Jumat, 12 April 2013

Quick Bali with Kids

Quick Bali with Kids

Senja yang mendung di Kuta
Kami sudah sering selalu transit di Bali setiap kali melakukan perjalanan dari Indonesia - Australia atau sebaliknya, tapi rasanya belum pernah mengunjungi Bali dengan 'baik dan benar'. Trip kali ini pun sekedar kabur sebentar, menginap dua malam di Bali.

Sebenarnya ini liburan spontan, tanpa rencana. Tahun lalu, ketika kami masih tinggal di Sydney, dan koneksi internet masih 10x lipat lebih cepat daripada di sini, saya berhasil mendapatkan tiket 'gratis' Air Asia untuk Surabaya - Bali seharga Rp 5000 per orang. Saya beli saja waktu itu tanpa berpikir, kalau pun nanti tidak jadi kami pakai juga tidak rugi-rugi amat, total tiket berempat pp cuma 40 ribu :D

Jadwal penerbangan kami: berangkat Minggu siang dan pulang Selasa pagi. Jadi kami cuma punya waktu satu setengah hari efektif untuk main-main di Bali. Karena tidak punya waktu banyak, saya putuskan untuk tinggal dekat dengan bandara dan rencananya memang cuma pengen leyeh-leyeh di hotel saja. Tak disangka, salah satu teman menawarkan untuk menginap di Vila barunya di daerah Canggu. Wah, rezeki nggak boleh ditolak kan? Lumayan, sponsor liburan kami bertambah: Air Asia dan teman pemilik Vila. #okesip

Saatnya #pengakuan: kami belum pernah naik Air Asia! Untuk pesawat murah domestik Australia kami mengandalkan Jetstar. Dilihat dari interiornya, kursi Air Asia ini mirip dengan Jetstar. Hampir tidak ada bedanya. Empat hari sebelum berangkat, saya sudah melakukan web check in dan mencetak sendiri boarding pass, jadi cepat banget waktu cek in di counter. Kami juga tidak membawa checked baggage, tas untuk dimasukkan bagasi. Cuma bawa ransel masing-masing udah cukup kok. (Alasan utama adalah malas beli biaya tambahan untuk bagasi :p) Ternyata memang lebih asyik traveling tanpa bawa bagasi :)

Karena skip ketika ada tawaran memilih kursi, saya sedikit khawatir tidak mendapatkan kursi berdampingan, kan repot kalau saya dan anak-anak duduknya terpencar. Tapi ternyata bisa diakali. Kalau tidak ingin membeli kursi, usahakan web check in awal. Komputer akan memberikan nomor kursi secara otomatis. Biasanya sih kalau beli tiketnya bareng bisa dapat kursi bersebelahan. Kalau kursinya terpencar, baru 'terpaksa' menggunakan pilihan untuk ganti kursi. Berangkatnya saya duduk bertiga dengan Little A dan Big A, sementara Si Ayah duduk sendiri di depan kami. Pulangnya kami duduk terpencar dua-dua, selisih dua baris. Saya dengan Little A dan Si Ayah dengan Big A. Penerbangan dengan Air Asia kali ini lumayan mulus, pilotnya jago kok. Dari SUB - DPS tidak ada penjualan makanan di pesawat, mungkin tidak ada yang pesan? Sementara di penerbangan sebaliknya jual makanan. Big A tampak senang dan motret-motret dengan kamera sakunya. Saya senang karena ini salah satu tanda kalau dia tidak bosan. Penerbangan cuma berlangsung 50 menit. Belum sempat 'mabuk', kami sudah disuruh siap-siap mendarat lagi :))

Kami tiba di bandara Ngurah Rai jam dua siang. Teman kami dan sopirnya sudah siap menjemput. Perjalanan dari bandara ke Canggu penuh horor, melewati jalan-jalan kecil yang kalau untuk berpapasan mobil, bisa cuma selisih satu senti. Untung sopir kami jago banget, meliuk-liuk dengan luwes di antara pengemudi Bali yang... tidak pakai aturan. Saya yang baru bulan Juni tahun lalu ke Bali tidak begitu kaget. Si Ayah yang terkaget-kaget melihat perkembangan Bali sejak dia tinggalkan empat tahun yang lalu. Memasuki daerah Petitenget menuju Canggu, sawah-sawah sudah berubah menjadi Vila. Kata teman saya, vila-vila ini 'dimiliki' warga negara asing, meskipun mereka sebenarnya dilarang punya properti di Indonesia, tapi ada aja caranya. Saya bertanya-tanya, kalau sawahnya habis, terus pemandangannya apa ya?

Mendekati Canggu, semakin banyak terlihat penjor yang daunnya mulai layu, terpasang di depan rumah-rumah penduduk, dihiasi sajen-sajen cantik. Payung dengan 'ekor' warna-warni melambai di tepi pematang. Masih terasa aroma hari raya Galungan dan Kuningan. Di satu ruas jalan kami harus memutar melalui gang kecil karena jalan ditutup untuk upacara. Teman kami bilang: "Yang pengen cepat-cepat ke bandara pasti nangis kalau ketemu upacara di sini." ^_^

Canggu adalah daerah di antara Kuta dan Tanah Lot. Pantai-pantai yang ada di sini antara lain: Berawa dan Echo beach yang ombaknya terkenal bagus untuk berselancar. Kami sempat melipir ke pantai Berawa di depan hotel Legong Keraton, tapi the precils tidak mau turun. Ya sudah, kami langsung ke vila yang kira-kira dua kilometer dari pantai.


Little A dan The Emak di kabin Air Asia
Foto oleh Big A. Canon Powershot S 95
Vila teman kami ada di tengah sawah yang hijau. Begitu masuk, kami langsung kesengsem sama kolam renangnya. Meskipun kecil, kolam ini cukup asyik untuk berenang. Karena tidak perlu berbagi dengan orang lain, serasa punya kolam renang pribadi. Lucu juga berenang sambil melihat hamparan sawah menghijau, ayam dan bebek yang mencari makan dan petani yang sibuk bekerja. Kalau untuk bule yang jarang-jarang lihat tanaman padi pasti eksotis sekali :)

Villa compound ini punya 3 vila: 1 vila dengan dua kamar tidur dan 2 vila masing-masing satu kamar tidur. Satu vila dihuni sendiri oleh teman kami dan istrinya yang sangat ramah menyambut kedatangan kami. Teman kami yang baik ini menyilakan kami menggunakan vila dengan dua kamar tidur. Wah, pengalaman menginap di vila ini asyik sekali. Nanti saya tulis tersendiri ya... Kami menutup hari dengan makan malam ikan bakar yang dibeli dari pasar ikan Jimbaran.

Budget Hari Pertama
Taksi ke bandara Rp 45.000
Tiket pesawat AA SUB-DPS, 4x 5000 = Rp 20.000
Pajak bandara 4x 40.000 = Rp 160.000
Roti Boy Rp 51.000
Total Hari Pertama = 276.000

Kolam renang di Vila Adem Ayem, Canggu
Big A ngelamun di bale bengong
Vila kami letaknya lumayan tersembunyi dari jalan besar, jadi suasananya tenang sekali, cocok untuk yang pengen menyepi. Paginya kami sarapan masakan rumahan yang dimasak sendiri oleh istri teman. Ngopi, sarapan sambil ngobrol di bale bengong pinggir kolam, rasanya tidak pengen pulang! Big A juga asyik ngelamun sambil kakinya kecipak-kecipuk di air kolam. Tenang dan damai. Saya ngobrol ngalor ngidul dengan istri teman yang sudah lama tinggal di Bali. Obrolannya mulai dari pergeseran gaya hidup anak-anak muda di sini yang menurutnya sudah seperti orang bule, sampai pemberantasan anjing-anjing liar di Bali dengan ditembak karena rabies. Jam 11.30 siang kami baru siap menuju Kuta. Hitungannya late check out ya kalau di hotel.

Perjalanan dari Canggu ke Kuta lebih horor lagi daripada kedatangan kami dari bandara. Di tengah jalan kami berpapasan dengan macam-macam tingkah manusia. Ada yang menaruh pasir bangunan sampai menutup setengah jalan, ada yang memarkir mobil besarnya sampai mengambil satu lajur, dan tentu saja banyak sepeda motor di kiri kanan yang melesat cepat, seolah pengemudinya punya nyawa dobel. Di Canggu, beberapa perempatan penting dan ramai tidak ada lampu lalu lintasnya. Kata sopir kami percuma saja, banyak yang tidak menaati. Jadi masyarakat sini mengatur dirinya sendiri. Ya sudah, kami menikmati saja sirkus jalan raya ini. Tipsnya: jangan nyetir sendiri di Bali, serahkan pada ahlinya.

Selanjutnya kami melewati jalan yang lebih lebar di Seminyak. Di kanan-kiri jalan banyak berdiri butik-butik kecil dan kafe-kafe lucu. Saya jadi teringat suburb-suburb di Australia yang suasananya seperti ini. Terutama di Byron Bay. Bule-bule yang berseliweran menambah suasana mirip kampung di Australia. Sepertinya Bali ini sudah diangkat menjadi kampung halaman kedua mereka. Sama mengamati beberapa bule sudah mahir mengendarai sepeda motor seperti orang lokal. Yang saya lihat, banyak yang memodifikasi sepeda motor mereka dengan besi pengait di samping. Tadinya Si Ayah mengira untuk membawa galon air mineral, hehe. Ternyata untuk membawa surf board. Saya cuma bisa tersenyum melihat seorang Ayah Bule yang melesat kencang dengan sepeda motor tanpa helm, membawa anak balitanya yang berdiri di depan. Indonesia banget! Kalau di negaranya sana, mana berani melakukan seperti itu. Membawa anak-anak di dalam mobil yang 'aman' saja harus 'diikat' di car seat. Mana istilah yang tepat: Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya atau Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung? Tanda bahwa akulturasi budaya sudah berhasil? :)

Ruas jalan yang paling ramah pejalan kaki menurut saya adalah Jalan Legian. Jalan sempit satu arah ini ditutup dengan paving, bukan aspal, sehingga kendaraan bermotor lebih pelan ketika lewat. Di sepanjang jalan ada toko-toko kecil, semua ada di sini: fashion, art, cafe. Saya juga mengeja deretan hotel-hotel yang kami lalui, yang namanya sudah saya hafal luar kepala saking seringnya mengintip Hotels Combined :D Sopir kami melambat ketika kami melewati Ground Zero, Monumen Bom Bali. Sopir bertanya apa kami mau berhenti dan singgah sejenak? Saya menggeleng, terlalu sedih bahkan untuk mengingatnya. Di pantai-pantai Sydney (Coogee, Bronte, Malabar, Maroubra dll) didirikan monumen kecil untuk mengenang warga lokal korban bom Bali. Biasanya setelah bermain di pantai, kami menghampiri monumen-monumen kecil ini sejenak, menatap bunga yang kadang diletakkan di sana, sambil mengeja nama-nama orang yang nyawanya diambil oleh pembunuh dari negeri kami.

Kami mampir sebentar untuk menitipkan tas di Hotel Hard Rock, dan diturunkan sopir di Mal yang terhitung baru: Beachwalk. Mal ini cukup asyik, konsepnya terbuka dan enak dibuat jalan-jalan. Karena kami ke sana hari Senin, Mal tidak ramai. Kami cuma belanja sebentar di Roxy dan langsung keluar lagi. Tadinya mau makan siang di sini. Tapi harga makanannya bikin niat kami menciut. Resto-resto yang buka di sini kelas menengah ke atas, dengan paket makan siang sekitar 125K - 150K per orang. Benar-benar harga Aussie, sayangnya dolar kami sudah habis.

Vending Machine sandal Havaianas
Mal baru, BeachWalk
Hore, ada trotoar!
Si busur kuning menyelamatkan kami dari kelaparan. Kenyang, kami jalan kaki ke hotel, sekitar 300 m dari Mal. Saya senang karena ada trotoar yang berfungsi sepanjang jalan. Trotoar ini mulus, nggak bolong, nyambung dan tidak dikuasai pedagang kaki lima (penting!). Kalau di sepanjang jalan dibuat trotoar seperti ini, kami tidak akan keberatan jalan kaki. 

Cek in di Hotel Hard Rock, kami disambut dengan kejutan yang menyenangkan: kamar kami di-upgrade jadi Kids Suite! Yay! Rupanya Hard Rock juga pengen menjadi co sponsor liburan kami, hehe. Big A tak bisa berhenti tersenyum, karena menginap di kamar Kids Suite ini sudah menjadi cita-citanya sejak dulu. Hanya saja Emaknya baru sanggup untuk booking kamar biasa.

Kami sangat terkesan menginap di Hard Rock. Tadinya saya pilih hotel ini karena review yang bagus di Trip Advisor. Juga karena sesuai kriteria saya: dekat dengan bandara, pantai, dan ada kolam renang untuk anak-anak. Harganya pun masuk akal, satu kamar bisa untuk dua dewasa dan dua anak tanpa perlu extra bed. Review hotel selengkapnya akan saya tulis di postingan tersendiri ya.


Little A loooove her special room
Kids pool at Hard Rock hotel
Mengintip upacara
Selesai main-main air di kolam renang, kami melihat sunset di Pantai Kuta, yang tinggal menyeberang jalan dari hotel. Big A tidak ikut karena ingin mencoba PS3 yang disediakan di Kids Suite. Pantai Kuta sekarang lumayan rapi, lebih sedikit sampah, dan tidak terlalu ramai (mungkin karena hari Senin?). Pedagang yang berjualan di sana pun tidak terlalu mengganggu. Mereka punya kartu identitas dan mestinya sudah di-training cara berdagang yang tidak mengganggu. Little A gembira banget ketika Si Ayah setuju membelikannya kalung dan gelang dari pedangan asongan.

Sayangnya cuaca mendung, jadi kami gagal menikmati sunset yang berwarna di pantai Kuta. Saya dan Little A asyik bermain pasir, membuat sumur dan benteng untuk menghindari ombak. Sementara Si Ayah sibuk memotret orang-orang yang sibuk memotret :D Di sebelah-sebelah kami menggelar sarung Bali, banyak turis mancanegara. Dari obrolan mereka, saya tahu mereka dari Malaysia, Cina, Jepang, Amerika Latin dan tentu saja Australia.


penjaja di Kuta, pakai ID card
Little A pamer gelang dan kalung barunya :)
Little A cukup puas bermain di pantai. Sayangnya saya tidak menemukan tempat bilas di dekat pantai, seperti fasilitas standar di pantai-pantai di Australia. Mungkin disediakan, tapi saya tidak bisa menemukan karena hari sudah gelap. Kami kembali ke hotel dengan pasir yang menempel di kaki.  

Budget Hari Kedua
Tips Sopir Rp 100.000
Roxy rash vest Rp 345.000
Mc Donald  Rp 123.000
KFC Rp 117.000
Hotel Hard Rock Rp 1.204.764
Sandal 2x Rp 145.200
Gelang Kalung Rp 15.000
Total hari kedua Rp 2.049.964

Little A was trying to stop the wave
Can't catch meeee.... :p
Liburan yang benar-benar singkat. Pagi harinya kami harus early check out tanpa sarapan di hotel karena mengejar flight jam 7.35. Pihak hotel sudah mengantar empat box sarapan ke kamar kami jam 5 pagi. Concierge membantu kami mencari taksi (Blue Bird) di depan hotel. Perjalanan ke bandara cukup lancar karena masih pagi sekali, cukup 15 menit. Hanya saja kami perlu berjalan kaki cukup jauh sampai ke area boarding di bandara Bali yang baru ini. Benar-benar olahraga pagi.

The Precils sudah siap-siap dengan seragam sekolahnya. Rencananya, dari bandara Juanda, kami akan langsung naik taksi ke sekolah. Big A menyeletuk gembira, "Ma, kita berangkat sekolah naik pesawat, haha." Little A yang masih mengantuk, menyambut dengan sedikit merengut, "This is too short, Mommy. I want TEN DAYS holiday." Hehehe, "Me too, Darling."

Budget Hari Ketiga
Taksi ke bandara Rp 48.000
Tiket pesawat AA DPS - SUB 4x 5000 = Rp 20.000
Pajak bandara 4x 40 = Rp 160.000
Taksi dari Juanda Rp 101.000
Total hari ketiga Rp 329.000

Grand Total = Rp 2.654.964

~ The Emak

Baca Juga:
Review Hard Rock Hotel Bali

Senin, 04 Maret 2013

[Penginapan] Holiday Inn Melbourne Airport

[Penginapan] Holiday Inn Melbourne Airport


Shuttle gratis ke bandara. Foto dari website www.ihg.com
Hotel di sebelah Melbourne Airport (Tullamarine) ini Holiday Inn ketiga yang pernah kami tinggali. Dan kami semakin jatuh cinta dengan brand ini :)

Setelah delapan malam menginap di dalam campervan yang sempit, saya ingin malam terakhir kami di Australia (hopefully bukan malam terakhir beneran) dihabiskan di atas kasur empuk berpendingin ruangan. Hotel pilihan saya adalah Holiday Inn Melbourne Airport yang hanya lima menit dari bandara dengan shuttle gratis. Bayangan saya, kami bakalan kecapekan sekali setelah 9 hari berpetualang dengan campervan, dan tidak akan banyak mengeksplorasi kota Melbourne lagi. Lagipula, pesawat kami ke Denpasar pagi, jadi lebih aman kalau menginap di dekat bandara.

Di Melbourne, kami cuma singgah sebentar ke Queen Victoria Market untuk membeli pesanan oleh-oleh dari Mama mertua dan makan siang (dan window shopping). QVM ini lebih besar dari Paddy's Market di Sydney, tapi pilihan oleh-oleh made in china nya lebih terbatas. Lebih banyak lapak non souvenir yang berjualan di QVM, mulai dari barang kerajinan, fesyen warna warni, tas, camilan, buah dan sayur, sampai bunga segar.

Ini sudah ketiga kalinya kami ke Melbourne. Yang pertama, kami mencapai Melbourne lewat bandara Avalon, kemudian naik bis 50 menit menuju kota. Kami menginap empat malam di apartemen Milano yang tinggal jalan kaki 10 menit ke pasar QVM ini. Kesempatan kedua, kami singgah semalam setelah menyeberang dari Tasmania naik feri untuk menuju New Zealand keesokan harinya. Kami menginap di Hotel Parkview di St Kilda, mencapai bandara dengan mobil sewaan yang kami pakai keliling Tasmania dan meninggalkan mobil sewaan di bandara.

Kamar dengan dua double bed, muat untuk berempat. Foto dari www.ihg.com
Saya memesan kamar ini di websitenya, dengan tarif AUD 201,99. Tidak murah karena bukan tarif diskon. Tapi memang hotel di Aussie mahal-mahal sih. Saya sudah tergabung jadi member Priority Club mereka, jadi lumayan bisa tambah poin yang nantinya bisa ditukar dengan menginap gratis. Keuntungan rewards club grup hotel ini (satu grup dengan Intercontinental dan Crowne Plaza), poinnya tidak ada expire date-nya. Saya sendiri sudah telanjur senang menginap di Holiday Inn chain sejak pertama merasakan pelayanan mereka di Darwin. Kami juga sempat menginap di Holiday Inn Bandung. Seperti biasa kami memesan kamar twin berisi dua double bed untuk berempat. Kasurnya empuk dan ada pilihan bantal empuk atau lebih keras. Sudah saya duga, Si Ayah langsung tidur begitu kepalanya menyentuh bantal. Maklum lah, sudah menyetir ribuan kilometer dari Adelaide menuju Melbourne. Kami leyeh-leyeh saja di hotel ini sejak sore sampai malam, bahkan terlalu malas untuk keluar beli makan :) Saya juga sibuk re-packing koper-koper kami yang segambreng. Malamnya, semua orang tidur nyenyak.

Kami punya permainan rahasia dengan Holiday Inn, jadi jangan bilang-bilang manajemen ya. Ketika menginap bertiga di Bandung, ada satu handuk muka yang tidak sengaja terbawa kami. Handuk ini kami kembalikan ke Melbourne, tapi kami tukar dengan membawa handuk muka yang ada di sana. Nanti, handuk Melbourne akan kami tukar dengan handuk muka di hotel Holiday Inn yang akan kami tinggali selanjutnya. Mungkin Bali, Phuket, Bangkok atau Maldives. Belum tahu lah. Big A dan Little A senang sekali dengan permainan dan rahasia kecil ini, hihihi. Sst...

~ The Emak

Senin, 25 Februari 2013

Bromo With Kids

Bromo With Kids

Lanskap Bromo
Perlu waktu lima tahun dan lebih dulu berkeliling ke negeri-negeri asing sebelum akhirnya saya melihat dengan mata kepala sendiri, landscape yang agung dan megah ini adanya di belakang rumah kami.

Si Ayah menghabiskan masa remajanya di kota Malang, beberapa kali ke Bromo, dan pernah mendaki gunung Welirang dan Arjuna. Namun sejak kami menikah, belum sekali pun Si Ayah punya niatan membawa saya jalan-jalan ke Bromo, yang notabene dekat sekali dengan Malang. Ketika kami pindahan dari Australia bulan September tahun lalu, saya sedikit memaksa Si Ayah untuk mengajak saya dan anak-anak mengunjungi Bromo.

Agaknya saya sedang beruntung. Seorang teman yang rumahnya di Tumpang (30 menit ke arah utara Malang), menawarkan akan 'mengantar' kami. Kebetulan tetangganya menyewakan Hard Top dan sering mengantar turis ke Bromo. Klop lah. Saya langsung mengiyakan dan sepakat berangkat seminggu kemudian, sebelum musim hujan mulai datang.
 
Bromo bisa dicapai dari kota Probolinggo (jalur paling populer dengan jalan paling mulus), Pasuruan dan Malang. Bisa juga dari Lumajang (jalur paling tidak populer). Kalau kita ikut tur atau menyewa mobil dan sopir dari Surabaya, biasanya akan dilewatkan jalur Probolinggo ini, yang bisa dilalui oleh mobil biasa (MPV), tidak perlu 4 WD. Nanti sampai Cemoro Lawang, kita perlu menyewa Hard Top (Jeep) untuk turun ke lautan pasir. Alternatif lain adalah naik ojek atau kuda.

Kabarnya, jalur dari Malang adalah jalur yang paling bagus pemandangannya, meskipun jalannya kurang bagus (baca: tidak ada jalan aspal!). Jalur yang akan kami lewati adalah: Malang - Tumpang - Gubug Klakah - Ngadas - Jemplang - Padang Savana - Lautan Pasir - Cemoro Lawang - Penanjakan. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat di peta yang saya unduh dari website resmi Bromo Tengger Semeru National Park.


Peta Wisata Bromo dari website resmi BromoTenggerSemeru. Klik untuk memperbesar.
Kami bermalam di rumah teman di Tumpang dan berangkat sekitar pukul 3 dini hari. The precils yang masih tidur langsung saya angkut ke mobil. Hard top yang kami sewa bisa muat untuk empat dewasa, tiga precils plus sopir. Pak Wawan, sopir kami, menyewakan hard top ini seharga Rp 700 - 800 ribu per hari, sudah termasuk bensin. Untuk kami tentu pakai harga teman, hehe

Sampai GubugKlakah jalanan masih lumayan mulus. Tapi menuju desa Ngadas, jalan mulai mendaki dan mengocok perut. Little A aman-aman saja di pangkuan saya, sementara Big A berusaha melanjutkan tidurnya. Sesekali mata saya terbuka melihat bulan penuh yang mengikuti, dan ngarai yang terpampang nyata di sisi mobil kami. Sambil terkantuk, saya ingat mobil kami menyusuri jalanan sempit berbatu di desa Ngadas, yang terletak di ketinggian 2100 dpl. Konon, Ngadas ini merupakan desa tertinggi di Jawa Timur. Setelah Ngadas, kami sampai di Jemplang, persimpangan jalan menuju Bromo dan Ranupani. Di sini banyak pemuda yang menyewakan motor trail untuk dipacu mendaki gunung dan melewati lautan pasir. Jalan dari Jemplang menuju padang savana dan lautan pasir betul-betul Innalillahi, tidak mungkin dilalui oleh mobil (atau sepeda motor) biasa. Awalnya jalan ini sempit dan berbatu-batu, kemudian berganti dengan lautan pasir yang bisa membelit ban kendaraan tanpa ampun. Melewati lautan pasir, Pak Wawan semakin hati-hati menyetir. Saya membuka mata lebar-lebar melihat pegunungan menjulang yang mengepung jalan kami di sisi kiri dan kanan. Bulan masih setia mengikuti di belakang. Saya tidak sabar melihat pemandangan ini ketika matahari sudah bersinar.

Sekitar jam 4.30 kami tiba di Cemoro Lawang yang hiruk pikuk. Hard top kami merayap menuju lapangan parkir di Penanjakan, look out untuk melihat matahari terbit. The Precils survived. Tapi bau solar yang menguar dari puluhan kendaraan membuat saya ingin muntah.

Sunrise di Bromo

Cuaca bulan September cukup dingin, tapi tidak sedingin yang saya bayangkan, mungkin sekitar 15 derajat celcius. Kami cukup memakai baju dalam termal, baju biasa, kaos kaki dan jaket. Tak lupa syal dan beannie. Turun dari mobil, kami langsung disambut penjaja sarung tangan, syal dan kupluk. Sambil menahan perut yang bergejolak, saya pasang cengiran lebar agar tidak diganggu. Si Ayah membelikan sarung tangan untuk Big A. Sementara Little A baik-baik saja dengan kostum yang dia kenakan.

Barang penting yang wajib dibawa ketika mengunjungi Bromo adalah masker, yang untungnya sudah disediakan oleh teman kami. Debu di Bromo ini luar biasa banyaknya, terutama pada akhir musim kemarau. Dari tempat parkir, kami berjalan sedikit mendaki ke vantage point di Penanjakan. Sabtu pagi ini ramainya luar biasa. Menjadi tujuan wisata yang populer untuk berlibur, mungkin Bromo memang seramai ini tiap akhir pekan. Spot-spot terbaik sepertinya sudah diambil orang. Kalau kami paksakan tetap di lokasi itu, mungkin hanya akan melihat orang-orang yang saling memotret dengan kamera dan gadget mereka. Bukannya saya tidak ingin berbagi keindahan sunrise Bromo yang terkenal ini, tapi saya sangat terganggu dengan tingkah polah beberapa pengunjung yang sangat berisik. Mereka tertawa terlalu keras dan berteriak-teriak. Memporak porandakan bayangan saya akan sunrise romantis yang bisa kami nikmati dengan khusyuk. Mungkin dengan secangkir kopi yang baru diseduh. Saya menghibur diri dengan melihat ke sisi gunung Bromo, tempat bulan yang bersiap undur diri. Di bawah sana, terlihat kerlip lampu barisan kendaraan yang merayap. Lain kali, kami sebaiknya ke sini di luar akhir pekan dan musim liburan.

Diam-diam, saya bawa The Precils melipir ke tempat yang lebih sepi.

Kami menemukan tempat yang cukup lapang dan hangat untuk melihat naiknya matahari. Dalam hening, kami menyaksikan lukisan cahaya memenuhi langit, memerah dan membangunkan bunga-bunga liar di sekeliling kami.

Kami menunggu satu persatu kendaraan yang membawa para pengunjung turun ke lautan pasir. Saya mengajak The Precils untuk naik dan duduk di atap Hard Top melihat-lihat suasana, sambil makan camilan. Akhirnya hiruk pikuk usai dan kami pun meninggalkan Penanjakan. Mobil turun dan parkir di dekat Gunung Batok yang fotogenik, cantik difoto dari sudut mana saja. Di sana sudah banyak warung-warung portabel yang buka untuk melayani sarapan. Kami sendiri sudah membawa bekal nasi kotak dari rumah, menikmati sarapan di dalam mobil untuk menghindari debu yang bersliweran.

Di dekat tempat parkir kendaraan bermotor ini ada toilet umum. Sayangnya, seperti layaknya toilet umum di Indonesia, kebersihannya kurang terjaga. Di toilet duduk yang kami pakai, lantainya banjir dengan luberan air entah dari mana. Wastafel di luar toilet pun tidak bisa digunakan. Duh, ini tujuan wisata internasional tapi toiletnya standar kampung :|

Lautan pasir dilihat dari Penanjakan
One last standing
Di pelataran Gunung Batok ini Little A bisa bermain-main dengan temannya, dan tampaknya sangat menikmati suasana. Untuk anak kecil, apa yang lebih menyenangkan dari lapangan luas yang bisa untuk berlarian sepuasnya? Dan bisa naik kuda.

Banyak pemuda Tengger yang menawarkan jasa naik kuda pada kami. Mereka sopan dan tidak memaksa. Teman kami bilang, jangan terburu-buru menawar. Rupanya dia sudah punya langganan naik kuda di sini, temannya entah kenal dari mana :) Dia menelpon Woko, si pemuda Tengger ini untuk datang. Yak sodara-sodara: di gunung Bromo ada sinyal! Kita bisa narsis sepuasnya, langsung update status di Facebook, unggah foto di Instagram, unggah video di Vine, berkicau di Twitter, atau kultwit sekalian. Adakah yang lebih keren daripada kultwit dari atas punggung kuda melewati lautan pasir menuju Gunung Bromo?

Tapi kalau tidak menyimpan gadget kita yang canggih ini di dalam saku atau tas, kita bakal kehilangan banyak pesona yang terjadi di sekeliling kita. Ibu pemilik warung melayani pelanggan dengan senyum ramah, tidak berusaha mengambil keuntungan yang tidak masuk akal, meski dia berjualan di obyek wisata internasional. Penjaja suvenir kaos Bromo tetap tersenyum meski saya menolak membeli dagangannya. Sepasang kekasih berpose mesra dengan latar belakang pegunungan yang megah. Lalu setitik debu di kejauhan sana, berderap, mendekat...

Woko si pemuda Tengger datang.

Deru Debu
Bersama pemuda Tengger. Woko di sebelah kanan :)
Little A dan temannya di depan Gunung Batok
Kami kembali mendapat 'harga teman' dari Woko. Di akhir pekan, susah mendapatkan harga Rp 100 ribu untuk naik kuda. Biasanya mereka minta Rp 150 - 200 ribu. Rute pilihannya adalah mengelilingi Pura atau berhenti sampai di depan tangga menuju puncak Bromo. Saya berboncengan dengan Little A menuju puncak Bromo. Sementara Big A memilih jalan memutari Pura saja. Entah mengapa, Big A punya ketakutan terhadap volcano, gunung berapi.
 
Kata Si Ayah, landscape gunung Bromo ini sudah jauh berubah, lautan pasirnya jauh lebih tebal daripada yang dia ingat dulu. Mestinya memang letusan tahun 2010 yang mengubah landscape gunung ini. Jalan dari tempat parkir mobil menuju kawah Bromo tidak terlalu jauh, tapi dengan debu yang bersliweran dan ketebalan pasir yang membuat kaki kita bisa lesap, lebih bijaksana kalau menyewa kuda untuk sampai di depan anak tangga. Saya bersyukur duduk di atas punggung kuda, kalau tidak, mungkin tenaga saya sudah habis untuk menaiki tangga sampai di puncak Bromo.

Tadinya saya berniat menghitung jumlah anak tangga menuju puncak Bromo, apakah benar 250 seperti yang diceritakan orang-orang. Tapi apa daya, di anak tangga kesepuluh napas saya sudah mulai tersengal. Sementara Little A dengan gagah perkasa bertekad untuk naik tangga sendiri tanpa digendong. Beberapa orang lokal menawarkan jasa ojek gendong (yep, semua ada di Indonesia), tapi saya tidak rela melepaskan Little A digendong orang asing. Lagipula anaknya baik-baik saja  dan malah senang kok :)

And we made it! Kami sampai di puncak dan masih bisa berpose tersenyum untuk difoto. Saya tidak berani lama-lama di puncak karena sungguh-sungguh berbahaya. Di atas sana tidak ada pengaman yang cukup menjamin seseorang tidak terjatuh ke kawah. Tolong pegang anak anda erat-erat! Di atas, saya sempatkan mengambil satu momen hening, menghirup udara memenuhi paru-paru dan membuat catatan mental bahwa saya pernah ada di atas puncak Bromo ini. Dari atas, saya bisa melihat manusia menyemut, dan mobil-mobil yang hanya tampak seperti titik-titik debu. Di tengah semua ini, saya melihat Pura Luhur Poten, tempat sembahyang masyarakat Tengger, yang berdiri dengan kokoh namun anggun. Pura ini seperti menjembatani kekerdilan kita dan keagungan mahakarya Sang Pencipta.


Are you ready, Little A?
Di puncak Bromo
Si Ayah menggendong Little A menuruni tangga, karena jalan turun ternyata lebih berbahaya daripada jalan naik. Kami kembali ke mobil, dan Pak Wawan membawa kami ke Pasir Berbisik. Lautan pasir ini mendapatkan namanya yang sekarang karena menjadi lokasi syuting Dian Sastro di film dengan nama sama. Di lautan pasir ini, kami mendapati beberapa motor trail meraung-raung memamerkan ketangkasan mereka. Sementara di balik bebatuan, ada seorang perempuan tua berbaju pink menjaga warung portabelnya, sendirian

Kalau memilih jalur Malang, dari lautan pasir kita akan langsung kembali melewati padang Savana yang berisi bukit-bukit kecil yang lucu. I hate to say it, but they call it Bukit Teletabis. Ketika kami melewati bukit ini, rerumputan tampak kering, karena akhir musim kemarau. Kata teman saya, waktu terbaik untuk mengunjungi Bromo adalah di awal musim kemarau, sekitar bulan Mei. Rumput-rumput masih hijau karena masih mendapat sisa hujan, pasir sudah tidak lagi menjadi lautan lumpur dan debu masih belum terlalu tebal.

Perjalanan pulang kami lanjutkan. Dalam kantuk yang kembali menyerang, saya masih bisa mendengar Pak Wawan membunyikan klakson Hard Top bernada riang dan lucu setiap kali kami melewati tikungan tajam yang hanya cukup untuk satu mobil. Sebelum saya akhirnya memejamkan mata, saya masih sempat melihat dua orang penduduk desa Ngadas membawa babi hasil tangkapan mereka yang diikat pada tongkat panjang. Mungkin sebagai persiapan menjelang Upacara Karo. Ingatan saya kembali melayang pada pura yang saya lihat dari puncak Bromo.

Pura Luhur Poten. Difoto dari puncak Bromo
~ The Emak

Foto oleh Anindito Aditomo

Kamis, 31 Januari 2013

[Penginapan] Novotel Sydney Olympic Park

[Penginapan] Novotel Sydney Olympic Park

Novotel Sydney Olympic Park
Sebagai 'penduduk musiman' di Sydney, saya kadang bingung kalau diminta rekomendasi hotel yang bagus di kota ini. Masalahnya kami tidak pernah menginap di hotel. Saya hampir lupa kalau sebenarnya kami pernah menginap semalam di Novotel Sydney Olympic Park. Dapat voucher gratisan :)

Ceritanya, di awal tahun 2010, saya ikut kuis yang diadakan Sydney Olympic Park di website-nya. Alhamdulillah menang, dan hadiahnya banyak banget, antara lain tiket VIP nonton Taylor Swift, tiket nonton International Sydney Tennis Tournament, tiket nonton kriket, voucher makan di Armory Wharf cafe, voucher sewa sepeda dan... voucher menginap semalam di Novotel SOP plus makan malam untuk sekeluarga.

Kompleks Sydney Olympic Park (SOP) ini bekas fasilitas yang digunakan untuk penyelenggaraan Olimpiade Sydney tahun 2000. Sampai sekarang, kompleks ini masih terawat dengan baik, banyak sekali acara olahraga, konser musik, bahkan layar tancap yang diadakan di sini. Selain gedung-gedung olahraga, ada juga taman Bicentennial seluas 40 hektar, dengan arena bermain dan danau yang biasanya digunakan masyarakat umum untuk main-main sepeda, lari, jogging atau jalan kaki, birdwatching, piknik, dan barbekyuan di akhir pekan.

Kami berusaha booking hotel yang tadinya digunakan untuk akomodasi atlet dan ofisial Olimpiade 2000 dengan voucher gratis sejak Januari, tapi baru dapat tanggal kosong di akhir pekan pertengahan April. Nggak papa lah, yang penting gratis! Dari rumah kami di Lakemba, hotel ini jaraknya 10 km. Kalau dari kota, jaraknya sekitar 16 kilometer ke arah barat. Kita bisa mencapai Sydney Olympic Park dengan semua moda kendaraan umum: bus, kereta dan feri. Perjalanan kira-kira 30-45 menit. Untuk tahu jalur menuju kompleks ini, klik di sini.

Hotel ini tepat di tengah kompleks Sydney Olympic Park, di depan stadion utama, bersebelahan dengan hotel Ibis. Kami datang untuk cek in seawal mungkin, jam dua siang. Pelayanan cek in biasa saja, dengan keramahan standar Novotel :) Kami diberi kamar di lantai 14 dengan pemandangan keren, bisa melihat stadion utama dari atas.

Novotel termasuk brand yang ramah anak-anak. Tiap kamar dilengkapi dengan dua double bed yang bisa digunakan untuk dua dewasa dan dua anak-anak, tanpa membayar biaya tambahan extra bed. Dekorasi kamar cukup trendi. Amenities yang diberikan sesuai standar Novotel: sabun, shampoo, shower gel, tapi tanpa sikat gigi. Sama dengan pengalaman kami menginap di Novotel Canberra tahun sebelumnya. Saya juga heran kok hotel di Aussie ini pelit banget memberi sikat gigi, hehe. Kamar mandi cukup luas dan bersih, meski tanpa bath tub. Kami leyeh-leyeh di kamar ini sampai sore. Saya bertanya-tanya, siapa ya yang menghuni kamar ini ketika Olimpiade 2000 dulu?


Dua double bed, cukup nyaman untuk berempat
Lobi, ada mainan anak2 dan mainan orang dewasa :p
Amenities standar di Novotel. Minus sikat gigi.
Hotel ini tidak mempunyai kolam renang sendiri. Sebagai gantinya, kami diberi tiket masuk ke SOP Aquatic Centre, yang juga merupakan venue untuk cabang olahraga renang di Olimpiade 2000. Aquatic Centre ini letaknya di seberang hotel, sekitar 100 m. Sore hari, kami jalan kaki ke sana. 

Aquatic Centre terbuka untuk umum, dilengkapi dengan kolam bermain anak, tempat fitnes, whirpool, sauna, taman untuk piknik dan kafe. Ada satu kolam lap besar untuk yang berenang serius, satu kolam sedang untuk belajar berenang dan main-main, dan satu kolam dangkal yang dilengkapi seluncur dan permainan air lain untuk anak-anak. Sementara itu, kolam ukuran Olympic hanya digunakan untuk pertandingan renang. Biasanya di akhir pekan, kolam ini ramai pengunjung. Kami sempat beberapa kali berenang dan bermain-main air di sini. Terletak di suburb bagian barat Sydney, kolam ini menjadi favorit bagi komunitas muslim yang tinggal di sini. Penampakan burqini (baju renang muslimah) tidak asing lagi di sini :)

Sunrise di atas stadium
View dari kamar kami di lantai 14
Swimming Pool, cuma selemparan batu dari hotel
Malamnya kami menikmati makan malam gratis di restoran hotel. Kami memesan steak saus jamur, spaghetti bolognese dan ayam dengan herb dan sayuran. Rasanya ya begitu-begitu saja, tidak istimewa. Dan sepertinya Si Ayah masih lapar karena belum makan nasi :D

Malam hari, kami dikejutkan oleh ledakan kembang api. Mengintip dari jendela, ternyata memang ada kembang api yang dinyalakan dari salah satu venue. Sepertinya ini perayaan komunitas Bangladesh yang ada di Sydney karena sore harinya kami berpapasan dengan banyak sekali orang berpakaian tradisional Bangladesh yang menuju venue tersebut. Lumayan lah dapat kejutan hiburan gratis.

Paginya kami disuguhi pemandangan sunrise di atas stadion. Langit merah jambu menyambut pagi. Kami turun dan menyempatkan diri jogging. Kapan lagi bisa numpang jogging di kompleks olimpiade, iya kan? Karena tidak mendapat sarapan gratis, kami membeli sarapan di kafe Gloria Jeans, tepat di lantai bawah hotel. Kalau suka fast food, di sebelah juga ada Mc D. Yep, resto junk food di kompleks olahraga terbesar di Sydney :p

Kolam untuk Olimpiade 2000
Having fun in the pool
Hotel Novotel Sydney Olympic Park ini bagus, nyaman dan ramah anak-anak, tapi hanya saya rekomendasikan untuk traveler yang memang ingin mengunjungi kompleks Sydney Olympic Park. Misalnya ingin ke acara Sydney Royal Easter Show, semacam pasar malam yang juga buka siang hari pada liburan paskah, atau nonton konser musik tertentu di salah satu stadion di sini. Kalau memang menginap di sini, bisa sekalian belanja-belanji ke IKEA Rhodes, 7 menit bermobil, dan Direct Factory Outlet (DFO) Homebush, 4 menit dengan mobil. Kalau tidak ingin berkunjung ke Sydney Olympic Park, lebih baik menginap di Novotel yang berada di tengah kota: Novotel Darling Harbour.

~ The Emak