher Cash/CC
1 Herschel Backpack Bratpack T3 B2 PA 96.78 9 6.78
2 Tea Tree gift bag Bodyshop T3 B2 PA 47.48 5 0.00
3 Cocoa & Co Cocoa & Co T3 B2 PA 90.96 9 1.00
4 Ovomaltine+tic tac Candy Empire T3 L2 PA 10.19 1 0.20
5 Lego Friends Lighthouse Kaboom T2 L2 TA 70.00 7 0.00
6 iPad Mini iStudio T2 L2 TA 315.89 31 5.89
7 24K Gold 5gr Luvenus T2 L2 TA 337.50 33 7.50
8 Tea gift pack TWG T2 L2 TA 46.72 4 6.72
9 Book + fridge magnet Relay T2 L2 TA 20.84 1 10.84
TOTAL 100 38.93

Kalau kalian punya voucher SGD 1000, mau dibelanjain apa di bandara Changi?

~ The Emak


Baca Juga:
Tempat Nongkrong Paling Asyik di Bandara Changi 
Terbang ke Singapura dengan Tiket Jetstar Gratisan
Terbang Bersama Keluarga ke Singapura dengan Jetstar

Sabtu, 24 Januari 2015

Cara Transfer SMS Banking BRI Syariah

Cara Transfer SMS Banking BRI Syariah

Cara Transfer SMS Banking BRI Syariah beserta contoh transfer ke bank mandiri BCA BNI BRI dll beserta daftar kode tujuan pemindah bukuan.

Kalo misalnya nanti sudah menu UMB pada operator masing-masing, maka transaksi melalui HP lebih baik menggunakan UMB Mobile banking dari pada SMS. Karena sekarang belum ada, catat saja beberapa format perintah SMS Banking BRI Syariah Berikut



Semua SMS di

Senin, 19 Januari 2015

Cara Daftar dan Format SMS Banking BRI

Cara Daftar dan Format SMS Banking BRI

Baru kemarin saya bikin artikel yang isinya lebih menyarankan menggunakan UMB mobile banking di banding SMS banking, eh sekarang malah bikin artikel mengenai panduan SMS banking itu sendiri, jadinya seperti kontradiktif. Tidak konsisten.

Terpaksa saya lakukan, karena setelah saya lihat pada menu UMB *141#, Bank BRI belum menyediakan layanan ini. Jadi buat teman-teman nasabah bank BRI, yang ingin

Kamis, 15 Januari 2015

Tinggalkan SMS Banking, Gunakan UMB *141#

Tinggalkan SMS Banking, Gunakan UMB *141#

Khususnya bagi seorang pelupa, atau, pemalas yang  tak mau mengingat kata kunci perintah-perintah  transaksi sms banking. Dengan UMB mobile banking,  cukup mengingat satu akses  untuk  semua bank , ketik : *141#, setelah itu, silahkan ikuti perintah sesuai dengan rekening  yang di miliki. Selesai deh panduannya.  Singkat. Padat. Dan tidak jelas.



Semua Bank. Semua GSM ; *141#


**
Saya ingin

Kamis, 18 Desember 2014

Perbedaan Biaya Transfer Realtime Online, RTGS, Kliring / LLG

Perbedaan Biaya Transfer Realtime Online, RTGS, Kliring / LLG

Pengguna internet dan mobile banking gak usah pada bingung, kalau mau transfer ke bank lain cukup pilih opsi; transfer online realtime.  Duit yang dikirim akan diterima saat itu juga. Beres!

Selesai deh bahasan sampai disini. Silahkan pergi.... ..

**
Karena saya masih mau main-main disini, biar saya catat perbedaan transfer online realtime, Kliring (lalu lintas giro/ LLG) dan RTGS (Real Time

Minggu, 07 Desember 2014

Keliling Dunia di Museum Angkut Malang

Keliling Dunia di Museum Angkut Malang

Suasana Batavia
Museum Angkut yang baru saja dibuka di kota wisata Batu (30 menit dari kota Malang) ini seketika menjadi hot destination. Nggak heran sih, koleksinya menarik dan penataannya apik. Museum ini juga didesain agar pengunjung bisa berinteraksi (baca: foto-foto) maksimal. Kabarnya, museum ini selalu ramai, tidak hanya di akhir pekan saja. Alhamdulillah, sekarang orang Indonesia cinta museum :)

Lokasi Museum Angkut ini mudah dicari, di pojokan jalan Sultan Agung. Kalau datang dari arah Malang, belok kiri di Jl Imam Bonjol Bawah (sebelah kanan ada Matahari- Lippo Plaza). Lokasi museum di belakang Jatim Park 1. Harga tiketnya hari kerja 50 ribu dan akhir pekan 75 ribu. Kalau ingin tiket terusan ke museum topeng bayar tambahan 10 ribu. Anak-anak yang tingginya di atas 85 cm sudah harus bayar penuh. Little A seneng banget sudah harus beli tiket sendiri. Emaknya yang nggak happy, pengennya gratisan atau diskon :D Kamera juga harus bayar tiket tambahan sebesar 30 ribu. Tapi kalau 'cuma' kamera hape atau tablet nggak bayar kok.

Little A senang sudah nggak little lagi, bayar penuh!

Lokasi Museum Angkut, Jl Terusan Sultan Agung Atas No.2 (klik untuk memperbesar)
Museum buka mulai jam 12 siang. Kami sekeluarga besar mruput datang pas museum buka dengan harapan suasana masih sepi. Eh ternyata sampai di sana tempat parkir sudah penuh semua. Akhirnya kami dapat tempat parkir 'VIP' di dekat pintu masuk. Pengunjung banyak sekali tapi bisa antre dengan tertib untuk beli tiket dan masuk ke museum. Saya sudah agak ilfil dengan banyaknya orang, tapi ternyata setelah sampai di dalam kami masih punya ruang untuk menikmati koleksi yang dipajang, tidak berdesak-desakan karena bangunannya besar banget.

Di lantai satu ada koleksi campur-campur mulai dari kereta kuda sampai mobil balap. Ada mobil dan helikopter yang dulu pernah dipakai presiden RI pertama: Ir Soekarno. Ada koleksi sepeda dari perusahaan pembuat mobil ternama. Juga ada koleksi berbagai macam sepeda motor dari seluruh dunia. Dari koleksi-koleksi ini sebagian hanya boleh dipandang, tapi sebagian lain boleh dinaiki. Mobil balap merah ini termasuk yang laris difoto bersama anak-anak. Kalau orang dewasa, mungkin lebih senang berfoto bersama mobil balap F1 dan Michael Schumacher KW. Ada kok, tapi harus antre.

Di lantai dua ada koleksi moda angkut yang lebih tradisional: becak dan bendi dari berbagai daerah, dengan nama dan ornamen yang bervariasi: andong, cidomo, dokar. Moda transportasi lain yang dipamerkan adalah kapal laut, mulai dari kapal yang sangat sederhana dari balok kayu utuh sampai replika kapal yang rumit. Saya dan Big A asyik membandingkan replika kapal Majapahit dan kapal junk dari Hong Kong. Ada juga sih replika kapal Titanic, tapi sudah puas lihat di filmnya, nggak seru lagi :p  

Di lantai dua ini ada berbagai display interaktif yang menarik seperti permainan tebak suara (suara pesawat jenis tertentu dan jenis klakson kereta api), film kartun pendek yang informatif tentang kereta dan nukilan film pendek sejarah kapal terbang, serta display game lainnya. Little A terpaku melihat display cara kerja mesin kereta api dan mesin mobil. Big A sampai hafal fakta-fakta tentang perkeretaapian (di mana kereta api terpanjang, kereta api terberat, stasiun tersibuk dll). Sementara itu Si Ayah tidak bisa membedakan suara pesawat dan gergaji listrik! *tepok jidat* 



Lantai dua cukup menarik dengan display interaktifnya, tapi terlalu bising buat saya. Untungnya, keluar dari lantai dua ini kami diajak ke arena luar ruang: Batavia. Suasana hiruk pikuk Batavia tempo dulu dihidupkan kembali lewat bangunan toko-toko pecinan dan kendaraan yang parkir di jalan-jalan: sepeda, gerobak, becak, bajaj, oplet dan dokar. Di sebelah Stasiun Jakarta Kota ada set pelabuhan dengan berbagai macam mode angkut. Di pojok pelabuhan ada warung zaman dulu yang baru buka besok :D Hujan rintik-rintik tidak menghalangi para pengunjung untuk berfoto dengan pose aneh-aneh. Termasuk saya tentu saja. Tapi dari sekian pose foto yang saya coba, yang paling 'wangun' kok cuma pose saya naik sepeda bawa segunung krat dan pose dengan motor honda tahun 70-an ya? *why*

Kami keluarga precils berempat berkunjung ke museum angkut ini dengan Ibu, Bapak, adik saya Dila, suami siaganya serta Baby K. Bapak saya paling cocok berpose di depan rumah-rumah Tionghoa. Sementara keluarga Dila keren banget posenya di samping bis Lambaiyan Bunga. Wajahnya Melayu banget, hehe.





Dinamika dan alur pengunjung museum ini enak diikuti. Setelah ada arena luar ruang, kami diajak ke dalam ruangan lagi menikmati koleksi mobil-mobil Australia dan sepeda motor Jepang. Setelah itu ada ruang terbuka lagi. Kali ini dengan tema Broadway. Kalau saja tidak hujan, jalanan Broadway ini asyik untuk foto-foto. Setting bangunannya: kantor polisi, kantor pemadam kebakaran, apartemen, salon, bank dan teater cukup meyakinkan, seperti set film. Ditambah mobil-mobil kuno Amerika yang 'parkir' di pinggil jalan, hasil foto bisa seperti di Amrik sungguhan. Padahal KW, hehe.

Dari jalanan Amerika, kami langsung melompat masuk ke Eropa. Disambut dengan vespa-vespa Italia yang diparkir di pinggir pantai. Lantai ruangan ini dari batu-batuan sehingga suasananya mirip dengan lorong-lorong sempit di kota-kota di Eropa. Dari Italia kami menuju... Perancis! Kota Paris dibuat miniaturnya lengkap kafe-kafe cantik dengan menara Eiffel KW2. Big A dengan dramatis bilang, "O la laa, de ja vuuu..." Dia tidak bisa menahan tawa melihat orang-orang sibuk berfoto dengan menara Eiffel KW. Ya biar lah Kak, siapa tahu jadi bisa ke Paris beneran. Sementara Little A asyik-asyik aja diajak pose-pose sama Tantenya.

Dari Perancis, satu lompatan membawa kami ke Jerman. Suasana desa di Jerman ini asyik banget, dengan rumah tradisional dan mobil-mobil VW. Pohon berdaun cokelat seperti di musim gugur semakin menambah romantis suasana. Cocok lah buat pemotretan pre-wed :p Tak lupa kami berfoto di depan tembok Berlin KW3. Btw, orang-orang Jerman memang segedhe itu ya dibanding orang Asia? :D






Jerman adalah negara kesayangan Big A, karena tugas akhirnya di kelas 6 adalah membuat pameran dan presentasi tentang Jerman. Big A merasa tahu banget tentang Jerman dan cinta segala sesuatu buatan Jerman. Jadi dia betah banget di Jerman buatan ini. Sementara itu... tepat di seberang Jerman adalah: Inggris! Sekarang giliran Tante Dila yang histeris. Dia senang sekali segala sesuatu yang berbau Inggris dan bercita-cita pengen ke sana.


Simbol-simbol London disajikan lengkap: kotak telepon umum warna merah, simbol kereta bawah tanah, penjaga istana, The Beatles dan Mr Bean. Keluar dari London-londonan ini kami bisa melihat Istana Buckingham (nggak tahu ini KW berapa). Tampak depannya cukup mirip, tamannya pun meyakinkan. Cuma kalau mau foto di depan sini, jangan sampai tulisan 'Istana Buckingham' ikut muncul. Kenapa? Karena 'Istana' itu bahasa Indonesia, bahasa Inggrisnya 'Palace' :))

Kejutannya, ternyata istana Buckingham ini tidak cuma depannya doang, ada dalamnya beneran. Langit-langitnya dihiasi lampu gantung mewah. Di pojokan juga ada tahta sang ratu, lengkap dengan Ratu Elizabeth KW. Di tengah istana, anak-anak bisa bermain dengan double decker bus, bis tingkat warna merah yang menjadi simbol khas London. Atau, seperti kami, naik kereta mini keliling istana. Gratis! Little A langsung jatuh cinta dengan kereta mini ini dan bilang kalau Istana Buckingham adalah tempat favoritnya di museum angkut.



Meskipun tiket masuknya cukup mahal (dibanding museum-museum yang lain), kami cukup puas dengan museum ini karena fasilitasnya cukup bagus. Museum ini aksesibel, ada lift dan ramp bagi yang berkursi roda atau membawa stroller. Toilet disediakan di setiap area dan kondisinya bersih. Tempat duduk juga selalu ada di setiap area. Bapak saya pernah terserang stroke ringan sehingga tidak kuat jalan jauh. Tapi di museum ini, beliau bisa beristirahat (duduk) di setiap area sementara kami masih sibuk beredar. Alhamdulillah Bapak kuat 'keliling dunia' sampai akhir. Selain kursi tempat duduk, di beberapa area juga ada warung atau kafe makanan kecil untuk pengganjal perut. Kami sempat duduk-duduk di area Broadway sambil nyemil kentang goreng, hot dog, dan minum kopi dan milo hangat. Sebenarnya sambil menunggu hujan reda tapi kok ya nggak berhenti-berhenti. Di wahana terakhir (Hollywood) ada restoran cepat saji CFC. Sebenarnya ada warung apung yang juga menjual makanan tradisional yang tentunya lebih enak dari ayam goreng cepat saji, tapi sayang sekali kalau hari hujan area outdoor tersebut tidak bisa dinikmati.

Yang masih perlu diperbaiki dan ditambah adalah fasilitas mushollanya. Tempat ibadah yang terletak di dekat tempat parkir bus ini kurang besar untuk menampung pengunjung sebegitu banyak. Tempat wudhu juga cuma sedikit. Saran saya membuat musholla baru lagi atau memperbesar fasilitas yang sudah ada ini.



Secara umum kami senang dan puas mengunjungi Museum Angkut. Petugasnya cukup ramah dan sigap membantu. Di dalam ruangan saya juga tidak menghirup asap rokok. Sayangnya ada satu dua pengunjung yang masih membuang sampah sembarangan di area outdoor, padahal tempat sampah sudah disediakan, kira-kira dua meter dari mereka berdiri. Duh, harus diapain ya orang-orang seperti ini?

Bravo untuk pengelola Museum Angkut. Museum ini wajib dikunjungi untuk yang berlibur ke kota wisata Batu dan Malang. Semoga keluarga-keluarga di Indonesia jadi semakin cinta museum :) 

~ The Emak