Senin, 12 November 2012

Ultimate Experience at Kangaroo Island

Ultimate Experience at Kangaroo Island

Pagi yang menakjubkan di Napean Bay, Kangaroo Island
Kangaroo Island, pulau di barat daya Adelaide ini dijuluki a zoo without wall-kebun binatang tanpa pagar. Di pulau ini, bukan kami yang harus 'mengunjungi' hewan-hewan khas Australia, tapi mereka yang 'menyapa' dan menghampiri kami.

Kami menyeberang ke Kangaroo Island (KI) dari dermaga Cape Jervis, sekitar dua jam dari Adelaide ke arah selatan. Hanya ada satu layanan feri di sini, dioperasikan oleh Sea Link. Tarif feri yang tidak disubsidi oleh pemerintah memang memberatkan. Bahkan penduduk lokal juga mengeluhkan tarif feri yang mahal ini. Tiket pulang pergi untuk kami berempat (2 dewasa 2 anak) plus satu campervan harganya AUD 424. Semahal tiket pesawat ke luar kota! Tapi gakpapa lah kalau dianggap membeli pengalaman sekali seumur hidup.

Tadinya kami ragu-ragu memasukkan Kangaroo Island ke dalam itinerary. Salah satu alasannya karena mahalnya tiket feri tadi. Alasan lain karena ketatnya jadwal kami. Kalau cuma bisa road trip seminggu, hanya cukup untuk jalan dari Adelaide ke Melbourne, tanpa mampir ke pulau. Tapi setelah Si Ayah konfirmasi bisa jalan 10 hari, kami menyisipkan 3 hari khusus di Kangaroo Island. Kata Si Ayah, mending menghabiskan waktu dan menginap di pulau daripada cuma di kota (Adelaide).

Kami sampai di Cape Jervis menjelang senja, mengejar feri jam 6 sore. Di tepi dermaga, terpampang aturan barang-barang yang tidak boleh dibawa masuk ke pulau ini: lebah, madu, kentang, serigala, kelinci dan tanaman tertentu. Peraturan ini tentunya untuk melindungi keanekaragaman hayati di Pulau Kanguru. Tapi, siapa juga ya yang mau membawa serigala? ^_^

Setelah feri datang, saya dan the precils bisa masuk kapal terlebih dahulu. Sementara Si Ayah harus memasukkan sendiri campervan ke dalam feri. Perlu waktu 45 menit untuk menyeberang dari Cape Jervis ke Penneshaw, dermaga di Kangaroo Island. Untungnya laut lumayan tenang, tidak begitu bergejolak. Pihak Sea Link akan membatalkan penyeberangan kalau kondisi laut terlalu berbahaya. Jadi, meskipun sudah booking online, lebih baik menanyakan kepastian berangkat beberapa jam sebelumnya via telpon. Di dalam feri, tidak susah mencari tempat duduk, cukup nyaman plus ada cafe yang menjual kopi, coklat panas dan camilan. Kami tertawa-tawa mengenang perjalanan terakhir kami naik feri dari Tasmania yang sangat tidak sukses: pusing dan mabuk.

Feri Sea Link menurunkan mobil-mobil
Senja di Cape Jervis
Ngopi di dalam feri
Sunrise di Penneshaw
Kami menginap semalam di KI Shores Penneshaw, caravan park terdekat dari dermaga. Sudah malam ketika kami sampai di sana, resepsionis sudah tutup. Kata resepsionis via telpon, kami boleh pilih-pilih tempat sesuka kami, bayarnya besok ketika cek out. Tarif parkir dengan power (listrik) cukup murah, $27 semalam. Kami boleh menggunakan fasilitas yang ada: toilet, kamar mandi, dan air kran untuk mengisi tangki air di campervan.

Malam pertama di campervan berhasil kami lalui dengan selamat :p Pada awalnya kami gedubragan ketika mengubah setting campervan dari tempat duduk menjadi tempat tidur. Hari sudah gelap, koper-koper kami yang banyak membuat ruang di dalam campervan tambah sempit. Akhirnya saya 'membuang' barang bawaan itu keluar dan cuma ditutupi sarung bali (tambah satu lagi kegunaan sarung bali selain alas piknik dan sprei darurat). Susah sekali mencari barang-barang yang kami perlukan, saking paniknya saya jadi lupa barang yang satu ini saya taruh di mana. Begitulah, kekacauan di malam pertama yang patut dikenang :D

Si Ayah adalah morning person, jadi pagi-pagi sekali dia sudah bangun dan berburu keindahan sunrise di dekat dermaga. Pulangnya dia membawa oleh-oleh foto-foto ciamik yang tidak masuk akal bagi saya (karena tidak pernah bisa saya lihat dengan mata kepala sendiri :p). Kami sarapan kopi (susu untuk precils) dan roti yang kami beli di Adelaide hari sebelumnya. Setelah itu kami beres-beres, mengisi tangki air dan mengubah setting campervan kembali menjadi tempat duduk. Little A bahkan sempat menyiram bunga-bunga di sekitar caravan park ini :) Baru setelah jam 11 siang kami bisa melanjutkan perjalanan menuju Seal Bay.


Board Walk di Seal Bay
Sea lion yang leyeh-leyeh kekenyangan di pantai

Jalan utama di Kangaroo Island cukup bagus, beraspal mulus. Pulau ini terbentang sepanjang 155 km dari ujung ke ujung. Buku panduan KI yang sangat bagus, lengkap dengan peta yang detil, bisa diunduh di wesbite resmi ini. Meski sudah punya soft file-nya saya masih mengambil buku panduan ini di dermaga Cape Jervis, agar tidak setiap kali menyalakan gadget. Saran tempat-tempat menarik untuk dikunjungi juga saya dapatkan dari buku ini. Tapi saya tidak membuat itinerary ketat, cukup pilih satu atau dua tempat tempat yang wajib mampir, sisanya kalau sempat dan kalau yang lain setuju.

Seal Bay termasuk di daftar yang wajib dikunjungi. Di pantai ini terdapat koloni sea lion terbesar ketiga di Australia, dengan populasi mencapai 1000 ekor. Jenis sea lion yang kami jumpai di sini berbeda dengan sea lion yang kami lihat di Milford Sound, New Zealand. Singa laut Australia warna kulitnya tidak segelap singa laut Selandia Baru, dan tubuhnya relatif lebih besar. Mungkin ada yang masih bingung bedanya anjing laut dan singa laut? Sila baca di blog ini.

Di Seal Bay, kita bisa memilih untuk jalan-jalan sendiri di boardwalk atau ikut guided tour turun ke pantai. Untuk satu keluarga (2 dewasa 2 anak), biaya boardwalk tour $40, sedangkan ditambah guided tour menjadi $80. Kami memilih guided tour sekalian agar lebih dekat dengan singa-singa laut itu. Sebelum tour dimulai pukul 1 siang, kami punya kesempatan untuk jalan-jalan sendiri di boardwalk yang tersedia. Dari sini kami bisa melihat pemandangan seal bay dengan jelas dan mengamati dari jauh tingkah polah singa laut yang kebanyakan leyeh-leyeh di pasir pantai. Waktu itu kami sempat kaget mendengar suara nyaring singa laut yang bersahut-sahutan. Ternyata memang begitu cara mereka berkomunikasi satu sama lain.

Kami ditemani ranger turun ke pantai. Ternyata kami tidak boleh terlalu dekat dengan hewan ini, karena mereka termasuk binatang buas (!). Jarak minimal yang aman adalah 10 meter. Sementara ranger bercerita tentang Australian Sea lion ini, saya harus jagain Little A karena kadang dia punya ketertarikan sendiri, tidak selalu bisa konsentrasi ke tour guide (ya iya lah). Kami dipandu bersama dengan beberapa orang lainnya, sehingga saya harus memastikan Little A tidak ketinggalan dari rombongan. Ternyata di koloni sea lion, yang harus mencari makan adalah yang betina. Mereka akan pergi selama tiga hari untuk mencari makan di laut lepas, dan baru pulang setelahnya untuk memberi makan pada anak-anaknya. Setelah itu mereka bisa leyeh-leyeh sepuasnya, bermandi matahari di pasir pantai. Kami sempat melihat 'atraksi' beberapa singa laut yang pulang dari mencari makan di lautan. Mereka menaiki ombak, meluncur dengan indah dan mendarat di pantai. Lalu mereka berteriak-teriak memanggil keluarganya sambil berjalan lenggak-lenggok menyusuri pantai. Aksi mereka di habitat asalnya ini jauh lebih seru daripada menonton di sirkus atau kebun binatang :)

The Emak di Vivonne Bay
Burung-burung camar di Vivonne Bay


Resident Koala at Vivonne Bay Tourist Park
Kanguru di West KI Caravan Park
Puas di Seal Bay, kami melanjutkan perjalanan ke Vivonne Bay, yang menurut orang lokal merupakan pantai tercakep di Australia :) Masa sih? Saya ingin membuktikan. Sayangnya jalan menuju Vivonne Bay tidak begitu mulus. Dari jalan utama yang beraspal, kami harus berbelok ke kiri melewati jalanan tanah. Campervan kami langsung berontak dan mengeluarkan bunyi-bunyian gemerincing dari laci-laci dapur :p Duh, Si Ayah jadi sewot dan menyetir dengan super pelan dan hati-hati. Kami hampir sampai di ujung pantai, ketika jalanan menukik turun dan naik lagi dengan tajam. Wah, kayaknya tidak cocok untuk dilalui campervan. Saya tidak tahu apakah kondisi jalan memang seperti ini atau kebetulan jalan sedang dalam perbaikan. Akhirnya kami mundur teratur dan berbalik menuju Vivonne Bay Tourist Park yang tidak jauh dari situ. Tourist park ini tidak dijaga. Yang ingin bermalam di sini bisa daftar sendiri dan memasukkan biaya sesuai tarif di kotak. Maklum, penduduk sini jujur semua :p Di sini kami cuma numpang makan siang, dari perbekalan yang ada.

Ketika kami sedang asyik-asyiknya nyemil stroberi, ada dua perempuan paruh baya yang menghampiri,. "Do you speak English?" tanyanya. "Yes, we do," jawab Si Ayah kalem. Ternyata mereka ingin memamerkan seekor koala yang asyik nangkring di pohon. Mereka berdua semangat banget menunjukkan koala itu ke Little A. "This is our personal pet," kata salah satu perempuan itu, yang ternyata memang tinggal di Vivonne Bay. Dia punya cottage yang menghadap laut. Kami melanjutkan ngemil stroberi di bawah pandangan mata si koala.  

Setelah kenyang, kami punya energi lagi untuk turun ke pantai. Ternyata dari tourist park ini kami bisa menyusuri Harriet River yang bermuara di Vivonne Bay. Pantai ini sepi sekali, hanya ada kami dan mas-mas India yang main kayak. Saya berteriak-teriak, melompat-lompat, berjoged dan balapan lari dengan Little A. Puas, hehe. Kami tidak sampai masuk ke air karena pasti dingin sekali di awal musim semi.

Tadinya kami sempat kepikiran untuk bermalam di Vivonne Bay Tourist Park ini  karena tarifnya lumayan murah. Tapi kok serem juga ya kalau malam. Akhirnya kami putuskan menginap di KI West Caravan park. Kami masih harus berjalan ke barat sekitar 35 km lagi, melalui jalan utama. Dalam perjalanan itu saya bertanya-tanya kok belum melihat satu pun kanguru hidup di sini. Padahal harusnya Pulau Kanguru banyak kanguru-nya kan? Yang kami lihat malah beberapa kanguru di tepi jalan, yang mati tergencet mobil. Kejadian kanguru tertabrak mobil ini sering sekali terjadi, di berbagai belahan Australia. Mungkin mereka tidak bisa beradaptasi dalam habitat baru yang dilewati kendaraan bermotor. Saya mengurungkan niat mengutuk jalan tanah yang membuat campervan kami terguncang-guncang. Kalau semua jalan dilapis aspal, dan semua mobil melaju kencang, pasti bakal lebih banyak lagi kanguru yang mati.

Pertanyaan saya terjawab dengan sendirinya, lima kilometer sebelum caravan park yang kami tuju, banyak sekali kanguru yang berkeliaran di tepi-tepi jalan. Ada yang sedang bercanda dengan teman-temannya, melompat-lompat atau yang cuma leyeh-leyeh sambil menatap heran ke campervan kami. Si Ayah harus mengemudikan kendaraan dengan pelan-pelan sekali agar tidak menabrak mereka yang tentu tidak memberi tanda kalau ingin menyeberang. Daerah ini disebut Hanson Bay Sanctuary, di ujungnya ada penginapan yang mewah banget: Southern Ocean Lodge. Untuk menginap di sini kita perlu merogoh kocek sebesar AUD 1200 per orang per malam. Wah, kalau The Emak nunggu ada yang mengundang gratis aja :p Saya sebenarnya penasaran dengan Hanson Bay Sanctuary ini, tapi hari sudah sore dan Si Ayah tidak ingin kami kemalaman lagi cek in di caravan park. Ya udah saya menurut sambil memikirkan cara bertemu langsung dengan kanguru-kanguru liar itu.

Tarif menginap semalam di KI West Caravan park ini $40. Lebih mahal memang, karena ada resepsionis yang jaga 24 jam. Kami yang belum terlalu lapar hanya makan malam dengan segelas coklat panas ditemani pie daging dan keju. Sambil makan, Little A dan Si Ayah bermain dengan iPad. Tiba-tiba, ada tamu tak diundang yang menghampiri campervan kami, dengan melompat! Betul, ada dua ekor kanguru yang menyapa kami. Yang satu kecil, tapi masih lebih tinggi daripada Little A, satunya lagi cukup besar, hampir setinggi saya. Duh, kami langsung menyelamatkan makanan dan masuk ke dalam campervan. Saya takut kena tinju kanguru ini. Mereka kabarnya memang jago bertinju, orang dewasa bisa pingsan kalau kena tinju kanguru. Kami deg-degan tapi excited dengan tamu-tamu ini. Ternyata mereka cuma mau mengunyah bunga-bunga dari pohon di dekat campervan kami. Si Ayah akhirnya bisa mengabadikan kanguru ini, meski tidak begitu fokus karena hari sudah beranjak gelap. Saya melihat mata Little A berkilat-kilat dengan keingintahuan sekaligus rasa cemas, mengamati kanguru yang mampir untuk menikmati makan malamnya. Ah, mungkin bukan mereka yang menjadi tamu kami. Keluarga kami lah yang berkunjung ke habitat mereka :)

Pagi hari kami dibangunkan suara kalkun yang berkokok dengan berisik. Kami bangun dengan lebih segar, karena sudah semakin ahli dan semakin cepat membongkar pasang campervan. Setelah mandi shower dengan air hangat di kamar mandi umum, saya menyiapkan sarapan istimewa: nasi sosis dengan lalap! The Precils makan dengan lahap, meski beberapa kali harus menghalau bebek-bebek liar yang menghampiri dan minta jatah makan :D

Setelah cek out, kami berkendara ke arah utara melalui jalan utama. Sebenarnya masih ada beberapa tempat menarik yang bisa dikunjungi di bagian barat pulau ini, di antaranya Remarkable Rocks dan Admirals Arch yang menjadi ikon Kangaroo Island. Sayangnya kami tidak punya banyak waktu. Lagipula, the precils pasti tidak begitu suka diajak melihat batu-batuan :p Sebagai gantinya, kami menuju Parndana Wildlife Park, kebun binatang yang ada di tengah-tengah pulau.

Konsep kebun binatang ini mirip dengan yang pernah kami singgahi di Sydney: Featherdale Wildlife Park. Pengunjung bisa berinteraksi langsung dengan hewan-hewan yang ada. Saya dan Little A mencoba memberi makan kanguru, tapi kami memilih yang paling kecil dan jinak :) Lalu kami berkeliling melihat-lihat hewan yang lain. Saya tidak begitu suka dengan kebun binatang ini karena toh kami sudah melihat dan malah didatangi oleh hewan-hewan khas Australia di habitat asalnya. Tapi sepertinya Si Ayah menikmati koleksi burung-burung langka di sini. Dan memang koleksi burungnya bagus-bagus. Yang paling lumayan adalah aviary-nya. Kita bisa berinteraksi langsung di ruangan besar berisi burung-burung berbulu indah yang berkicau. 

burung biru yang kesepian
Si Ayah berpose di depan hamparan bunga canola
lebah-lebah di sarangnya
Big A nyobain semua rasa madu organik :)
Setelah mampir sejenak di kota (sangat) kecil Parndana untuk membeli camilan, kami langsung berkendara ke ujung timur lagi. Kingscote, tujuan kami, adalah ibukota dari Kangaroo Island. Sampai di sini, saya ingin makan siang yang pantas istimewa, sekali-kali ke restoran lah :p Sebenarnya saya ingin makan fish & chips yang katanya terenak di pulau ini, tapi sayangnya tidak menemukan restorannya. Atau mungkin saya yang salah sangka, mengira fish & chips itu warung di pinggir jalan, tapi ternyata yang ada adalah restoran yang tampaknya mewah. Duh, sebelum banyak dolar melayang, kami melipir ke kafe yang menyajikan makanan Mexico, yang review-nya lumayan bagus di Trip Advisor: Yellow Ash & Chilli. Di kafe yang interiornya warna-warni ini kami memesan Nachos dan Quesadilla (isi mushroom untuk The Emak dan isi keju untuk precils). Makanannya enak, pelayanan bagus, meskipun agak lama, dan tempatnya menyenangkan. Mereka memberi Little A kertas dan crayon untuk corat-coret sementara menunggu. Mereka juga punya toilet yang bersih banget.

Akhirnya cita-cita The Emak makan siang mewah (untuk ukuran Si Ayah) kesampaian juga :D Saya ingat ketika memarkir campervan di depan resto ini, ada penduduk lokal yang menyapa, menanyakan kami dari mana. Setelah tahu kami dari Indonesia, dia bilang, "Ah, I remember when your tall ship, de-wa ru-tji (?) visited this island in 1970. I got the autographs from all of the crews, and keep them until now." Wow, saya jadi mencari-cari berita tentang pelayaran kapal Dewaruci, dan memang pada tahun 1970, mereka berlayar dari Surabaya - Fremantle - Melbourne - Sydney - Brisbane - Townsville - Ambon - Jakarta - Surabaya. Mestinya memang mampir di Kangaroo Island ketika berlayar dari Fremantle (Perth) ke Melbourne. Kami tidak sempat ngobrol lebih lanjut, dan akhirnya dia bilang, "Enjoy Kangaroo Island."

Perhentian selanjutnya adalah Island Beehive, produsen madu organik di Kangaroo Island. Di sini kita bisa mencicipi segala jenis madu organik yang mereka produksi, melihat lebah-lebah di sarangnya dan tentu saja berbelanja. Madu di Australia sangat terjamin kualitasnya, tidak ada yang dicampur-campur dengan bahan lain. Dari semua madu yang pernah saya cicipi, madu organik asli Kangaroo Island ini yang paling enak.Little A paling suka madu dari bunga sugar gum yang memang paling manis. Kami membeli beberapa botol kecil untuk oleh-oleh dan nantinya berguna juga sebagai olesan pancake dalam road trip ini.

Sunrise di Nepean Bay
Pantai pribadi - Nepean Bay
Pertigaan nan sepi di Kangaroo Island

Malam ketiga atau terakhir di Kangaroo Island ini, kami menginap di Bronlow Tourist Park dengan tarif $45 per malam. Dari seluruh pulau, hanya Kingscote yang memiliki layanan internet. Kami pun membeli voucher $5 untuk 2 jam internet, tapi koneksinya tidak begitu bagus. Cukupan lah untuk melihat-lihat email dan memberi kabar ke keluarga lewat Facebook :)

Tourist park yang satu ini dekat sekali dengan pantai yang ombaknya kalem, atau bisa dibilang tidak ada ombaknya: Nepean Bay. Tinggal berjalan kaki 50 meter. Kami rencananya ingin melihat Pelican Feeding di Kingscote jetty, tapi akhirnya membatalkan rencana itu dan sebagai gantinya main-main air di Nepean Bay. Kalau sudah sampai di caravan park, rasanya memang malas keluar lagi, karena harus membawa serta 'rumah' kami. Little A senang sekali main-main air di pantai yang sepi banget ini, meskipun airnya dingin. Hanya ada dua orang yang jogging melintasi pantai. Tadinya saya agak menyesal batal melihat atraksi memberi makan Pelican, hewan khas di Kingscote. Tapi begitu saya selesai memikirkan penyesalan saya itu, seekor pelican meluncur dengan anggun di atas air, mendekati Little A yang semakin lama semakin ke tengah. Terbukti sekali lagi kalau di pulau ini, hewan-hewan yang menghampiri kita :)

Pagi harinya, Si Ayah menggoyang-goyangkan tubuh saya yang masih meringkuk di kantong tidur."Mau ikut nggak? Aku mau motret sunrise di pantai." Tumben Si Ayah ngajak-ngajak, biasanya dia langsung pergi karena saya susah sekali bangun pagi. Saya sudah mau pergi, tapi begitu kulit saya menyentuh udara pagi hari yang menggigit tulang, langsung saya meringkuk di kantung tidur lagi. Saya tidak sadar kalau pagi itu saya melewatkan sunrise paling menakjubkan yang pernah dilihat Si Ayah, si pemburu sunrise-sunrise cantik. Ketika kami ngopi, dia bercerita magical sunrise moment-nya. Langit memerah, dan hanya ada dia di sana, ditemani beberapa ekor pelican dan burung-burung camar. Saya cuma bisa melongo melihat foto-foto ajaibnya.

Pagi itu kami harus kembali ke mainland Australia, menumpang feri pukul 10.30 pagi. Belum puas rasanya jalan-jalan di pulau ini. Tapi setidaknya kami membawa pulang beberapa kenangan, dan terutama kisah menarik untuk diceritakan.

~ The Emak

Senin, 29 Oktober 2012

Delapan Jam Di Adelaide

Delapan Jam Di Adelaide

Kios bunga di Central Market Adelaide
Cuma punya jatah delapan jam di Adelaide membuat kami berpikir ekstra keras memilih tempat-tempat menarik yang akan kami kunjungi.

Adelaide menjadi ibukota terakhir di negara bagian Australia yang pernah kami singgahi. Sebelumnya kami sudah pernah mengunjungi SEMUA ibukota negara-negara bagian di Australia: Sydney (NSW), Melbourne (VIC), Brisbane (QLD), Canberra (ACT), Hobart (TAS), Darwin (NT), Perth (WA). Akhirnya kesampaian juga menjejakkan kaki di Adelaide, ibukota South Australia. Ralat, resminya hanya kami bertiga, The Emak dan dua precils yang menjejakkan kaki di semua negara bagian karena Si Ayah tidak ikut ke Perth waktu itu. Mumpung punya visa Australia, saya kami ingin mengunjungi setiap negara bagian, meski cuma sebentar.

Kami berangkat dari Sydney menuju Adelaide dengan pesawat (lagi-lagi) Jetstar karena memang waktu itu tarifnya paling murah. Tiket per orang AUD 125, termasuk bagasi masing-masing 20kg. Total kami berempat AUD 500. Kami berangkat pagi-pagi benar, boarding pukul 6.15 pagi, membawa semua koper yang akan kami bawa pulang ke Indonesia. Sebenarnya ini agak ribet karena kami bawa 3 koper besar, 1 car seat, dan masih ditambah 3 ransel. Pulkam ceritanya :) Perjalanan dari Sydney ke Adelaide memakan waktu 2 jam 10 menit. Kami mendarat di Adelaide pukul 7.55 pagi. Waktu di Adelaide setengah jam lebih lambat daripada Sydney, yang berarti 3,5 jam lebih cepat dari WIB.

Kalau ingin terbang langsung menuju Adelaide dari Indonesia, kita bisa naik Virgin Australia. Maskapai ini satu-satunya yang melayani penerbangan langsung dari Denpasar ke Adelaide. Maskapai lain seperti Garuda Indonesia atau Qantas memerlukan transit melalui Perth, Sydney atau Melbourne. Pilihan lainnya adalah transit satu kali di Singapore (SIA) atau KL (MAS).

Kami naik taksi dari bandara menuju kantor Apollo untuk mengambil campervan sewaan kami. Setelah membayar administrasi dan dijelaskan tentang cara kerja campervan, kami cabut mencari sarapan. Si Ayah rupanya tidak mengalami kesulitan nyetir campervan barunya. Yah, seperti nyetir mobil van biasa, hanya saja harus waspada dengan suara gedombrangan kalau ada laci yang belum dikunci atau barang yang belum dimasukkan ke laci 'dapur'.

Little A ngeyel pengen beli fish & chips di IKEA, bangunan besar yang dia lihat begitu keluar dari bandara. Duh, agak repot juga kalau mesti mampir IKEA, bisa-bisa nggak jadi berkenalan dengan Adelaide. Akhirnya Little A bisa gembira lagi setelah disogok hash brown oleh si Ronald. Hash brown Mc D emang juara :p

Adelaide Uni
Ekskul Dayung di sungai Torrens
Dengan berbekal peta dari Apollo, kami menyusuri jalan-jalan Adelaide menuju pusat kota. Mendung masih menggantung di langit, suasana jadi sedikit sendu. Atmosfer kota ini tenang dan kalem, mengingatkan saya pada kota kecil Kiama (dua jam dari sebelah selatan Sydney). Beda dari atmosfer Sydney yang serba  tergesa dan Melbourne yang hiruk pikuk. 

Mungkin itu sebabnya kota ini sering jadi pilihan tempat kuliah bagi pelajar dari Indonesia. Selain kotanya yang lebih tenang, biaya hidup, terutama sewa apartemen/rumah tidak semahal kota lain di Aussie. Ada beberapa universitas yang cukup terkenal dan bergengsi di Adelaide, di antaranya University of Adelaide dan Flinders University.


Kami memarkir Campervan di tepi sungai Torrens, di dekat University of Adelaide. Maksudnya mau numpang pipis di Uni :) Tarif parkir di tepi jalan sekitar $3 per jam tergantung lokasi dan hari. Jangan cari-cari tukang parkir di sini ya? Karena adanya mesin parkir. Kita tinggal memasukkan koin atau bayar dengan kartu kredit sesuai 'lama parkir' yang kita kehendaki. Mesin akan mengeluarkan tiket yang menampilkan jatah parkir kita sampai jam berapa. Tiket parkir ini harus diletakkan di atas dasbor dan bisa dilihat dari luar, kalau nggak mau ditilang. Jangan sekali-sekali nggak bayar parkir sesuai aturan di Australia, kecuali kalau mau menyumbang pemda setempat sekitar $100 :)

Waktu yang sangat terbatas hanya cukup untuk mengunjungi dua tempat saja di Adelaide. Setelah baca-baca info, saya putuskan untuk mengunjungi Art Gallery of South Australia dan Central Market. Yang terakhir sekalian belanja bahan mentah untuk dibawa road trip.

Galeri Seni negara bagian Australia Selatan ini terletak di North Terrace, satu kompleks dengan museum dan perpustakaan. Campervan tetap kami parkir di dekat Uni dan kami berjalan kaki lewat jalan tembus universitas, sekitar 15 menit. Gedung galeri seni South Australia ini sangat khas, mirip dengan yang di New South Wales. Petugas di resepsionis sangat ramah, memberi kami brosur dan panduan apa-apa saja yang bisa dilihat di galeri seni ini. Nggak ada tiket masuk kok, gratis dan terbuka untuk umum. Kami melihat-lihat koleksi permanen yang menampilkan lukisan dan benda-benda seni bersejarah yang ditemukan di Australia Selatan. Terus terang koleksi galeri seni ini kurang sangar dibandingkan koleksi Art Gallery of NSW yang punya lukisan-lukisan dari abad pertengahan Eropa. The Precils hanya terkesan dengan lukisan Sydney Harbour yang baru saja kami tinggalkan :)

Kemudian kami lanjut ke galeri temporer. Di Michael Abbott gallery ditampilkan karya seniman dari China dan Indonesia. Tidak seperti Si Ayah, saya selalu merasa getaran aneh tiap kali melihat karya anak bangsa dihargai di luar negeri (mungkin kebanggaan pada tanah air?). Karya-karya di pameran ini mengekspresikan aspirasi dan ketakutan masyarakat ketika terjadi perubahan politik di Indonesia dan China.

Sayangnya saya tidak bisa puas menikmati karya-karya seniman dari Taring Padi ini karena Little A begitu takut dengan instalasi patung manusia berbalut bunga dan memegang pistol. Namun ada satu yang menarik perhatian saya, karya Eko Nugroho yang berjudul: Rintihan Agar-Agar. Sayangnya saya tidak bisa menjelaskan mengapa :)


Selain karya seni politik, ada juga pameran karya seni Islam di Galeri 19. Salah satu yang ditampilkan adalah kain lawas untuk ikat kepala dari Palembang, Sumatera Selatan. Kain yang ditenun dengan benang emas dan diwarnai dengan pewarna natural ini berasal dari abad ke-19. Di sini ditampilkan juga kain batik panjang, dengan motif kaligrafi Arab dan pola bunga yang yang terinspirasi oleh taman raja-raja di Jawa.




Karya Eko Nugroho, seniman Taring Padi
Koleksi kain lawas dari Palembang
Biasanya The Precils tertarik mengamati art di galeri atau minimal gembira melihat-lihat garang lucu-lucu yang dijual di Gallery Shop. Tapi entah mengapa kali ini mereka tidak begitu berminat. Dengan tampang bosan, Big A memaksa kami melanjutkan perjalanan. Mungkin dia khawatir campervan kami kena tilang ranger kalau tiket parkirnya sudah habis masa berlakunya :p
Kalau ingin jalan-jalan ke pusat kota sebenarnya hanya satu blok dari galeri seni ini. Di Rundle Mal, kita bisa jalan-jalan di trotoar yang lebar tanpa takut tersenggol kendaraan bermotor. Atau bisa juga duduk-duduk dan melihat orang-orang lewat. Sayangnya kami tidak punya banyak waktu. Kami juga tidak sempat ke pantai-pantai di Adelaide yang terkenal dengan sunset-nya yang cantik. Pantai di daerah Glenelg bisa dicapai dengan naik trem, sekitar setengah jam dari pusat kota.

Kami memilih kembali ke tempat parkir Campervan dan segera menuju Central Market yang terletak di Gouger St. Pasar ini buka mulai Selasa sampai Sabtu, dengan jam buka yang berbeda-beda, cek jadwalnya di sini. Minggu dan Senin pasar tutup. 

Tempat parkir pasar ada di bawah tanah, tapi sebelum kami telanjur masuk, saya ingat bahwa campervan ini terlalu tinggi dan pasti akan menabrak tiang penghalang. Akhirnya kami parkir di pinggir jalan, 200 meter dari lokasi pasar. Dibanding dengan pasar serupa di Sydney: Paddy's Market, Central Market ini relatif lebih bersih. Display bahan makanan segarnya enak dipandang dan tentunya menggiurkan. Yang dijual di pasar ini adalah bahan makanan segar seperti sayur dan buah, berbagai macam keju, macam-macam roti, produk daging (beberapa di antaranya berlabel halal) dan hewan laut. Ada juga toko buku, kios bunga, kafe dan resto kecil di sekelilingnya. 

Kami gerak cepat membeli sayur (lalapan) dan buah untuk road trip nanti. Kami juga membeli bahan-bahan mentah lain seperti susu, telur, minyak dan beras di supermarket Coles yang letaknya di sebelah pasar ini. Sebelum melanjutkan perjalanan, kami sempatkan makan di restoran Malaysia di dalam pasar ini, sambil memandang bunga-bunga segar di kios sebelah :)


Buah-buah segar di pasar
Chinatown
Old building :p
Kami belum sempat menjelajah Central Market lebih lanjut dan sama sekali lupa membeli sesuatu dari Adelaide ketika jatah parkir kami habis. Dengan mengucap selamat tinggal pada kota yang hanya kami lewati ini, campervan kembali melaju ke arah selatan.

Tujuan kami adalah Cape Jervis, dermaga untuk menyeberang ke Kangaroo Island dengan feri. Kami rencananya mengejar feri pukul 6 sore. Jarak dari pusat kota Adelaide ke Cape Jervis sekitar 107 km, perlu waktu satu setengah jam dengan mobil. Kami berangkat dari kota sekitar jam 3 sore, jadi masih aman dan ada waktu cadangan kalau ada apa-apa, dan kalau tersesat...

Petunjuk jalan di Adelaide cukup jelas, kami tinggal mengikuti gambar feri untuk menuju Cape Jervis. Tapi ternyata ada satu ruas jalan raya yang ditutup karena perbaikan. Ini membuat kami bingung dan kalang kabut. GPS menyarankan kami mengambil jalan lain yang akhirnya malah membuat kami tersesat dan berputar-putar. Ketika berusaha mencari jalan kembali, kami melihat jalan yang tadinya ditutup sudah dibuka kembali. Ealah, memang sedang diuji kesabarannya.

Setelah kembali ke jalan yang benar (literally), kami kembali diuji oleh peraturan konyol di kota ini. Kecepatan maksimal yang diperbolehkan di jalan tol Adelaide hanya 60km/jam. Duh! Ini jalan bebas hambatan lho. Satu-satunya hambatan ya peraturan konyol itu tadi. Dengan bersungut-sungut Si Ayah tetap menyetir dengan kecepatan maksimal (60km/jam) dan banyak mobil mendahului kami (lha!). Saya jadi teringat cerita teman, dengan batas kecepatan berkendara maksimal seperti ini, kota Adelaide cocoknya untuk pensiunan dan warga senior. Ditambah lagi, masih kata teman saya, cemetery alias kuburan bisa ditemukan setiap 100m :) Gara-gara teman yang satu ini, saya jadi memperhatikan setiap kali melewati cemetery. Memang lumayan banyak sih :p

Lepas dari tol dalam kota, pemandangan berganti dengan kebun-kebun anggur yang tinggal pokoknya saja. Meskipun tanpa daun, pemandangan pohon-pohon anggur yang berjajar rapi ini cukup indah. Daerah Australia Selatan memang terkenal sebagai penghasil anggur terbaik di Australia. Mereka dengan bangga menyebut dirinya sebagai ibukota wine di Australia. Pusat kebun-kebun anggur ini ada di Barossa Valley, sekitar 56 km di sebelah utara kota.

Setelah dua jam perjalanan, dihiasi dengan rintik-rintik hujan yang sesekali turun, kami akhirnya melihat lautan. Cape Jervis sudah di depan mata. Masih ada sekitar 45 menit sebelum feri membuang sauh. Kami berempat sudah tidak sabar untuk menyeberang!

To Kangaroo Island we go!
~ The Emak

Senin, 15 Oktober 2012

Keliling Australia Dengan Campervan

Keliling Australia Dengan Campervan

Campervan kami melintas di jalan menuju Meningie, Australia Selatan
Akhirnya cita-cita saya kami keliling Australia dengan campervan tercapai juga. Sepuluh hari terakhir sebelum meninggalkan negara ini, kami mengepak semua barang-barang (dan anak-anak) dan menyusuri seribu lima ratus kilometer dari Adelaide ke Melbourne.

Road trip dengan campervan sudah menjadi cita-cita saya kami sejak kami ingin menjelajah Pulau Selatan New Zealand. Sayangnya waktu itu kami belum siap untuk ber-campervan ria, masih unyu dan belum punya cukup jam terbang menyusuri jalan-jalan di Oz dan NZ. Rasa takut dan ragu mengalahkan kami sampai akhirnya gagal menyewa campervan. Nah, sebelum pulang kampung balik ke Indonesia karena masa studi Si Ayah berakhir, kami punya waktu sepuluh hari untuk jalan-jalan. Saya langsung usul untuk mencoba road trip dengan campervan. Kapan lagi, iya kan? 

Jalan-jalan dengan menyewa campervan sudah menjadi gaya hidup tersendiri di Australia dan New Zealand. Kami berani melakukan ini juga karena fasilitas pendukung di kedua negara ini lengkap: jalan antar kota mulus, petunjuk jalan jelas, caravan park (tempat parkir caravan sekaligus tempat camping) ada hampir di setiap kota. Pokoknya bakalan aman dan nyaman :) Kami memilih rute ber-campervan mulai dari Adelaide sampai ke Melbourne. Alasannya sederhana saja, dari delapan negara bagian di Australia, tinggal South Australia ini yang belum kami kunjungi. Ditambah lagi, kami ingin mampir ke Twelve Apostles di Great Ocean Road, salah satu tempat wisata yang wajib dikunjungi di Australia. Begitulah cara kami say goodbye ke Australia: menyusuri garis pantai dari Adelaide ke Melbourne melalui The Great Ocean Road.

Campervan, atau versi yang lebih besarnya disebut motorhome adalah mobil yang sudah dimodifikasi interiornya, dilengkapi dengan tempat tidur, dapur dan kadang kamar mandi. Dengan campervan, kita seperti membawa serta rumah kita (kayak keong :p) dalam perjalanan. Kita tidak perlu menyewa penginapan sepanjang perjalanan karena bisa tidur di mobil. Lalu apa bedanya dengan caravan? Kalau yang satu ini seperti 'rumah' yang harus ditarik/ditowing dengan mobil (biasa). Caravan tidak punya mesin sendiri, tapi punya roda. Keuntungan menggunakan caravan, kita bisa melepaskan gandengan dan meninggalkan 'rumah' ini di Caravan Park, sehingga bisa pergi jalan-jalan di kota atau tempat wisata dengan mobil biasa. Caravan digemari oleh para pensiunan dan warga senior. Penduduk Aussie yang suka berpetualang biasanya mempunyai caravan sendiri yang disimpan di backyard.

Ada banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum memutuskan jalan-jalan dengan campervan. Jangan sampai menyewa campervan hanya karena ikut-ikutan atau gaya-gayaan saja. Minimal kita sudah punya bayangan bakal seperti apa perjalanan dengan campervan ini, jangan sampai menyesal di tengah jalan, karena harga sewa kendaraan ini juga tidak murah. Tipe keluarga yang ingin selalu tidur nyaman di kasur hotel empuk dengan pengatur suhu udara, sebaiknya jangan menyewa campervan. Traveling jenis ini cocoknya untuk keluarga 'gembel' kayak kami yang tidak keberatan tidur di kasur lipat, memasak makanan sendiri, serta berbagi kamar mandi dan toilet dengan traveler lain.

Meskipun tempat tidur tidak senyaman seperti di hotel, traveling dengan campervan punya beberapa keunggulan. Yang pertama tentu saja kita tidak perlu repot-repot menyewa hotel, cek in dan cek out. Tidak perlu bongkar-bongkar koper dari mobil ke hotel, ke mobil lagi. Dengan campervan, kita bisa tidur lebih dekat dengan alam, karena campervan bisa diparkir di tepi danau, sungai, bahkan pantai. Pagi-pagi begitu buka jendela, langsung disuguhi pemandangan alam yang mengagumkan. Kalau menginap di hotel, biasanya perlu merogoh kocek lebih dalam untuk mendapat kamar dengan pemandangan terbaik. Satu lagi kelebihan campervan: outdoor dining. Selama perjalanan ini, kami selalu sarapan, makan siang dan makan malam dengan pemandangan berbeda-beda, di bawah atap langit. Dengan catatan nggak hujan ya :p

Mahal nggak sih menyewa campervan? Saya pernah menghitung-hitung, budget jalan-jalan dengan campervan hampir sama dengan budget menyewa mobil biasa dan menginap di motel. Anggaran campervaning tentu lebih hemat kalau dibandingkan road trip dengan menginap di hotel atau apartemen. Tapi masih lebih mahal sedikit dibandingkan road trip dengan camping alias mendirikan tenda sendiri.

Selain menyiapkan anggaran untuk menyewa campervan itu sendiri, kita harus menyiapkan anggaran untuk biaya parkir campervan (bermalam) di caravan park. Saya pernah baca di New Zealand, banyak tempat yang boleh digunakan untuk parkir dan bermalam gratis. Sedangkan di Australia, tempat-tempat parkir campervan yang dikelola pemerintah setempat biasanya tetap memungut biaya, meskipun kecil. Kadang tempat ini tidak ditunggu, pemilik campervan tinggal mendaftar sendiri dan memasukkan uang di kotak yang disediakan. Yak, semacam kantin kejujuran gitu deh :) Biaya parkir semalam ini bervariasi, tergantung fasilitas dan lokasi caravan park-nya, berkisar antara A$15 - A$50, separuh dari sewa motel. 

Parkir di Warnambool
Makan siang di Robe, SA. Caravan park-nya sepi.

Memilih Campervan Yang Tepat
Sudah yakin mau mencoba road trip dengan campervan? Kalau serius mau coba, langsung pilih saja jenis campervan atau motorhome yang sesuai. Yang pertama, menentukan berapa orang yang bakal diangkut di campervan. Dalam kasus kami dua dewasa dan dua anak-anak. Ada campervan yang hanya muat 2 orang, ada yang sampai muat 6 orang. Setelah itu, tentukan gaya perjalanan dan budget kita: hemat banget, menengah atau mewah. Ada pilihan campervan hemat banget, biasanya untuk kalangan backpacker. Campervan ini biasanya sangat sederhana, hanya mobil van biasa yang kursinya dijadikan kasur dan belakangnya dijadikan semacam dapur darurat. Biasanya kompor dan bak cuci piringnya tidak built in. Campervan dengan fasilitas lengkap, tapi usianya lumayan tua juga masuk kelas hemat. Sementara campervan atau motorhome kelas mewah/luxury biasanya dipilih oleh para pensiunan (warga senior) di sini yang memang kelebihan uang dan waktu :) Interior motorhome mewah ini udah mirip hotel bintang lima, dilengkapi TV dan DVD player segala. Kami sendiri memilih campervan kelas menengah, cukup nyaman, tapi tidak terlalu mahal.

Ada dua grup besar penyedia layanan sewa campervan di Australia dan New Zealand: Britz dan Apollo. Dua grup yang bersaing ketat ini punya brand campervan dari tiap-tiap kelas. Dari grup Britz ada Mighty Campers untuk budget campervan, Britz untuk kelas menengah dan Maui untuk kelas atas. Dari grup Apollo ada Cheapa Campa untuk kelas hemat, Apollo untuk kelas menengah dan StarRV untuk kelas mewah. Sila cek masing-masing website untuk membandingkan harga dan spek-nya, Kakak :))

Sejak beberapa bulan sebelum berangkat, saya bolak-balik membandingkan campervan yang saya incar di website Britz dan Apollo. Kriteria yang saya inginkan adalah: mobil otomatis, bisa untuk dua dewasa dan dua anak, bisa dipasangi satu car seat (wajib untuk anak di bawah 7 tahun), tidak perlu kamar mandi, bisa diambil di Adelaide dan dikembalikan di Melbourne (sesuai itinerary), kendaraan terbaru dan harganya MURAH! Yang sesuai dengan kriteria ini adalah Voyager dari Britz dan Endeavour dari Apollo. Harga sewanya mirip banget, bisa dicek langsung di website mereka dengan memasukkan tanggal yang diinginkan. Akhirnya saya pilih Apollo karena lay out tempat duduk mereka lebih cocok, kursi anak-anak ada di tengah, di depan dapur. Sementara lay out Britz, kursi anak-anak jauh di belakang, dapurnya yang di tengah.

Oh, ya, tentang pilihan kamar mandi dan toilet, saya tidak ingin menyewa campervan dengan toilet karena wajib membuang 'kotoran' kita sendiri dari penampungan ke dump waste. Si Ayah, apalagi saya males, hehe. Mending kami selalu sewa caravan park yang punya fasilitas kamar mandi dan toilet. Lagipula, di setiap tempat wisata di Australia pasti ada toilet umum yang bersih dan gratis.

Kami menyewa Endeavour selama 10 hari dengan harga sewa $93 per hari. Waktu itu sedang ada diskon 10%, lumayan. Harga sewa ini masih ditambah 'value pack' seharga $65 per hari. Value pack ini isinya segala peralatan yang bakal kita butuhkan di perjalanan: isi tabung gas untuk kompor, meja lipat, kursi lipat, selimut atau sleeping bag, car seat jika dibutuhkan, biaya one way (kalau diambil dan dikembalikan ke tempat berbeda) dan liabilitas atau semacam asuransi. Yang terakhir ini yang penting. Sebenarnya value pack tidak wajib dan bisa disewa secara eceran. Tapi tanpa tambahan asuransi, kita diwajibkan memberikan deposit (bisa dari kartu kredit) sebesar $5000. Duh, limit kartu aja gak sampai segitu! Atau, bisa juga membeli tambahan sedikit asuransi agar deposit dikurangi menjadi 'hanya' $2500. Deposit atau biaya liabilitas ini nantinya untuk mengganti kerusakan pada campervan kalau terjadi apa-apa di jalan (amit-amit jabang bayi). Saya benar-benar menyarankan untuk mengambil value pack ini, sehingga kita tinggal bayar deposit $250. Kalau ada apa-apa di jalan, harga segitu saja yang harus dibayar. Lebih baik beli asuransi maksimal untuk jaga-jaga, apalagi ini bukan negara punya nenek moyang kita :) Total yang harus saya Si Ayah bayar untuk menyewa campervan selama sepuluh hari, termasuk asuransi adalah A$ 1.487. Oh, ya, biasanya ada batas minimal sewa campervan ini, tergantung perusahaannya, ada yang minimal 7 hari sampai yang minimal 10 hari.

belum dipakai, masih rapi :)
denah campervan Endeavour
dari www.apollocamper.com
tempat duduk precils di tengah
Endeavour ini dimodifikasi dari mobil Toyota HiAce. Atapnya diberi tambahan untuk tempat tidur anak-anak dan supaya kita bisa berdiri tanpa membungkuk ketika bekerja di dapur. Sistem transmisinya otomatis, seperti kebanyakan mobil di Australia dan New Zealand. Jadi kita tidak usah repot-repot pindah kopling. Ketika memesan campervan via online, di salah satu kolom, kita akan ditanya punya SIM dari negara mana. Tentu sebutkan Indonesia :) Untuk bisa menyewa dan menyetir mobil di Australia dan New Zealand, kita perlu menerjemahkan SIM A kita ke bahasa Inggris di penerjemah tersumpah. Atau, kalau mau repot dikit, sila membuat SIM Internasional di kepolisian. Tentang SIM pernah saya bahas di sini.

Siang hari ketika kami dalam perjalanan, konfigurasi tempat duduk seperti layaknya mobil biasa. Saya dan Si Ayah duduk di depan, sementara The Precils duduk di tengah. Di sini, sabuk pengaman wajib dipasang untuk semua penumpang, baik yang di depan maupun yang di belakang. Anak umur di bawah 7 tahun harus menggunakan car seat atau booster, yang juga disediakan oleh Apollo kalau kita pesan lebih dahulu. Ketika mobil berjalan, pastikan seluruh laci tertutup, kompor dan aliran gas dimatikan serta tidak ada barang-barang yang masih ada di bak cuci piring. Jangan sampai nyesel kalau ada barang yang jatuh dan pecah.

Begitu sampai caravan park, kami mulai mengubah setting. Tempat duduk di tengah dijadikan kasur alias menjadi kamar utama. Kamar tidur anak-anak dipasang di atas. Kegiatan bongkar pasang ini sebenarnya mudah, tapi kami butuh upaya ekstra karena barang bawaan kami banyak sekali (maklum, pulang kampung). Lain kali, kami tidak akan membawa barang sebanyak ini kalau mau jalan-jalan dengan campervan.

Teorinya, Little A dan Big A tidur di atas, sementara Si Ayah dan The Emak tidur di bawah. Tapi pada prakteknya, Little A selalu mendusel ke tempat tidur kami. Nggak papa juga sih. Lagipula, suhu ketika kami melakukan perjalanan ini sangat dingin, masih sekitar 15 derajat meskipun sudah mulai memasuki musim semi di bulan September. Di campervan yang tanpa mesin penghangat ini, kami harus meringkuk di balik kantung tidur masing-masing.


'Kamar' utama
'Kamar' The Precils di atas
Agar perjalanan mulus tanpa ada yang uring-uringan, kami bagi-bagi tugas untuk mengurus rumah keong kami selama 10 hari ini. Si Ayah sudah jelas menyetir, memotret, cek in dan cek out di caravan park dan mencuci piring. Big A tugasnya bertanggung jawab urusan listrik (charger, microwave, lampu), membantu saya menyiapkan makanan, dan membantu mencuci baju di laundry. Little A tugasnya menghibur kami (of course!), makan sendiri dan membantu memeriksa persediaan air. Sementara saya tugasnya memandu jalan supaya tidak tersesat dan memastikan mereka tidak kelaparan. Artinya dapur harus selalu ngebul.

Ini yang asyik, dan merupakan tantangan tersendiri. Bagaimana menyiapkan makanan untuk sekeluarga tiap hari dari dapur nan mungil dan waktu yang terbatas ini? Ternyata nggak susah kok, asal anggota keluarga lain nggak rewel dan mau membantu. Yang pasti dapur mungil di campervan ini dilengkapi kulkas, microwave dan kompor gas dua tungku. Alat-alat masak seperti panji, wajan, sotil sudah ada. Alat makan seperti piring, gelas, sendok garpu juga disediakan. Kami tinggal berbelanja bahan mentah di supermarket dan simpan di kulkas.

Tipikal pagi hari kami dimulai dengan saya membuat kopi dan anak-anak minum susu. Kadang anak-anak sarapan sereal, minum Up and Go atau minta dibuatkan pancake. Standar makanan siang dan malam kami ada nasi/roti/pasta, lauk dan salad (lalapan). Lauknya yang bervariasi: telur, nugget, daging barbekyu, daging cincang untuk pasta atau sosis. Kadang kita makan darurat hanya dengan menghangatkan pie di microwave. Dan sekali-sekali tentu makan mie instan, hehe.

Yang agak repot, kami tidak membawa serta rice cooker kecil kesayangan kami. Rencananya saya akan membeli rice cooker ini di salah satu supermarket di Adelaide, kira-kira harganya $20. Tapi sayangnya barang yang kami inginkan tidak ada. Terpaksa kami menanak nasi ala berkemah, hanya dengan panci. Hasilnya tidak begitu bagus, tapi tetap saja kami makan karena kelaparan :D Di tengah perjalanan, kami membeli nasi instan (jasmine rice) di supermarket, yang cukup dihangatkan di microwave. Ini cukup menyelamatkan hidup kami.
 
Well, menu makan kami memang sederhana. Tapi yang penting, kami makan dengan pemandangan yang luar biasa :)

Dapur mungil. Utk masak... ehm... mie instan :p
Menyiapkan makan malam di West KI Caravan Park
Makan malam di Kangaroo Island
Setiap malam kami menginap di dalam campervan di caravan park yang berbeda. Karena bukan musim liburan, kami tidak perlu memesan tempat dulu di caravan park ini. Tinggal cek in di resepsionisnya. Daftar campervan park bisa di cek di buku panduan wisata pemerintah setempat atau bisa dicek online di booking site seperti Big 4. Ketika kami memasuki suatu kota, sekecil apapun, biasanya langsung ada petunjuk arah bergambar caravan. Tinggal ikuti petunjuk itu untuk sampai di caravan park terdekat.

Biaya rata-rata kami menginap adalah $40 per malam untuk site dengan power (listrik). Kami bebas menggunakan fasilitas yang ada di sini: kamar mandi, dapur, tempat barbekyu, dll. Setiap parkir di caravan park, kami harus men-charge campervan ini. Listrik ini yang nanti digunakan untuk lampu dan pompa air di bak cuci piring. Adanya colokan ini juga kesempatan bagi kami untuk men-charge gadget, dan menggunakan microwave. Karena perlu power yang besar, microwave hanya bisa dijalankan ketika mobil disambungkan dengan listrik. Jadi microwave tidak bisa kami gunakan ketika campervan sedang di jalan.

Salah satu 'musuh' campervanning adalah cuaca buruk. Kalau hari hujan, apalagi ditambah badai, kami langsung mati gaya. Apalagi kalau toilet lumayan jauh dari tempat kami parkir. Rasanya mending menahan pipis daripada menembus badai yang dingin. Kami mulai kena badai ketika perjalanan baru separuh. Di kota kecil Robe, angin bertiup sangat kencang sampai campervan kami bergoyang-goyang. Si Ayah saya bujuk untuk memarkir mobil ini miring sesuai arah angin. Cuaca mendung juga membuat hati galau hasil foto Si Ayah jadi sendu. Tapi kadang malah ada hasil foto dramatis dari mendung yang bergulung-gulung atau dari matahari yang tadinya pelit bersinar akhirnya menampakkan cahayanya sedikit.

Meskipun banyak keribetan berpetualang dengan campervan, perjalanan ini sangat mengesankan. The Precils senang dan excited untuk membantu kami bongkar pasang rumah mobil. Tapi terutama, mereka tidak sabar untuk segera sampai di Melbourne dan terbang ke Indonesia.

Kisah kami berkelana di masing-masing tempat akan saya tulis di postingan selanjutnya, mulai dari Adelaide, Kangaroo Island sampai ke Melbourne. 

Ada yang punya niatan segila kami untuk mengajak anak-anak ber-campervan?

Rute perjalanan kami dengan Campervan, dari Adelaide ke Melbourne
Parkir di Lorne, dijagain burung Kakatua
~ The Emak

Senin, 01 Oktober 2012

36 Jam Di Perth

36 Jam Di Perth

Pemandangan kota Perth dilihat dari Kings Park
Perth, ibukota Western Australia ini dijuluki sebagai kota yang paling terisolasi di dunia. Soalnya ya memang jauh dari mana-mana sih :) Coba lihat saja di peta benua Australia. Perth nyempil di pojok kiri bawah. Untuk mencapai ibukota negara bagian terdekat, Adelaide diperlukan waktu terbang tiga jam. Sementara dari Perth ke Sydney perlu waktu empat jam penerbangan.

Saya bercita-cita mengunjungi semua negara bagian Australia. Jadi ketika ada kesempatan kembali ke Sydney untuk menjemput Si Ayah yang selesai studi, kami sempatkan singgah dulu di Perth. Saya dan dua precils berangkat dari Surabaya ke Perth via Denpasar dengan maskapai kesayangan kami, Garuda Indonesia. Salah satu alasan saya memilih Garuda adalah bagasi kami bisa langsung diangkut dari Surabaya sampai Perth, meskipun kami harus pindah pesawat di Denpasar. Hal ini tidak bisa dilakukan kalau kami terbang dengan maskapai yang berbeda.

Berapa sih tiket Denpasar - Perth? Yang pasti lebih murah daripada tiket Denpasar - Sydney :) Sayangnya waktu itu kami perginya menjelang lebaran dan beli tiketnya mepet, jadi lumayan mahal. Apalagi kami belinya tiket round trip tapi pulangnya dari kota yang berbeda. Satu tiket dewasa dan dua tiket anak-anak dari Surabaya - Perth dan Melbourne - Denpasar sebesar $2500-an. Pasalnya harga tiket domestik-nya sendiri, dari Surabaya ke Denpasar sudah mencapai Rp 1,5 juta sekali jalan per orang, tiga kali lipat dari harga normal. Duh!

Sebenarnya harga normal tiket Garuda Jakarta - Perth pp atau Denpasar - Perth pp tidak terlalu mahal, sekitar $650 termasuk pajak. Tergantung tanggalnya dan kapan beli tiketnya. Untuk tarif early bird Garuda, bisa DPS -PER pp bisa cuma $400-an. Maskapai lain yang melayani Denpasar - Perth adalah Virgin Australia (sekitar $500 pp), Qantas (sekitar $700 pp) dan Jetstar. Untuk Jetstar ini kalau beruntung bisa mendapat tiket SALE seharga $300 pp atau bahkan $200 pp. Air Asia juga melayani penerbangan DPS - PER ini dengan tarif terjangkau kalau lagi SALE, sekitar $300 - $400 pp. Nggak heran kalau orang Perth lebih sering berlibur ke Bali daripada ke Sydney :)

Kami lepas landas dari Denpasar jam 20.45 WITA. Zona waktu Perth dan Denpasar sama. Setelah menempuh penerbangan selama 3 jam 45 menit, kami tiba di bandara Perth pukul setengah satu dini hari. Penerbangan lumayan mengguncang. Untungnya the precils tidur. Saya sendiri sampai muntah saat ada turbulence di atas Samudra Hindia. 

Kedatangan kami tengah malam diperparah oleh antrian menuju pemeriksaan Custom yang mengular panjang sekali. Saya gendong Little A dengan kain, sambil mendorong troli berisi dua koper. Paling parah ketika ada rombongan pramugari Cathay Pacific yang menyerobot antrian dengan menyapa akrab seorang pilot di depan kami, seolah-olah kami ini nggak ada. Saya sudah kehilangan suara dan tidak berdaya untuk protes. Cuma mengingat dalam hati tidak akan naik Cathay Pacific gara-gara kelakuan pramugarinya yang tidak sopan ini. Tuhan Maha Adil, koper-koper kami boleh lewat begitu saja, tidak diperiksa sama sekali oleh petugas custom. Mereka hanya mengecek formulir kedatangan kami dan menanyakan apa yang perlu di-declare. Baca di sini untuk daftar barang-barang yang tidak boleh dibawa ke Australia.

Pagi dini hari, kami naik taksi menuju rumah teman yang bersedia menampung kami di Perth. Taksi di Australia  pasti pakai argo dan antrinya juga jelas. Makanya saya nggak takut sama sekali naik taksi pagi-pagi hanya dengan dua precils. Nggak sampai setengah jam kami sampai di rumah keluarga Habibi di daerah Inglewood. Kangen-kangenan sebentar, kami langsung beristirahat lagi agar besok bisa jalan-jalan dengan tenaga yang lebih fresh.


The Precils with The Habibis at their famous couch
Bis umum di Perth
Kami cuma punya 36 jam di Perth, jadi itinerary-nya ketat banget. Saya sudah pesan ke Hayu, nyonya rumah, untuk menemani kami ke tempat-tempat yang penting saja. Enaknya punya guide, saya nggak perlu pusing bikin itinerary, tinggal ngikut aja :) Paginya kami diajak jalan-jalan ke kota, dengan naik bis umum. Kami membeli tiket satu kali jalan, untuk dewasa $2,70 dan untuk anak-anak $1,10, sementara Little A gratis. Lebih lengkap tentang sistem tiket transportasi umum di Perth bisa dilihat di sini.

Di kota, kami jalan-jalan di Murray St Mal. Bagi yang belum tahu, Mal di Aussie adalah istilah untuk jalan khusus pejalan kaki, tertutup bagi kendaraan bermotor. Seperti Car Free Day kalau di Indonesia, cuma yang ini 24 jam :) Di sana bisa ambil peta gratis atau tanya-tanya tentang Perth di Information Booth. Di sini sih tidak perlu khawatir tersesat karena petunjuk jalan jelas dan ada di mana-mana.

Setelah sempat belanja buku di Dymocks dan beli sesuatu di The Body Shop, kami lanjut membeli takeaway sushi untuk makan siang di Taka's Kitchen, restoran Jepang bersertifikat halal. Dari sana kami kembali jalan kaki menuju London Court, semacam ruko yang dibangun dengan gaya arsitektur Tudor, untuk obat kangen imigran dari Inggris :) Di ruko ini ada kios-kios lucu yang menjual pernak-pernik ala Inggris. Saya tertarik sama toko permen dan kafe kecil yang ada di sebelahnya, tapi tidak sempat mampir. Kata Zaki, guide kami, foto di London Court ini bisa untuk pamer kalau kita sudah pernah mampir ke Inggris, hehe.

Dari London Court hanya beberapa blok menuju Swan Bells, tugu kebanggaan warga Perth. Kalau Inggris punya Big Ben, Perth punya Big Bells :) Kami cuma lihat-lihat dari luar doang dan foto-foto di depannya karena masuk harus bayar. Tiket untuk dewasa $14, anak-anak $9, keluarga $30 dan di bawah lima tahun gratis. Kalau punya uang lebih, coba aja masuk. Kabarnya di dalam kita bisa mendengarkan lagu Indonesia Raya dimainkan.


Information Booth di Murray St Mal
Petunjuk jalan di Murray St Mal
Toko permen di London Court
LittleA dan The Emak di depan Bell Tower
Tujuan selanjutnya wajib dikunjungi kalau kita ke Perth: Kings Park. Dari Swan Bells kami naik Cat Bus (gratis) ke Kings Park. Taman seluas 400 hektar (gile kan besarnya?) ini bisa dibilang jiwa kota Perth. Dari atas taman, kita bisa melihat pemandangan bangunan pencakar langit di Perth berdampingan dengan indahnya Swan River yang berwarna biru. Menurutku, sungai Swan lebih indah daripada sungai Yarra di Melbourne atau sungai Brisbane yang airnya coklat. Bisa ngapain aja di Kings Park? Terserah kita sih. Little A yang gemar lari-lari langsung mengajak teman barunya, Hayya, untuk balapan lari. Sementara Big A tetap asyik dengan bacaannya. The Emak leyeh-leyeh santai sambil nyemil sushi. Setelah jalan-jalan dan memotret pemandangan kota, kami menggelar piknik di dekat War Memorial alias tugu pahlawan.

Sayangnya kami tidak bisa berlama-lama menjelajah Kings Park yang kabarnya punya pohon unik Baobab. Cuma seuil aja dari 400 hektar yang kami cicipi. Perjalanan kami lanjutkan ke Freemantle dengan naik bis kota, dilanjutkan dengan kereta.


Little A dan Hayya lomba lari di Kings Park
Big A asyik baca di War Memorial, Kings Park
View dari Kings Park
Piknik di Kings Park. Ortunya pose, anaknya cuek :p
Fremantle tuh kota tua yang bisa dicapai sekitar 20 menit dengan kereta dari pusat kota Perth. Tapi hari itu kami kurang beruntung. Stasiun Central sedang diperbaiki, sehingga untuk naik kereta ke Freemantle tetap harus naik bis dulu ke stasiun terdekat setelah Central. Gampang kok caranya, tinggal cari kereta jurusan Freemantle (Freemantle Line). Nanti turunnya di stasiun terakhir. Jadwal kereta bisa dilihat di sini.
 
Dari stasiun kereta, kami berjalan menuju dermaga melalui Market St dan South Terrace yang dijuluki sebagai Cappuccino Strip, saking banyaknya kedai kopi di jalan ini. Di sepanjang jalan kami disuguhi pemandangan bangunan-bangunan kuno yang ciamik, favorit saya. Sayangnya saya tidak bisa menikmati atau memotret dengan serius karena kami harus bergegas sebelum matahari benar-benar terbenam dan menghilang. Di pojok Market St, kami sempatkan mampir ke kedai coklat San Churro untuk membeli churros, camilan favoritku. Churros ini semacam donat Spanyol berbentuk batangan yang dicelupkan saus coklat. Yum!

Ketika sampai di pantai kecil di tepi dermaga, langit sudah berwarna jingga. Kami menikmati suasana senja ini bersama beberapa orang lain, yang juga sibuk foto-foto :) Ketika matahari menghilang di balik cakrawala dan langit berganti memancarkan warna pink, kami melipir ke Cicerello's untuk makan malam.

Di Cicerello's, restoran makanan laut tepi dermaga ini, kami memesan seafood tray, yang isinya
fish & chips, 2 udang, 5 calamari, crab stick, dan irisan nanas! Ah, akhirnya ketemu lagi dengan fish and chips dengan saus tartar. Ikannya enak dan segar, hasil tangkapan hari ini. Kopi flat white yang saya pesan pun sangat enak, menuntaskan dahaga saya yang kangen minum kopi enak dengan susu sungguhan :) Kalau sempat ke Freemantle, mampirlah ke Cicerello's yang di website-nya mengaku kedai makanan laut No.1 di Western Australia :)


Kereta umum di Perth
pintu keluar stasiun Freemantle
Big A di depan stasiun Freemantle
Setelah kenyang, kami menjajal naik bianglala besar di taman dekat dermaga. Dari atas Sky View, kami bisa melihat pemandangan kota Freemantle yang berhiaskan lampu. Lumayan lah keliling beberapa putaran diiringi lagu-lagu nostalgia Emaknya. Kalau Si Ayah biasanya nggak mau naik bianglala seperti ini. Alasannya tiketnya kemahalan. Tapi saya rasa Si Ayah cuma takut ketinggian, tapi nggak mau mengakui :p

Turun dari bianglala, kami benar-benar capek. Susah banget menyeret Little A untuk berjalan kembali ke stasiun. Terpaksa The Emak yang perkasa ini harus menggendong. Di stasiun, kami ketinggalan kereta, jadi harus menunggu kereta berikutnya. Untungnya kereta sudah ada dan cukup lowong, jadi anak-anak bisa main-main sepuasnya di dalam gerbong, menunggu berangkat. Kami pulang dengan jalur yang sama dengan waktu berangkat: kereta, bis pengganti sampai stasiun central, kemudian jalan kaki sampai halte bis untuk ganti bis menuju Inglewood. Satu hari yang melelahkan tapi kami cukup puas dan gembira.

Sebenarnya kalau punya banyak waktu, ada dua tempat lagi yang wajib dikunjungi di Freemantle: E Shed Market (semacam Paddys Market di Sydney) untuk membeli suvenir murah dan Fremantle Market yang cuma buka Jumat-Minggu. Nggak papa deh belum sempat ke sana. Malah ada alasan untuk balik lagi mengunjungi Perth :)

Sunset di Freemantle
dermaga Freemantle
Fish n chips di Cicerello's
Yummy Churros dengan saus coklat putih dan coklat :p
Hari berikutnya, kami cuma punya setengah hari di Perth. Kali ini kami mau mengunjungi Art Gallery of Western Australia yang gedungnya terletak di Perth Cultural Centre, satu kompleks dengan museum, perpustakaan, amphiteatre, central square, gedung teater dan wetland. Yang fakir wifi dan pecinta gratisan sila datang ke sini, ada wifi gratis di seluruh penjuru kompleks. You are welcome :)

Kami ke galeri seni untuk mengunjungi pameran Picasso to Warhol yang diangkut dari MoMA New York. Little A dan Big A terpikat dengan karya Picasso ketika mengunjungi pameran di Galeri Seni NSW. Karena itu penasaran juga dengan pameran ini. Kalau saya sendiri tertarik dengan karya seni Pop Art si Warhol. Kami beruntung ditemani oleh Zaki yang mengerti seni dan juga pelukis amatir :) Jadi kan bisa nanya-nanya tentang karya yang dipamerkan, tidak sekedar bengong atau pura-pura ngerti di depan lukisan :p

Karya Picasso yang dipamerkan tidak sebanyak dan semenarik ketika ada pameran di Sydney, jadi the precils cepat bosan. Sebelum sampai ke Warhol, saya terpesona oleh lukisan Pollock: There Were Seven in Eight. Lukisan sebesar 1x2 meter berisi benang kusut ini menggambarkan keruwetan dan kegelisahan pelukisnya ;)

Saya buru-buru berfoto dengan Campbell Soup sebelum Little A meloloskan diri karena tertarik dengan pop art Marilyn Monroe. Setelah Little A puas, kami window shopping di art gallery shop. Saya dan The Precils selalu tertarik dengan pernak-pernik di setiap galeri seni yang kami kunjungi, karena memang lucu-lucu. Tapi jelas mahal banget! Ibaratnya pernak-pernik di toko galeri seni ini ready-to-wear art, seni yang bisa dipakai. Saya agak kecewa tidak bisa membeli repro poster Warhol yang harganya $25, duh! Akhirnya kami cuma beli kids pack berisi tas, balon, pensil dan lembar aktivitas, dan magnet kulkas pop art. Lumayan lah, kulkas saya di rumah jadi sedikit nyeni dan nge-warhol sekarang :D

Apa sih yang disukai anak-anak dari galeri seni? Jawabnya adalah kedai es krim di depannya :D Kami leyeh-leyeh sejenak menikmati gelato di depan galeri sebelum mengejar pesawat ke Sydney.
 
Tiga puluh enam jam jelas kurang untuk menjelajah Perth. Kami bahkan belum ke pantai-pantai di Perth yang konon punya sunset yang cantik banget. Salah satu pantai yang disarankan oleh host kami adalah pantai Cottesloe, cakep banget katanya.

Yah, gimana dong. Menjelang siang kami sudah harus naik taksi menuju bandara, mengucapkan selamat tinggal pada Perth, dan pada host kami yang baik hati: Keluarga Habibi. Sampai beberapa hari kemudian Little A terus-menerus menanyakan teman barunya yang dia anggap sebagai my new cousin. Semoga bisa ketemu di lain waktu ya, Nak.

Kami terbang dari Perth pukul 2.30 sore, dan sampai di Sydney pukul 8.40 malam. Penerbangan dari Perth ke Sydney ditempuh dalam 4 jam 5 menit. Kali ini kami naik Qantas dengan tiket promo seharga $199 per orang. Bener kan, kalau dari Perth, tiket ke Sydney lebih mahal daripada tiket ke Bali. Penerbangan berlangsung mulus, dengan pemandangan senja yang bagus dari pantai selatan Australia, sebelum akhirnya pesawat menembus malam.

Sebentar lagi The Precil akan bertemu dengan Si Ayah, setelah 70 hari berpisah.

The Emak dan Little A di depan Art Gallery of WA
Campbell Soup si Warhol
Gelato di depan art gallery
 ~ The Emak