Sabtu, 14 September 2013

Keliling Singapura Naik MRT dan Bus

Keliling Singapura Naik MRT dan Bus

Menunggu kereta MRT di stasiun
"How do we get to our hotel, Mom?" tanya Big A sesaat setelah kami mendarat di Changi.
"Naik bis atau kereta," jawab saya.
"Oh, I forgot THERE IS public transport," sambar Big A sambil nyengir.

Maksud Big A tentu transportasi umum yang nyaman dan nyambung ke mana-mana. Setelah pindah ke Surabaya setahun belakangan ini, satu-satunya transportasi umum dalam kota yang kami gunakan adalah taksi. Padahal selama lima tahunan tinggal di Sydney dan ketika jalan-jalan di kota-kota di Australia, kami pemakai transportasi umum yang setia.

Setelah sempat nyasar di Terminal 1 Changi Airport, kami akhirnya menemukan stasiun MRT di Terminal 3. Saya menghampiri loket dan membeli kartu Ez Link yang bisa digunakan untuk membayar tiket kereta dan bus. Satu kartu baru harganya SGD 12, termasuk 'pulsa' sebesar 7 dolar. Harga kartunya sendiri $5. Selain di loket stasiun MRT, kartu Ez Link ini juga bisa dibeli di toko 7-eleven dan kantor pos.   

Setiap orang dewasa dan anak-anak yang tingginya di atas 90 cm wajib mempunyai kartu sendiri. Ketika itu Little A tingginya sedikit di atas 90 cm, ketika saya tanyakan ke petugas, dia bilang 'no need ticket'. Little A tampak sedih belum boleh punya kartu sendiri. Sementara Emaknya bersyukur, alhamdulillah, ngirit satu kartu :))

Penggunaan Ez Link mudah sekali, kartu ini cukup ditempelkan di pintu stasiun kereta sampai berbunyi "tiiit" dan palang pintu membuka. Segera masuk stasiun sebelum palang menutup kembali. Karena cuma punya satu kartu, saya harus menggendong Little A setiap kali masuk dan keluar stasiun. Little A dengan senang hati bertugas untuk menempelkan kartu. Sementara di bus, kartu ini ditempelkan di mesin pembaca kartu ketika naik bus dan sebelum turun dari bus. Nanti si kartu pintar ini akan menghitung sendiri biaya yang dibutuhkan untuk jarak yang kita tempuh. Kalau masih ragu-ragu menggunakan kartu ini, ikuti saja orang-orang di depan Anda :)

Saya senang dengan cara kerja kartu Ez Link ini karena tidak perlu repot-repot menghitung dan menyiapkan uang kecil untuk naik kendaraan umum. Juga tidak perlu membeli tiket di loket atau sopir bus setiap kali ingin naik kendaraan umum. Tinggal tap in tap out aja. Nanti kalau saldo kita menipis, bisa kita isi ulang di mesin pengisian ulang di stasiun atau di loket. Kartu ini akan 'marah' mengeluarkan bunyi berisik ketika saldonya tinggal sedikit tapi tetap kita pakai di stasiun atau bus. Lebih baik diisi ulang sebelum saldonya ludes karena sisa saldo yang tidak digunakan bisa kita minta kembali ketika kita meninggalkan Singapura. Pengalaman kami, masing-masing kartu diisi ulang (top up) 1 kali sebesar $10. 

Cara isi ulangnya gampang banget. Nggak perlu pinter bahasa Inggris untuk mengerti cara top up kartu ini karena petunjuknya mudah dimengerti dan kelihatan banget. Kita juga bisa memilih tampilan bahasa Melayu. Tinggal letakkan kartu di tempat yang disediakan. Mesin otomatis memberi tahu saldo kartu kita. Kalau ingin top up, tinggal sentuh pilihan top up. Lalu kita masukkan uang kertas atau koin di tempat yang disediakan. Kalau top up berhasil, kartu akan menampilkan saldo baru. Beres dan siap untuk dipakai jalan lagi. Kartu Ez Link ini secanggih Go Card yang dipakai di Brisbane. Sydney aja belum secanggih ini, hehe.

Little A selalu dapat kursi di MRT
Top Up Ez Link
Jalur MRT di Singapura mudah dimengerti dan stasiunnya dilengkapi banyak tanda yang jelas, jadi asal tahu stasiun tujuan dan jalur yang akan kita pakai, dijamin tidak nyasar. Kalau ingin langsung naik kereta dari bandara Changi, naiklah dari Terminal 3 menggunakan jalur hijau. Untuk sampai di kota, kita perlu pindah kereta (bukan pindah jalur) satu kali di stasiun Tanah Merah. Dari stasiun Tanah Merah, kita tetap memakai jalur hijau menuju kota. Kalau penginapan kita di daerah Bugis atau Lavender, tidak perlu pindah ke jalur yang lain. 

Pengalaman kami, yang paling merepotkan adalah ketika harus pindah jalur. Misalnya, karena kami menginap di Novotel Clarke Quay, dari bandara kami harus pindah jalur dari jalur hijau ke jalur ungu di stasiun Outram Park dan akhirnya turun di stasiun Clarke Quay. Untuk pindah jalur, kami harus berjalan jauh banget dan naik turun eskalator. Beda banget dengan stasiun-stasiun di Sydney yang jarak antar jalurnya tidak terlalu jauh. Malah kita bisa melihat trek dan kereta dari jalur lain yang simpang siur dari tangga atau eskalator. Ini karena jalur MRT di Singapura lebih mengutamakan keselamatan. Penumpang tidak bisa melihat trek kereta dan pintu menuju hanya terbuka ketika kereta sudah datang. Jadi nggak ada ceritanya orang bisa menyeberang rel kereta :p  

Kalau memilih MRT untuk keliling Singapura, sebaiknya ketika memilih akomodasi juga menyesuaikan dengan jalur kereta yang akan kita perlukan. Usahakan penginapan paling jauh jaraknya 5 menit jalan kaki dari stasiun terdekat. Perlu diingat, kalau kita membawa anak-anak, jarak lima menit jalan kaki bisa menjadi dua kali lipat. Ketika memilih menginap di Novotel Clarke Quay dan Hostel Boat Quay, saya kurang begitu mempertimbangkan jarak ke stasiun MRT. Toh, kami sudah biasa jalan kaki di Sydney. Ternyata... setelah setahun tinggal di Surabaya dan tidak pernah jalan kaki ke mana-mana (karena jarang ada trotoar), jalan kaki sepuluh menit saja rasanya pegal banget. Dari stasiun Clarke Quay, kami perlu jalan kaki sekitar 20 menit ke Novotel. Aduh biyung, apalagi setelah capek keluyuran seharian. Begitu juga dengan hostel tempat kami menginap, perlu waktu sekitar 20 menit jalan kaki (dengan Precils) dari stasiun Raffles Place. Ketika jalan sih tidak terasa, karena sambil lihat suasana resto-resto cantik di pinggir sungai, tapi setelah sampai di hostel, kaki cenat-cenut tidak karuan :p 


Peta jalur MRT. Klik untuk memperbesar.

Singapura punya website 'ajaib' yang bisa memberi tahu pilihan rute yang bisa kita lalui menuju tempat tertentu, lengkap dengan pilihan naik mobil, taksi, bus atau kereta, plus perkiraan waktu dan ongkosnya. Saya kagum dengan website gothere.sg ini. Website pemkot Sydney saja kalah jauh, terlalu rumit untuk dipakai. Sebelum berangkat ke Singapura, saya sudah menyiapkan rute-rute yang akan kami lalui, saya cetak dari website Go There. Dari Novotel ke Science Centre, dari Novotel ke Singapore Zoo, dari hostel ke Garden by The Bay dan lain-lain. Berbekal peta rute ini, saya tidak perlu nanya tukang tambal ban di pinggir jalan :D

Saya dan The Precils lebih suka naik kereta daripada naik bus. Mungkin karena kereta jalannya lurus dan stabil, jadi tidak membuat pusing. Di kereta MRT, saya dan Little A selalu mendapat tempat duduk. Atau kalau tidak ada tempat kosong, pasti ada penumpang yang memberi kami tempat duduk yang memang khusus disediakan untuk orang disabel, orang tua, ibu hamil atau anak-anak. Kereta MRT bersih dan nyaman. Selain cepat, kereta ini juga memberi pengumuman yang jelas rute yang akan dituju dan akan berhenti di stasiun mana, jadi kalau nyasar, bisa cepat-cepat turun, hehe. Pengumuman di kereta ini disampaikan dalam empat bahasa: Inggris, Melayu, Mandarin dan India. Saya lihat Big A dan Little A senyum-senyum sendiri mendengar pengumuman dalam bahasa yang tidak mereka mengerti.

Selain menggunakan MRT, kami sempat naik bus juga untuk keliling Singapura. Halte terdekat dari Novotel tempat kami menginap ada di seberang jalan, tinggal menyeberang jembatan saja. Malam itu kami naik bus jalur 195 dari Novotel menuju Makan Sutra Gluttons Bay untuk cari makan malam. Kami turun di depan Pan Pacific Hotel dan melanjutkan jalan kaki keliling-keliling sambil melihat suasana malam kota ini. Singapura di malam hari memang cantik. Untungnya, pulangnya, ada halte bus tepat di depan Makan Sutra (semacam kumpulan warung tenda) dan kami bisa turun tepat di depan pintu Novotel. Malam itu perut kenyang dan kaki senang.

Saya tidak ingat membayar berapa untuk tiket bus karena tinggal membayar dengan kartu. Bus di Singapore bagus, bersih dan nyaman. Malam itu penumpang sepi sekali, hanya kami berempat dan satu dua penumpang lain. Naik bus bisa menjadi alternatif keliling-keliling kota ini, terutama untuk jarak dekat. Kelebihan bus dibanding kereta, kita bisa melihat pemandangan, tidak berjalan di bawah tanah. Halte bus juga bisa ditemui di mana-mana. Peta rute bus bisa dilihat di setiap halte, atau kita cari online di website Go There.

Ketika mengunjungi Science Centre, saya dan The Precils juga naik bus dari stasiun Jurong East dan turun tepat di halte depan Science Centre. Begitu juga ketika kami mau ke Singapore Zoo, kami naik kereta dulu ke stasiun Ang Mo Kio, dilanjutkan dengan naik bus 138 ke kebun binatang. Tapi sebenarnya kalau mau ke Singapore Zoo lebih mudah dan lebih cepat naik bus ekspres SAEX (bus swasta). Bus SAEX ini seperti shuttle yang berhenti di depan beberapa hotel kenamaan dan membawa penumpang langsung menuju Singapore Zoo. Waktu itu kami tidak naik bus ini menuju Zoo karena precils tidak bisa bangun pagi, keenakan tidur di Novotel :| Pulang dari Zoo, kami memutuskan naik bus SAEX dan membayar 2x $5. Little A gratis. Untuk rute, jadwal dan tarif bus SAEX, cek di sini.
 
Selama lima hari di Singapura, kami mengeluarkan uang untuk membeli 3 kartu Ez Link sebesar $36, plus isi ulang $30. Tapi setelah kami pakai sampai ke stasiun MRT di Terminal 3 bandara Changi, kami bisa memperoleh refund (kembalian) sebesar $12,40. Jadi kalau dihitung, pengeluaran kami untuk transportasi umum di Changi untuk 4 orang (Little A gratis) = $53,60. Nggak mahal kan?



~ The Emak

Baca Juga:


Hostel 5.FootWay.Inn Project Boat Quay Singapore  [review penginapan]

Minggu, 01 September 2013

Changi Airport, Terbaik di Dunia?

Changi Airport, Terbaik di Dunia?


Kami baru menginjakkan kaki ke belasan bandara sih, dan masih terbatas ke empat negara. Jadi penilaian tentang Changi ini sangat subyektif berdasar pengalaman kami. Tapi sejauh ini, bandara Changi sudah berhasil mencuri hati kami sebagai bandara terbaik. Pelayanan dan kenyamanan di Changi melampaui standar bandara-bandara di Australia dan New Zealand.

Kelelahan karena proses cek in Jetstar di bandara Juanda, kami berempat tertidur di pesawat sampai hampir mendarat. Dari balik kaca jendela, saya melihat langit Singapura yang keruh akibat hadiah kiriman asap dari Riau. Tetangga yang baik. Meski psi reading menunjukkan kualitas udara semakin membaik, saya tetap was was kalau kabut asap ini naik lagi dan memaksa kami memilih tempat wisata indoor saja.

Mendarat dengan mulus, saya segera move on dari kekesalan layanan cek in Jetstar dan menikmati kenyamanan Changi. Meski jarak dari pesawat landing menuju layanan imigrasi cukup jauh, anak-anak (dan Emaknya) tidak rewel karena ada travelator. Little A dan Big A ketawa ketiwi dan malah balapan menuju imigrasi. 


Imigrasi dan Custom
Sebelum melewati imigrasi, kita diminta mengisi kartu kedatangan dulu, yang tersedia banyak di meja layanan sebelum loket imigrasi. Ada petugas yang bisa berbahasa Melayu yang akan membantu kita mengisi kalau ada pertanyaan yang belum jelas. Tapi isiannya mudah kok: identitas diri sesuai paspor, alamat (penginapan) yang dituju dan tujuan datang ke Singapura. Kartu kedatangan ini kita selipkan ke paspor untuk diperiksa petugas imigrasi. Saya salut dengan layanan Changi yang membuka banyak sekali loket imigrasi sehingga tidak terjadi antrean panjang. Waktu paspor dan kartu kami diperiksa, petugas tidak menanyakan apa-apa dan langsung memberikan cap kedatangan. Yay! resmi masuk Singapura, negara keempat di paspor Precils. Petugas juga memberikan potongan dari kartu kedatangan untuk kita serahkan lagi di petugas imigrasi ketika kita keluar dari Singapura nantinya. Kalau sampai potongan kecil ini hilang, repot urusannya.

Btw, yang belum tahu, pemegang paspor Indonesia TIDAK memerlukan visa (izin masuk suatu negara) ketika berkunjung ke Singapore. Jadi tinggal bawa paspor yang masih berlaku minimal enam bulan.

Custom Singapura juga tidak seribet di Aussie dan NZ. Kami lenggang kangkung tidak perlu declare (diperiksa) apa-apa karena nggak bawa barang-barang berbahaya. Kami juga tidak bawa uang setara atau lebih dari SGD 30.000, jadi aman-aman saja tidak perlu lapor.

Kami tidak membawa koper yang masuk bagasi, jadi tidak perlu menunggu antrean ambil bagasi yang letaknya setelah pintu imigrasi dan sebelum custom. Sekarang tinggal cari cara menuju hotel.

Dari dan Ke Bandara
Kebingungan diawali setelah kami melewati custom. Saat itu kami belum memutuskan mau naik bis atau MRT menuju hotel. Taksi ($21) atau airport shuttle ($9 dewasa, $6 anak-anak) bukan pilihan, karena kami pengen yang lebih murah. Setelah sempat nyasar dan tidak menemukan halte bis, kami memutuskan naik MRT. Nah, bodohnya, saya tidak tahu kalau stasiun MRT ada di Terminal 3 Changi, dan bukan di Terminal 1. Dari terminal 1, kami harus naik Skytrain (gratis) ke Terminal 3. Setelah itu, baru deh ketemu stasiun MRT yang akan membawa kami ke kota.

Di Singapore ada website ajaib banget untuk mencari rute dan memberikan alternatif transportasi, plus besaran biayanya. Coba cek gothere.sg. Saya berkali-kali menggunakan website ini untuk merencanakan perjalanan, naik MRT atau bis jalur mana. 

Di stasiun MRT di dalam Terminal 3 Changi, saya membeli kartu Ez Link seharga $12 per orang. Little A masih gratis karena tingginya pas banget 90 cm. Di atas itu harus bayar sendiri. Kartu ini bisa untuk naik bis dan MRT. Cara pakainya tinggal disentuhkan ke card reader di gerbang stasiun atau yang terpasang di bis kota, setiap kali naik dan turun. Nanti si kartu pintar ini akan menghitung dan mengambil sendiri ongkos yang diperlukan.

Harus ganti jalur MRT dua kali dan jalan kaki 15 menit menuju hotel membuat kami kelelahan dan terkapar begitu membuka kamar Novotel. Begitulah harga yang dibayar kalau mau ngirit, hehe. Tapi gakpapa juga sih, bonus pengalaman.



Ternyata pengalaman kami naik MRT dari bandara Changi tidak membuat kami kapok ketika kembali lagi ke sana setelah selesai jalan-jalan. Untungnya kali ini kami tidak perlu berganti stasiun, jadi perjalanan cukup mulus sampai di Terminal 3. Sisa uang di kartu Ez Link dapat ditukarkan kembali di stasiun MRT di terminal 3 ini. Jadi tidak rugi kalau isi ulang kita terlalu banyak. Kartu Ez Link-nya bisa kita simpan sebagai souvenir :)

Cek In, Shopping & Boarding
Proses cek in Jetstar di Changi sangat cepat, tanpa antre. Boarding pass juga dicetak, tidak ditulis tangan :p Setelah beres cek in dan imigrasi, kami menunggu boarding sambil mengagumi instalasi seni, taman dan Social Tree yang cukup menghibur. Di Social Tree, kita bisa foto-foto narsis, dihias dan diunggah ke social media. Little A dan Si Ayah sempat bernarsis ria nampang di Social Tree. Sementara Big A sudah tidak bisa diganggu gugat kalau sudah membaca buku.

Kami sempat makan early lunch di food court. Nasi lemak dan nasi ayam yang yummy membuat saya hampir lupa kalau belum membeli 'oleh-oleh' untuk tetangga. Duh, kebiasaan selama ini nggak pernah beli apa-apa untuk tetangga selama jalan-jalan di Oz dan NZ. Begitu jadi penduduk Indonesia, rasanya kok nggak nyaman kalau ketahuan jalan-jalan tapi gak bawain apa-apa. 

Karena waktu boarding sudah mepet, saya buru-buru membeli cokelat di The Cocoa Tree. Anak-anak dan Si Ayah saya suruh berlari duluan menuju gate. Saya menyusul kemudian. Menuju gate, sudah ada tulisan berjalan: boarding closed. Ini membuat Big A panik sekali. Ketika sampai di depan gate, ternyata kami termasuk yang pertama boarding. Tapi memang tulisannya: boarding closed. Hmm.. mungkin agar penumpang di sini cepat datang dan tidak nyangkut di tempat belanja? 

Ketika melewati security check, gadget kami (laptop, iPad, handphone) harus dilewatkan X-Ray satu persatu dan diberi kupon, tapi tidak sampai diperiksa apa-apa. Petugas menyilakan penumpang yang membawa anak-anak untuk boarding terlebih dahulu. Senang kalau ada layanan seperti ini, tidak perlu 'rebutan' jalan dengan penumpang yang pengennya masuk pesawat duluan, padahal nanti berangkatnya juga sama-sama satu pesawat, haha.


Kami sudah ke beberapa bandara di empat negara, dan memang layanan Changi paling baik, terutama dalam kesigapan menangani security check, imigrasi dan custom. Mereka menempatkan banyak petugas sehingga tidak terjadi tumpukan penumpang. Ini beda jauh dengan pelayanan imigrasi di Bali atau Juanda yang kadang hanya menempatkan dua petugas. Begitu juga di Sydney Airport, layanan imigrasinya selalu membuat frustasi, apalagi pelayanan petugas custom-nya. Tapi tentu saja bandara di Oz dan NZ masih jauh di atas Indonesia dalam hal kebersihan toiletnya. Bahkan toilet di lounge berbayar di Denpasar masih kalah jauh dengan toilet umum gratis di bandara Avalon, kota kecil dekat Melbourne.

Daftar bandara, urut jelek, menurut keluarga Precils ;)

14. Ngurah Rai Airport, Bali, Indonesia
13. Abdul Rahman Saleh Airport, Malang, Indonesia
12. Adi Sucipto Airport, Yogyakarta, Indonesia 
11. Juanda Airport, Surabaya, Indonesia
10. Sydney Airport, Australia
09. Perth Airport, Australia
08. Tullamarine Airport, Melbourne, Australia
07. Adelaide Airport, Australia
06. Hobart Airport, Australia
05. Darwin Airport, Australia
04. Avalon Airport, Melbourne, Australia
03. Christchurch Airport, New Zealand
02. Queenstown Airport, New Zealand
01. Changi Airport, Singapore

Kalau menurut pengalaman kalian bagaimana?

~ The Emak 

Baca juga:

Kamis, 01 Agustus 2013

[Penginapan] Hostel 5.FootWay.Inn Project Boat Quay Singapore

[Penginapan] Hostel 5.FootWay.Inn Project Boat Quay Singapore

Hostel's reception
Boleh nggak sih bawa anak-anak nginep di hostel? Di Singapura boleh-boleh aja tuh, asal di kamar privat.

Setelah over budget menginap di hotel Novotel, saya ingin menyeimbangkan anggaran dengan menginap 2 malam di hostel, yang tarifnya hampir separuh dari tarif hotel bintang empat.

Saya mengandalkan website Hostel World untuk mengetahui daftar hostel yang tersedia di Singapura. Baru kemudian saya cek website masing-masing hostel. Sebagian besar hostel di Singapura, dalam peraturannya menyebutkan, anak-anak di atas usia 2 tahun boleh menginap, asal di kamar privat atau kalau menyewa seluruh bed di dorm (4 kasur atau 6 kasur). 

Setelah browsing dan baca review sana-sini, saya memutuskan memesan kamar di 5.Footway.Inn Project Boat Quay. Grup hostel ini sudah punya banyak properti di Singapura, antara lain di daerah Bugis, Chinatown 1 dan Chinatown 2. Project Boat Quay adalah hostel terbaru mereka. Lokasinya cukup menarik di tepi Singapore River. Sejak melihat foto-foto mereka di website resminya, saya langsung tertarik.

Di hostel, biaya menginap dihitung per orang atau per kasur, bukan per kamar. Tarif di hostel Project Boat Quay ini SGD 34 per orang per malam, atau sekitar Rp 272.000. Total berempat per malam adalah Rp 1.088.000. Saya booking di Hostel World, yang hanya mengenakan deposit 10% dari total tagihan. Deposit saya bayar dengan Pay Pal, sisanya saya bayar tunai di hostel. 

Bunk bed
Double bed
Saya sempat kesal ketika cek in, kamar yang kami pesan, Superior 4 bed Mixed Dorm tidak ada. Padahal saya sudah booking di Hostel World. Mereka menggantinya dengan 2 kamar privat, 1 kamar dengan double bed dan kamar satunya lagi 1 set bunk bed. Saya pikir-pikir nggak papa lah, karena Big A juga sudah cukup besar untuk menjaga adiknya, dan hostel ini dilengkapi pengamanan dengan kartu.

Sudah diduga, Little A senang dengan bunk bed. Kamar privat bunk bed untuk berdua ini sangat sempit dan tanpa jendela. Kamar double bed lebih luas, lantainya yang diberi karpet bisa untuk menggelar barang bawaan dan hasil shopping kami untuk packing di malam terakhir. Masing-masing kamar dilengkapi AC, meja dan bangku, loker yang bisa dikunci, cermin, lampu baca dan colokan charger. Mereka juga menyediakan handuk. 

Kasur, bantal dan spreinya tipis, tidak senyaman kasur di hotel (ya iya laaah). Awalnya saya sempat merasa sesak napas karena sempitnya ruangan tanpa jendela ini. Tapi lama-lama, setelah tersihir sejuknya AC, saya bisa menyesuaikan diri. Apalagi di hostel ini ada fasilitas wifi gratis dengan kecepatan tinggi. Precils bisa anteng streaming You Tube, sementara Emaknya bisa eksis di media sosial. Siapa yang perlu TV layar datar? Dan jendela?

Brekky with a view
Di hostel ini, semua kamar mandinya sharing, tidak ada kamar mandi dalam. Mungkin ini juga yang bikin ragu Emak-Emak lain untuk mencoba hostel. Nanti gimana mandinya di kamar mandi umum? Saya dulu juga begitu, ketika memesan kabin di New Zealand, selalu memilih yang ada kamar mandi dalamnya. Tapi setelah latihan camping di Sydney, dan campervanning Adelaide - Melbourne, kami jadi berani menggunakan toilet dan kamar mandi umum.

Toilet dan kamar mandi perempuan satu lantai dengan resepsionis dan kamar kami, sementara kamar mandi untuk laki-laki di lantai 3. Toilet duduk kering cukup bersih, dengan tisu yang cukup. Ada juga satu toilet dengan semprotan air. Kami tidak pernah harus mengantre untuk memakai toilet atau kamar mandi. Tapi bilik mandi selalu sudah basah lantainya. Desain bilik mandi mereka juga tidak sebagus yang kami temui di Australia, dengan area basah untuk shower dan area kering untuk ganti baju. Bilik mandi di hostel ini cuma seperti ruang bilas di kolam renang di Indonesia. Mereka menyediakan sabun cair dan shampoo dalam dispenser di setiap bilik. Sayangnya cantelan handuk dan gantungan bajunya cuma satu! Lumayan ribet untuk ganti baju, apalagi tidak ada area kering. Tapi ya sudahlah, yang penting badan segar kena air hangat.

Hostel ini juga menyediakan fasilitas laundry dan pengeringan dengan membayar $13 sekali cuci, termasuk deterjen. Saya perlu cuci-cuci karena Little A berbasah-basah di water play Singapore Zoo. Ketika saya lupa mengambil cucian malam-malam, resepsionis cukup berbaik hati mengamankan cucian saya untuk diambil esok harinya.

Satu lagi kelebihan di hostel, mereka menyediakan sarapan gratis. Meskipun 'cuma' roti panggang dengan selai, lumayan lah untuk memulai hari. Yang paling menarik dari hostel ini adalah ruang serbaguna mereka di lantai atas. Dari teras, kita bisa sarapan dengan kopi beneran dari mesin kopi dan roti panggang sambil memandang sungai Singapura yang bersih. Cicit burung menimpali obrolan saya dan Si Ayah pagi itu, tentang... statistik untuk validasi penelitian! Kriuk :)
 

Lokasi hostel ini berada di antara ruko-ruko pinggir sungai yang kalau malam disulap menjadi tempat untuk makan-makan. Banyak resto yang menawarkan seafood, chinese dan Thai food dan ada beberapa bar bergaya pub di Inggris. Saya sempat tanya harga makanan di sekitar sini, yang ternyata lumayan mahal, $25-$35. Kami pun melenggang menuju Lau Pa Sat yang standar harga makanannya cuma $5 - $7. Hostel ini berada di antara stasiun MRT Clarke Quay (jalur ungu) dan stasiun Raffles Place (jalur merah dan hijau), masing-masing ditempuh 10 menit berjalan kaki (jadi 20 menit kalau dengan Precils). Dari dan ke bandara Changi bisa memilih via stasiun Raffles Place.

Secara umum, kami asyik-asyik aja tinggal di hostel. Precils tetap bisa tidur nyenyak dan nggak komplain berbagi kamar mandi dan toilet. Saya, meskipun bisa mendengar langkah-langkah orang di lorong kamar dan sayup-sayup obrolan tetangga sebelah, akhirnya bisa tidur juga karena kelelahan. Si Ayah senang dengan internet cepat dan gratis, saya senang bisa minum kopi beneran dari mesin kopi. Cuma yang saya rasakan, tamu-tamu di hostel ini lebih banyak yang cuek. Saat sarapan, hanya bule-bule yang membalas ucapan Good Morning saya. Sementara orang-orang Asia, ketika disapa, tersenyum pun tidak. Euw!

~ The Emak 

Baca Juga:  

Rabu, 31 Juli 2013

[Penginapan] Novotel Clarke Quay Singapore

[Penginapan] Novotel Clarke Quay Singapore


Little A di depan Novotel Clarke Quay
Mencari akomodasi di Singapura bisa bikin kepala puyeng karena harganya memang paling mahal dibandingkan dengan kota-kota lain di Asia Tenggara. Pilihan saya jatuh pada Novotel Clarke Quay yang tarifnya waktu itu sedang diskon.

Tidak mudah mencari hotel di Singapura yang murah, ramah anak dan bisa mengakomodasi 2 dewasa dan 2 anak dalam satu kamar tanpa tambahan biaya extra bed. Biasanya hotel-hotel murah (bintang 2 dan 3) hanya membolehkan maksimal 3 orang per kamar. Dan kalau harus menambah biaya extra bed, jatuhnya malah bisa lebih mahal daripada hotel bintang 4. Di catatan saya, hotel bintang 4 yang membolehkan 2 dewasa dan 2 anak dalam satu kamar adalah: Holiday Inn (Orchard), Swissotel (Merchant Court dan The Stamford), Village Hotel (Bugis), dan V Hotel Lavender

Mengapa harus tertib mencari hotel yang memang bisa berempat se kamar? Memangnya tidak bisa 'menyelundupkan' satu anak kecil, toh gak makan tempat? Saran saya sih, jangan! Singapura menerapkan aturan ketat tentang jumlah penghuni hotel ini. Setiap orang harus dipindai paspornya oleh pihak hotel. Saya juga banyak membaca cerita di forum-forum kalau yang ketahuan jumlah penghuni kamarnya tidak sesuai dengan peruntukan, wajib membayar ekstra atau bahkan didenda. Udahlah, main aman saja biar liburannya juga nyaman.

Budget saya per malam maksimal Rp 1,5 juta termasuk pajak untuk berempat. Tapi karena frustasi tidak bisa mendapat hotel dengan tarif segitu, saya akhirnya menyerah, memesan 2 malam di Novotel dengan tarif SGD 235 atau Rp 1,880,000 per malam termasuk pajak 17%. Itu saja sudah tarif diskon 40%, kata Accor, grup hotel ini. Saya booking di website resminya menggunakan kartu kredit.

Biasanya saya browsing daftar dan harga hotel yang tersedia di website Hotels Combined. Website ini bisa membandingkan tarif hotel dari banyak booking engine, seperti Agoda, Expedia, Hotels, Venere dan website resmi masing-masing hotel. Jadi kita tinggal memilih tarif termurah. Saya tidak pernah fanatik dengan salah satu booking engine. Minimal, saya bandingkan harga di 3 website sebelum memutuskan membeli. Golden rule: selalu cek harga toko website sebelah :)


Selain faktor kids friendly, ketika memilih penginapan perlu dipertimbangkan juga faktor lokasi. Kalau memang ingin menggunakan transportasi umum, pilihlah penginapan yang dekat dengan stasiun MRT dan atau halte bus. Novotel Clarke Quay terletak di 77A River Valley Road, stasiun MRT terdekat adalah Clarke Quay dan ada halte bus di samping hotel.

Dari airport, kami naik MRT jalur hijau, berganti kereta di Tanah Merah, kemudian lanjut sampai stasiun Outram Park. Dari sana perlu ganti ke jalur Ungu dan naik dua stop sampai di Clarke Quay. Ternyata ganti jalur di dalam stasiun MRT ini cukup jauh jalannya, kadang harus naik turun eskalator/lift. Kami yang dulunya pejalan-pejalan tangguh selama tinggal di Sydney, merasa kewalahan berjalan jauh di kota ini karena sejak di Surabaya hampir tidak pernah jalan kaki ke mana-mana. Duh. Perjalanan dari airport yang perlu dua kali berganti kereta dan jalur dan masih ditambah jalan kaki 10 menit dari stasiun ke hotel membuat kami kecapekan di hari pertama. Kami sampai di hotel jam tujuh malam dan sudah nggak sanggup untuk keluar makan malam. Untungnya lokasi Novotel ini menjadi satu dengan Liang Court Mal, yang mempunyai food court, 7 Eleven, Mc D dan Starbucks. Kami terselamatkan dari kelaparan :))

Daerah Clarke Quay ini cukup ramai kalau malam, banyak restoran dan bar yang buka, diiringi dengan dentuman musik yang hingar bingar. Sepertinya kawasan ini lebih cocok untuk anak-anak muda atau yang berjiwa muda, bukan Emak-Emak kayak saya, hehe.

Kalau boleh saya sarankan, pilihlah hotel yang jaraknya dari stasiun MRT maksimal 5 menit jalan kaki. Kalau bisa sih di atas stasiunnya sekalian seperti di V Hotel Lavender, atau tepat di depan stasiun seperti Swissotel Merchant Court. Selain itu, pilihlah hotel yang dekat dengan stasiun di jalur yang paling sering kita gunakan, sesuai itineray, agar tidak perlu berpindah jalur. Saya agak salah dalam hal ini. Stasiun kami jalur ungu, padahal kami mainnya ke Science Museum (jalur hijau), Singapore Zoo (jalur merah), Orchard Rd (jalur merah), Gardens By The Bay (jalur kuning). Alhasil harus pindah jalur setiap kali naik MRT, dan lumayan bikin capek. Lain kali, saya akan rela menambah sedikit anggaran hotel asal lokasinya bagus dan menghemat banyak waktu untuk mengunjungi tempat-tempat yang kami rencanakan.


Kami menginap di kamar Eksekutif dengan dua tempat tidur single. Kamarnya cukup luas, tapi kasurnya tidak sebesar di Holiday Inn. Sepertinya cuma 120cm lebarnya, lupa nggak mengukur waktu itu. Tapi cukuplah buat kami yang posturnya kecil-kecil ini :p Kasur dan bantal cukup nyaman, membuat The Precils susah bangun pagi. Fasilitas sama dengan layaknya hotel bintang 4 lainnya: minibar, TV layar datar dengan saluran TV kabel, sofa, setrika, jubah mandi, safe deposit box, minibar, ketel listrik plus kopi, teh dan gula, air mineral gratis, shower, bath tub dan ubarampe mandi.

Yang saya rindukan dari penginapan-penginapan di Australia yang tidak ada di Indonesia dan Singapura adalah susu segar kemasan kecil gratis di minibar untuk membuat kopi. Di sini cuma disediakan krimer. Susu harus beli sendiri.

Di hotel ini kami tidak sempat menggunakan kolam renang, saking capeknya jalan-jalan seharian. Kami juga tidak mendapatkan sarapan di hotel, karena paketnya memang begitu. Lagipula, Si Ayah harus berangkat ke tempat konferensi jam 6.30 pagi, tidak cukup waktu untuk sarapan dengan nyaman di hotel. Pagi pertama saya beli sarapan takeaway di Mc D untuk dimakan di kamar. Hmm... hash brown! Pagi berikutnya setelah cek out dan pindah ke hostel, saya ajak anak-anak brunch di Starbucks. Hmm... yummy almond cake.

Di lobi tersedia internet gratis selama 20 menit dengan iMac. Sedangkan internet di kamar harus bayar, meh! Ini yang tidak saya suka dari hotel berbintang, mereka mengutip tarif mahal untuk layanan berbiaya murah yang seharusnya menjadi hak semua tamu sekarang ini. Ridiculous.


Hotel ini cukup nyaman, Big A dan Little A betah di sini. Ini Novotel ketiga tempat kami menginap setelah Novotel Canberra dan Novotel Sydney Olympic Park. Pelayanan yang kami dapatkan standar, khas Novotel? :) Kami tidak ada komplain dengan hotel ini, tapi juga tidak ada yang sangat berkesan, semua biasa-biasa saja. Apakah kami akan menginap di sini lagi suatu saat nanti? Hanya kalau ada penawaran yang benar-benar spesial.

Mainan di lobi

~ The Emak

Baca juga:  

Selasa, 30 Juli 2013

Terbang ke Singapura dengan Jetstar

Terbang ke Singapura dengan Jetstar

Pesawat Jetstar di bandara Juanda
Untuk penerbangan domestik Australia, kami selalu mengandalkan Jetstar karena tarifnya yang murah. Ketika memilih Jetstar untuk terbang dari Surabaya ke Singapore, kami tidak ragu pada pelayanan mereka. Tapi ternyata...

Seperti biasa, saya langsung mencari-cari tiket pesawat begitu tujuan dan tanggal berlibur ditetapkan. Ketika itu ada promo Kids Fly Free dari Jetstar, yang artinya setiap beli 1 tiket dewasa, 1 anak bisa terbang gratis. Saya memutuskan membeli karena harga tiket pp SUB - SIN yang jatuhnya Rp 850 ribu per orang lebih murah daripada tiket di maskapai lain untuk tanggal tersebut. Berhubung Jetstar ini maskapai murah, tentu ada tambahan biaya ini itu. Saya membeli 1x bagasi 20kg seharga Rp 140.000 untuk tiket pulang, jaga-jaga menampung barang belanjaan, hehe. Karena khawatir tidak mendapat tempat duduk berdekatan, saya juga membeli pilihan tempat duduk untuk tiga kursi seharga Rp 235 ribu. Pilihan yang langsung saya sesali karena sebenarnya kita tidak perlu 'membeli' nomor kursi ini. Ketika melakukan online cek in, komputer secara otomatis akan memilihkan tempat duduk. Kalau tidak mendapat tempat duduk berdekatan, baru kita 'terpaksa' membeli. Ini yang saya lakukan untuk tiket pulangnya, tanpa membeli pilihan tempat duduk, kami tetap bisa duduk berdekatan. Yang paling menyebalkan adalah biaya tak terduga untuk pembayaran dengan menggunakan kartu kredit. Soalnya di website Jetstar Indonesia, tidak ada pilihan pembayaran lain selain menggunakan kartu kredit, ini pun dihitung per orang per sektor. Alhasil saya harus merogoh kocek lagi sebesar Rp 360 ribu untuk 8 tiket. Di website Jetstar Australia, untuk menghindari biaya kartu kredit ini, saya membayar dengan transfer bank. Sayangnya fasilitas seperti ini belum ada di website Jetstar Indonesia, masih kalah sama Air Asia yang bisa dibayar dengan internet banking Klik BCA. Alhasil dengan tambahan biaya ini itu, total jenderal yang harus saya bayar untuk 4 tiket pp Surabaya - Singapura adalah Rp 3.783.045.

Biaya tambahan dan biaya tersembunyi sudah saya maklumi, meski harus saya waspadai untuk pembelian tiket selanjutnya. Yang lebih mengecewakan saya  adalah pelayanan cek in Jetstar di bandara Juanda, yang sangat lamban meski antrean penumpang tidak banyak. Kami terbiasa menggunakan online cek in kalau fasilitas tersebut tersedia. Sayangnya, di Jetstar Indonesia yang dioperasikan oleh Valuair ini, orang yang sudah cek in online, memilih nomor kursi dan hanya membawa tas kabin, tidak diberi jalur khusus. Ketika kami cek in, ada empat petugas yang melayani empat antrean penumpang. Dasar apes, kali ini kami memilih antrean yang paling lambat. Lima belas menit tidak ada kemajuan. Saya masih bisa guyon, mungkin boarding pass-nya ditulis dengan tangan, haha. Setengah jam, baru empat orang yang terlayani. Precils (dan Emaknya) mulai rewel. Kami bisa maklum menunggu setengah jam kalau ada 15 orang di depan kami. Ini hanya ada enam orang, tapi kami harus berdiri dalam antrean selama 45 menit. Pelayanan yang sangat lamban dan buruk. Ternyata, yang tadi saya jadikan guyonan benar-benar terjadi: boarding pass ditulis dengan tangan! What the! Hare gene masih cek in secara manual? Dan mas petugas ini menulis dengan slow motion. Kami sudah berkali-kali naik Jetstar, dari Sydney, Melbourne, Darwin, belum pernah mengalami proses cek in separah ini.

Yang membuat saya tambah heran, tidak ada penumpang yang protes. Sudah biasa? Pantas saja petugas tidak merasa berbuat kesalahan dengan melayani penumpang selambat ini, tidak ada standar customer service yang bagus. Setelah cek in beres, Si Ayah sempat protes atas tidak adanya jalur khusus untuk yang sudah cek in online dan tentu saja protes karena pelayanan yang lamban. Petugas sangat defensif dan berkata, "Soalnya penerbangan penuh." Tanpa minta maaf. Lho, bukannya seharusnya itu yang kalian harapkan, penerbangan penuh? "Anda tidak siap bisnis Anda jadi besar?" kata Si Ayah. Saya sendiri juga tidak rela membayar pajak bandara sebesar Rp 150 ribu dan mendapat pelayanan seperti ini. 

Little A selalu membaca buklet keselamatan dengan seksama
Welcome to Changi
Penerbangan berlangsung mulus, pesawat lepas landas dan mendarat tanpa goncangan yang berarti, thanks to the pilot. Perlu waktu sekitar dua jam untuk terbang dari Surabaya menuju Singapura. Karena capek dan kesal dari proses cek in, kami cuma istirahat dan tertidur tanpa memesan makanan atau minuman. Tapi saya perhatikan pelayanan pramugari cukup baik kepada penumpang.

Kenyamanan bandara Changi di Singapura mampu membuat kami melupakan kekesalan proses cek in. Kami tak perlu jalan capek-capek menuju imigrasi karena ada travelator. Di pemeriksaan imigrasi pun kami tidak perlu antre karena petugas cukup banyak. Terasa banget bedanya bandara yang mengutamakan pelayanan pelanggan dengan yang tidak.

Untungnya, proses cek in ketika kami pulang berjalan sangat mulus tanpa antre. Tas kabin kami masing-masing ditimbang dan tidak boleh melebihi 10 kg per tiket. Aman lah, karena ransel kami cuma sekitar 4-5 kg. Tas bagasi saya pun cuma sekitar 6 kg. Proses cek in di Changi hanya sekitar 3 menit. Thank God, boarding pass kami tidak perlu lagi ditulis dengan tangan. Ketika boarding, kami dipersilakan masuk ke pesawat terlebih dahulu karena bersama dengan anak-anak. Kebijakan ramah anak-anak, orang tua dan difabel seperti ini juga kami jumpai di bandara Melbourne, Queenstown dan Christchurch.

Cek in di Changi mulus
Bedanya Juanda dan Changi
Saya tidak punya masalah dengan layanan Jetstar Indonesia di atas pesawat, juga dengan tarif mereka. Tapi selama pelayanan cek in mereka di bandara Juanda masih selamban itu, saya akan pikir-pikir lagi untuk naik Jetstar alias Valuair ini. Apalagi sekarang, kami juga punya pilihan maskapai lain yang melayani rute direct Surabaya - Singapura: Air Asia, Mandala Tiger Air, Lion Air, Garuda Indonesia dan Singapore Airlines.

Ada yang pernah dapat boarding pass ditulis tangan juga? Seberapa lama proses cek in?

~ The Emak

Baca juga:


- Hostel 5.FootWay.Inn Project Boat Quay Singapore  [review penginapan]


Jumat, 26 Juli 2013

[Penginapan] Griya Pesisir Pantai Pulang Sawal

[Penginapan] Griya Pesisir Pantai Pulang Sawal

Beach front accommodation
Setelah berkali-kali gagal menelepon penginapan-penginapan lain di sekitar pantai Pulang Sawal alias Indrayanti, akhirnya Dila, adik saya berhasil menghubungi pemilik Griya Pesisir. Di akun Facebook-nya, penginapan ini tidak begitu meyakinkan. Tapi ternyata, lumayanlah untuk menginap semalam dan menikmati senja dan pagi di pantai. Fasilitas memang sangat basic, tapi pemandangan laut dari balkon luar biasa.
Gunung Kidul, Yogyakarta punya banyak pantai cantik di pesisir selatan. Sayang, belum banyak akomodasi dengan standar bagus untuk pengunjung yang ingin menginap. Biasanya, orang-orang melakukan day trip dari Yogyakarta. Memang jarak Jogja dengan pantai-pantai di Gunung Kidul bisa ditempuh sekitar 2,5 - 3 jam. Tapi kami tidak ingin terlalu capek dan memutuskan menginap semalam di akhir pekan.

Ternyata tidak mudah memesan penginapan di sekitar pantai Pulang Sawal. Saya browsing di internet, tidak ada informasi lengkap mengenai akomodasi di Indrayanti. Saya juga minta tolong teman yang kebetulan main ke pantai ini untuk mencatat nomor kontak penginapan yang bisa dihubungi. Tapi ternyata tidak bisa tersambung. Di tengah ketidakpastian, saya mendapatkan akun facebook Griya Pesisir yang tidak begitu meyakinkan. Tapi tidak ada salahnya dicoba, kan?

Akhirnya Dila berhasil menelepon nomor 0877-3801-7351 ini dan memesan satu kamar untuk kami berdelapan. Harga yang semula Rp 750 ribu dia tawar menjadi Rp 700 ribu :) DP 100 ribu kami kirimkan lewat transfer bank. Ketika memesan, belum jelas fasilitas apa yang akan kami dapatkan nantinya. Tapi pemilik penginapan meyakinkan kamar ini muat untuk 6 orang dewasa dan 2 anak-anak.

Untuk jaga-jaga, kami membawa sleeping bag, thermos, berbotol-botol air mineral dan banyak makanan instan. Sedia payung sebelum hujan, sedia camilan daripada kelaparan :p Mobil New Avanza yang kami sewa seharga 250 ribu perhari pun jadi terlalu penuh makanan :D

Dua double bed dan satu sofa bed
Basic toilet
Lika-liku perjalanan menuju pantai Pulang Sawal sudah saya ceritakan di sini. Kami menemukan penginapan Griya Pesisir di tepi jalan dekat lapangan tempat parkir pantai yang sudah penuh sesak dengan mobil dan bus. Kami disambut Mas Nardjo, penjaga penginapan yang langsung menyilakan kami memarkir mobil di dalam.

Penginapan ini terdiri atas dua lantai. Lantai pertama dipakai untuk parkir dua mobil, plus dapur dan tempat duduk-duduk. Sementara di lantai dua ada tiga kamar tamu berukuran sedang dan balkon luas yang asyik untuk leyeh-leyeh dan memandang lautan.

Ukuran kamar kami kira-kira 4x5 meter. Ada satu dipan dengan double bed, satu kasur dobel ekstra yang bisa digelar di lantai kayu dan satu sofa bed yang bisa dipakai tidur satu orang dewasa. Di ujung kamar ada kamar mandi basic dengan toilet duduk, ember dan shower head dari pipa pralon kecil :) Wastafel kecil menempel di luar kamar mandi. Mereka juga menyediakan handuk dan dispenser sabun dan shampoo.


Ada dispenser air panas dan dingin di balkon. Tapi kalau butuh air mendidih, kita juga bisa meminta Mas Nardjo untuk memanaskan air di dapur. Pagi harinya disediakan air satu thermos plus kopi, teh dan gula. Dan ternyata kami mendapat sarapan dua piring nasi goreng dengan telur! Rasanya? Ehm... bisa dimakan lah :))

Di kamar kami ada kipas angin, tapi tidak terlalu dibutuhkan karena cuaca yang cukup nyaman. Suhu udara tidak terlalu panas dan angin laut bertiup cukup kencang. Jangan ditanya bagaimana kami bisa tidur berdelapan, hanya dengan 2 kasur dan 1 sofabed. We could manage :)

Kami cukup senang menginap di sini. Bapak saya yang sudah tidak kuat berjalan kaki jauh, tetap bisa menikmati suasana pantai dengan duduk-duduk di balkon. Little A ditemani Om dan Tante juga puas main air di depan penginapan persis dan bilas dengan pancuran air bersih di lantai bawah. Ibu saya puas jalan-jalan ke mana-mana dan membeli camilan macam-macam. Saya puas bisa pacaran sama Si Ayah ;) 

Ketika jalan-jalan pagi, saya sempatkan untuk melihat penginapan lain di sekitar. Ada Penginapan Walet di seberang jalan pantai yang menyediakan guest house dan camping ground. Tarif penginapan ini Rp 350 ribu semalam per kamar. Bangunan guest house ini tampak bagus dan lingkungan sekitarnya pun tertata apik dan bersih. Tapi sayangnya lokasinya tidak berada di pinggir pantai persis sehingga tidak mendapat pemandangan laut. Penginapan ini kira-kira 50 meter dari pantai, terhalang kafe Indrayanti dan jalan aspal. Untuk memesan, bisa menghubungi 087838601129 atau 082133065501. Good luck :)
Rombongan Darmawisata :))
Griya Pesisir terlihat dari atas bukit
~ The Emak

Baca juga:
Indrayanti Sang Primadona Gunung Kidul
Review Hotel Melia Purosani Yogyakarta