Jumat, 12 Oktober 2018

Dunia Islam : Man Jadda Wajada

Dunia Islam : Man Jadda Wajada

 Kelulusan Sekolah Menengah Pertama yang menciptakan orang tuaku besar hati dengan prestas Dunia Islam : Man Jadda WajadaHari itu, kurang lebih 7 tahun yang lalu. Kelulusan Sekolah Menengah Pertama yang menciptakan orang tuaku besar hati dengan prestasi yang bisa kuraih. Tak begitu memuaskan, tapi posisi 10 besar dan berhasil menciptakan bapak maju ke panggung yaitu hal yang luar biasa, untukku. Sampai di rumah, peluk ibu menjadi hadiah kelulusan. Senyum kakak-kakakku menjadi kado keberhasilan. Bangga. Ucapan bapak itulah yang hingga dikala ini masih saya ingat. Ah,beruntungnya saya menjadi bab dari keluarga ini. Bukan keluarga yang kaya raya,tapi keluarga yang penuh dengan kasih dan sayang.

Pendaftaran Sekolah Menengan Atas sudah buka semenjak beberapa hari lalu, tapi saya belum juga memutuskan. Perbedaan pendapat antara saya dan orangtua membuatku ragu menentukan pilihan.

“Allah sebaik-baik pemilih keputusan, shalatlah di tengah malam dek. Segala keputusan ada di tanganmu. Hanya, bapak ingin kau tak pergi jauh dari kota ini. Kau anak terakhir, dan rasanya bapak tidak yakin untuk melepasmu sendiri di luar kota. Hanya itu”, kata bapak dengan bijak di ruang tamu.

Esok hari setelahnya, saya mengajak semua keluarga untuk berdiskusi problem tersebut. Malam itu terasa begitu hangat, apalagi dengan pisang goreng yang ibu buat.

“Nana sudah memutuskan. Sekolah Menengan Atas 1 di luar kota. Bolehkan?”, saya memulai percakapan. Dan, hening. Hanya ada bunyi jangkrik di luar sana. Kuperhatikan satu persatu wajah keluargaku. Sepertinya ibu hampir menangis, dan benar saja. Tapi kenapa? Alasannya gres kutahu sesudah 3 tahun menimba ilmu di Sekolah Menengan Atas tersebut.

Berita gembira, bahwa saya berhasil masuk ke Sekolah Menengan Atas 1. Sekolah Menengan Atas idaman setiap pelajar SMP. Sekolah Menengan Atas dengan biaya yang tak sedikit. Sekolah Menengan Atas dengan kemudahan yang lengkap. Sekolah Menengan Atas favorit. Dan saya menjadi bab dari Sekolah Menengan Atas itu, 3 tahun lamanya. Alhamdulillah, di hari yang kutargetkan, saya berhasil lulus dengan prestasi yang cukup memuaskan. Aku berhasil lulus! Tapi kebahagiaan itu rasanya tak tepat ketika di hari pelepasan, saya tiba tanpa pendamping. Apa boleh buat. Bapak harus menjaga warung, ibu harus mengajar di SD, kakakku semua berada di luar kota untuk kuliah. Ya sudahlah, mungkin ini yang terbaik.

Sehari sesudah pelepasan, saya pulang ke rumah dan disambut senyum mekar kedua orangtua. Ibu yang tak henti-hentinya mengucap kata maaf alasannya yaitu tak bisa hadir di hari pelepasan, dan bapak yang juga seringkali mengucap kata selamat alasannya yaitu saya sudah akan menjadi mahasiswa membuatku sangat terharu.

Kriiiing… kriiiiing… bunyi khas handphoneku menggema di kamar. Kak Eka.

“Assalamu’alaikum, kak”.

“Wa’alaikumsalam. Congrats ya na. Akhirnya,jadi alumnus Sekolah Menengan Atas 1”, kata kak Eka dengan penuh semangat.

“Iya, kak. Makasih ya. Hehe”

“Kakak dulu takut kau tak berhasil lulus.Apalagi dengan kondisi ekonomi kita yang apa adanya. Dan kau tahu, dulu abang berfikir untuk berhenti kuliah waktu kau memutuskan masuk Sekolah Menengan Atas 1. Apalagi melihat ibu menangis dikala itu. Ah, hari ini, kau lulus, itu bagaikan mimpi. Hebat dah! Tanpa beasiswa padahal. Haha.”

“Ibu? Ah. Kenapa kak Eka tidak bilang semenjak awal? Bahkan saya tak memikirkan problem biaya.”

“Sudahlah, keyakinanmu yang menciptakan kami yakin. Sudah ya,pulsa limit nih. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam.”

Makara itu, kenapa ibu menangis. Biaya sekolah yang memang mahal. Dan semenjak itulah, saya berazzam untuk benar-benar berbakti dan mengikuti kata mereka yang ada di sekitarku.

Hari berganti,dan tibalah ujian tertulis untuk masuk ke Perguruan Tinggi. Kali ini saya menentukan untuk melanjutkan di sebuah universitas pendidikan di Yogyakarta dan mengambil prodi informatika. Dan semua oke dengan pilihanku.Tanpa ragu,kudaftarkan diri lewat jalur ujian mandiri.Dan lagi,berita gembira. Aku diterima hanya dengan sekali ujian. Alhamdulillah,Allah memudahkan segalanya.

Semua berjalan menyerupai biasa. Kak Eka dan Kak Ida berhasil lulus di tahun pertamaku masuk kuliah. Bekerja di daerah yang memang mereka inginkan. Suatu kali, saya dan kak Putri, yang juga kuliah di daerah yang sama denganku terlibat dalam sebuah percakapan.

“Alhamdulillah, kak Ida lulus juga. Kalau dipikir-pikir,ALLAH itu baiiik banget. Ya, kau paham kan,Na. Ibu hanya guru SD, bapak ganti-ganti kerjaan. Tapi mereka berhasil mendidik kita. Kak Ida, kak Eka. Kau yang alumni Sekolah Menengan Atas 1,mahasiswi informatika dengan biaya yang tak sedikit. Dan aku. Empat! Bayangkan dik. Mungkin itulah berkah dari shalat Dhuha yang rutin bapak ibumu kerjakan”,kata kak Putri dengan senyum yang begitu kembang.

Dan kusadari, nikmat itu benar-benar terasa. Benar apa yang dikatakan kak Putri. Mungkin ini berkah yang sanggup kami rasakan.

Kak putri lulus dikala saya masih semester 4. Dan Kak Eka pun mengakhiri masa lajangnya di tahun yang sama. Ah, saya kehilangan keduanya dalam arti yang membahagiakan. Masuk ke semester 6, kak Ida pun menikah. Dan saya yang paling menjadi beban bagi bapak dan ibu dikala itu. Rasanya, ingin segera mengakhiri perkuliahan.

8 semester sudah kulalui. Bebas teori dan hanya menyisakan skripsi. Berbulan-bulan bimbingan, karenanya sampailah di hari yang kutunggu. Ujian skripsi. Dan kau tahu saya sanggup nilai apa? A. Itulah nilai skripsiku. Dan akhirnya, tiga bulan setelahnya, saya memakan baju toga. Berfoto di depan gedung auditorium dengan teman-temanku yang lain. Teman. Berfoto dengan teman. Ya, lagi-lagi, kedua orang tuaku tak bisa hadir alasannya yaitu ada hal yang memang tak bisa ditinggalkan. Pernikahan Kak Putri yang memang tak bisa diubah tanggalnya. Apalagi wisudaku yang dadakan, tak mungkin juga untuk pindah tanggal.Tapi,kehadiran kak Eka dan suaminya cukup membuatku bahagia,walaupun tak sempat untuk berfoto dengan pakaian togaku.

Saat itu,hanya bisa berkhusnudzon dengan segala kejadian.Mata ini memang sangat dekat hubungannya dengan hati. Beginilah ketika sedih, mata pun mengalirkan airnya. Walau sadar,bahwa menangis bukanlah solusi.

Langit sudah pekat ketika saya hingga di stasiun kota.Menunggu jemputan di keramaian rasanya memalukan.Apalagi dengan jinjingan tas yang cukup menciptakan tangan pegal. Semenit,dua menit, karenanya sepuluh menit berlalu.Tapi dimana beliau yang berjanji akan menjemputku?

“Dek”. Dia menepuk bahuku dari belakang.

“Eh. Bapak”, kupeluk beliau dengan rindu yang meluap.Air mata yang semenjak tadi kutahan karenanya menetes juga,walau tak mengucur deras.

“Ayo, pulang. Tadi ban motornya bocor,jadi agak lama.Untung pak bengkelnya lagi sepi”

“Iya, ndak papa.”

Kami pun pulang dengan menaiki motor yang apa adanya. Motor supra semenjak zamanku masih SD. Ya,kami memang bukan keluarga yang kaya raya.Bertahan dengan motor ini pun rasanya sudah sangat bersyukur.

Ibu menyambutku dengan air mata.Kau bisa bayangkan apa yang saya lakukan. Menangis tersedu dalam pelukannya. Aku tak malu. Karena inilah bukti cintaku. Bukti rinduku. Kak Ida,Kak Putri,Kak Eka, dan keluarganya, menyambutku pula dengan senyum dan tangisnya.Ya Rabb,tiada nikmat yang sanggup saya dustakan. Indahnya keluarga.

Sahabat SEHB,inilah bukti kesungguhan.Inilah bukti keyakinan.MAN JADDA WA JADA. MAN SHABARA ZAFIRA.Ketika kau bersungguh-sungguh dan bersabar,keberhasilan akan bisa kau raih.

Ketika kau yakin,maka akan ada kemungkinan untuk berhasil. Tapi, jikalau kau tak yakin,maka selamanya kau takkan berhasil. Dan,ALLAH-lah sebaik-baik perencana.

Di balik segala kesulitan,pastilah akan ada kebahagiaan.Berbaik sangkalah pada-Nya.Yakinkan diri,Insya Allah dengan segenap USAHA,KESUNGGUHAN dan DOA.
Dunia Islam : Man Jadda Wajada

Dunia Islam : Man Jadda Wajada

 Kelulusan Sekolah Menengah Pertama yang menciptakan orang tuaku besar hati dengan prestas Dunia Islam : Man Jadda WajadaHari itu, kurang lebih 7 tahun yang lalu. Kelulusan Sekolah Menengah Pertama yang menciptakan orang tuaku besar hati dengan prestasi yang bisa kuraih. Tak begitu memuaskan, tapi posisi 10 besar dan berhasil menciptakan bapak maju ke panggung yaitu hal yang luar biasa, untukku. Sampai di rumah, peluk ibu menjadi hadiah kelulusan. Senyum kakak-kakakku menjadi kado keberhasilan. Bangga. Ucapan bapak itulah yang hingga dikala ini masih saya ingat. Ah,beruntungnya saya menjadi bab dari keluarga ini. Bukan keluarga yang kaya raya,tapi keluarga yang penuh dengan kasih dan sayang.

Pendaftaran Sekolah Menengan Atas sudah buka semenjak beberapa hari lalu, tapi saya belum juga memutuskan. Perbedaan pendapat antara saya dan orangtua membuatku ragu menentukan pilihan.

“Allah sebaik-baik pemilih keputusan, shalatlah di tengah malam dek. Segala keputusan ada di tanganmu. Hanya, bapak ingin kau tak pergi jauh dari kota ini. Kau anak terakhir, dan rasanya bapak tidak yakin untuk melepasmu sendiri di luar kota. Hanya itu”, kata bapak dengan bijak di ruang tamu.

Esok hari setelahnya, saya mengajak semua keluarga untuk berdiskusi problem tersebut. Malam itu terasa begitu hangat, apalagi dengan pisang goreng yang ibu buat.

“Nana sudah memutuskan. Sekolah Menengan Atas 1 di luar kota. Bolehkan?”, saya memulai percakapan. Dan, hening. Hanya ada bunyi jangkrik di luar sana. Kuperhatikan satu persatu wajah keluargaku. Sepertinya ibu hampir menangis, dan benar saja. Tapi kenapa? Alasannya gres kutahu sesudah 3 tahun menimba ilmu di Sekolah Menengan Atas tersebut.

Berita gembira, bahwa saya berhasil masuk ke Sekolah Menengan Atas 1. Sekolah Menengan Atas idaman setiap pelajar SMP. Sekolah Menengan Atas dengan biaya yang tak sedikit. Sekolah Menengan Atas dengan kemudahan yang lengkap. Sekolah Menengan Atas favorit. Dan saya menjadi bab dari Sekolah Menengan Atas itu, 3 tahun lamanya. Alhamdulillah, di hari yang kutargetkan, saya berhasil lulus dengan prestasi yang cukup memuaskan. Aku berhasil lulus! Tapi kebahagiaan itu rasanya tak tepat ketika di hari pelepasan, saya tiba tanpa pendamping. Apa boleh buat. Bapak harus menjaga warung, ibu harus mengajar di SD, kakakku semua berada di luar kota untuk kuliah. Ya sudahlah, mungkin ini yang terbaik.

Sehari sesudah pelepasan, saya pulang ke rumah dan disambut senyum mekar kedua orangtua. Ibu yang tak henti-hentinya mengucap kata maaf alasannya yaitu tak bisa hadir di hari pelepasan, dan bapak yang juga seringkali mengucap kata selamat alasannya yaitu saya sudah akan menjadi mahasiswa membuatku sangat terharu.

Kriiiing… kriiiiing… bunyi khas handphoneku menggema di kamar. Kak Eka.

“Assalamu’alaikum, kak”.

“Wa’alaikumsalam. Congrats ya na. Akhirnya,jadi alumnus Sekolah Menengan Atas 1”, kata kak Eka dengan penuh semangat.

“Iya, kak. Makasih ya. Hehe”

“Kakak dulu takut kau tak berhasil lulus.Apalagi dengan kondisi ekonomi kita yang apa adanya. Dan kau tahu, dulu abang berfikir untuk berhenti kuliah waktu kau memutuskan masuk Sekolah Menengan Atas 1. Apalagi melihat ibu menangis dikala itu. Ah, hari ini, kau lulus, itu bagaikan mimpi. Hebat dah! Tanpa beasiswa padahal. Haha.”

“Ibu? Ah. Kenapa kak Eka tidak bilang semenjak awal? Bahkan saya tak memikirkan problem biaya.”

“Sudahlah, keyakinanmu yang menciptakan kami yakin. Sudah ya,pulsa limit nih. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam.”

Makara itu, kenapa ibu menangis. Biaya sekolah yang memang mahal. Dan semenjak itulah, saya berazzam untuk benar-benar berbakti dan mengikuti kata mereka yang ada di sekitarku.

Hari berganti,dan tibalah ujian tertulis untuk masuk ke Perguruan Tinggi. Kali ini saya menentukan untuk melanjutkan di sebuah universitas pendidikan di Yogyakarta dan mengambil prodi informatika. Dan semua oke dengan pilihanku.Tanpa ragu,kudaftarkan diri lewat jalur ujian mandiri.Dan lagi,berita gembira. Aku diterima hanya dengan sekali ujian. Alhamdulillah,Allah memudahkan segalanya.

Semua berjalan menyerupai biasa. Kak Eka dan Kak Ida berhasil lulus di tahun pertamaku masuk kuliah. Bekerja di daerah yang memang mereka inginkan. Suatu kali, saya dan kak Putri, yang juga kuliah di daerah yang sama denganku terlibat dalam sebuah percakapan.

“Alhamdulillah, kak Ida lulus juga. Kalau dipikir-pikir,ALLAH itu baiiik banget. Ya, kau paham kan,Na. Ibu hanya guru SD, bapak ganti-ganti kerjaan. Tapi mereka berhasil mendidik kita. Kak Ida, kak Eka. Kau yang alumni Sekolah Menengan Atas 1,mahasiswi informatika dengan biaya yang tak sedikit. Dan aku. Empat! Bayangkan dik. Mungkin itulah berkah dari shalat Dhuha yang rutin bapak ibumu kerjakan”,kata kak Putri dengan senyum yang begitu kembang.

Dan kusadari, nikmat itu benar-benar terasa. Benar apa yang dikatakan kak Putri. Mungkin ini berkah yang sanggup kami rasakan.

Kak putri lulus dikala saya masih semester 4. Dan Kak Eka pun mengakhiri masa lajangnya di tahun yang sama. Ah, saya kehilangan keduanya dalam arti yang membahagiakan. Masuk ke semester 6, kak Ida pun menikah. Dan saya yang paling menjadi beban bagi bapak dan ibu dikala itu. Rasanya, ingin segera mengakhiri perkuliahan.

8 semester sudah kulalui. Bebas teori dan hanya menyisakan skripsi. Berbulan-bulan bimbingan, karenanya sampailah di hari yang kutunggu. Ujian skripsi. Dan kau tahu saya sanggup nilai apa? A. Itulah nilai skripsiku. Dan akhirnya, tiga bulan setelahnya, saya memakan baju toga. Berfoto di depan gedung auditorium dengan teman-temanku yang lain. Teman. Berfoto dengan teman. Ya, lagi-lagi, kedua orang tuaku tak bisa hadir alasannya yaitu ada hal yang memang tak bisa ditinggalkan. Pernikahan Kak Putri yang memang tak bisa diubah tanggalnya. Apalagi wisudaku yang dadakan, tak mungkin juga untuk pindah tanggal.Tapi,kehadiran kak Eka dan suaminya cukup membuatku bahagia,walaupun tak sempat untuk berfoto dengan pakaian togaku.

Saat itu,hanya bisa berkhusnudzon dengan segala kejadian.Mata ini memang sangat dekat hubungannya dengan hati. Beginilah ketika sedih, mata pun mengalirkan airnya. Walau sadar,bahwa menangis bukanlah solusi.

Langit sudah pekat ketika saya hingga di stasiun kota.Menunggu jemputan di keramaian rasanya memalukan.Apalagi dengan jinjingan tas yang cukup menciptakan tangan pegal. Semenit,dua menit, karenanya sepuluh menit berlalu.Tapi dimana beliau yang berjanji akan menjemputku?

“Dek”. Dia menepuk bahuku dari belakang.

“Eh. Bapak”, kupeluk beliau dengan rindu yang meluap.Air mata yang semenjak tadi kutahan karenanya menetes juga,walau tak mengucur deras.

“Ayo, pulang. Tadi ban motornya bocor,jadi agak lama.Untung pak bengkelnya lagi sepi”

“Iya, ndak papa.”

Kami pun pulang dengan menaiki motor yang apa adanya. Motor supra semenjak zamanku masih SD. Ya,kami memang bukan keluarga yang kaya raya.Bertahan dengan motor ini pun rasanya sudah sangat bersyukur.

Ibu menyambutku dengan air mata.Kau bisa bayangkan apa yang saya lakukan. Menangis tersedu dalam pelukannya. Aku tak malu. Karena inilah bukti cintaku. Bukti rinduku. Kak Ida,Kak Putri,Kak Eka, dan keluarganya, menyambutku pula dengan senyum dan tangisnya.Ya Rabb,tiada nikmat yang sanggup saya dustakan. Indahnya keluarga.

Sahabat SEHB,inilah bukti kesungguhan.Inilah bukti keyakinan.MAN JADDA WA JADA. MAN SHABARA ZAFIRA.Ketika kau bersungguh-sungguh dan bersabar,keberhasilan akan bisa kau raih.

Ketika kau yakin,maka akan ada kemungkinan untuk berhasil. Tapi, jikalau kau tak yakin,maka selamanya kau takkan berhasil. Dan,ALLAH-lah sebaik-baik perencana.

Di balik segala kesulitan,pastilah akan ada kebahagiaan.Berbaik sangkalah pada-Nya.Yakinkan diri,Insya Allah dengan segenap USAHA,KESUNGGUHAN dan DOA.

Kamis, 20 September 2018

Kisah Kasatmata Dasyatnya Keluarga Sakinah

Kisah Kasatmata Dasyatnya Keluarga Sakinah


Namaku Wina lengkapnya Sri Winarsih, kini usiaku sudah mencapai 28 tahun. Aku dilahirkan dari keluarga yang sangat sederhana.

Ayahku seorang pegawai negeri dengan penghasilan yang sangat rendah, sedangkan ibu seorang ibu rumah tangga yang hanya sanggup membantu meringankan suaminya dengan berjualan jajanan keliling kampung. Seingatku, saya tidak pernah mendengar ayah ibuku mengeluhkan wacana hal itu.

Aku dilahirkan dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Aku tidak tepat menyerupai bayi-bayi lainnya, tubuhku kecil alasannya ialah saya lahir prematur. Mungkin alasannya ialah ibu terlalu ulet bekerja semoga sanggup membantu ayahku dalam mencari nafkah.

Oleh alasannya ialah orang bau tanah tidak mempunyai banyak biaya untuk perawatanku di rumah sakit, maka orang tuaku membawaku pulang ke rumah untuk dirawat dengan peralatan seadanya.

Berkat dukungan ayahku, ibuku merawatku sebaiknya mungkin dengan sangat berhati-hati. Sehubungan saya lahir belum dewasa maka tubuhku membutuhkan kehangatan yang lebih, kata ibuku dulu untuk sanggup menghangat tubuhku maka dipakai lampu mencar ilmu bekas pemberian tetangga. Orang tuaku berharap saya sanggup tumbuh dengan tepat menyerupai layaknya bawah umur pada umumnya.

Alhamdulillah dengan dukungan ayahku dan berkat pertolongan Allah maka saya sanggup tumbuh dengan cepat dan sehat. Namun di tengah perjalanan hidupku terjadi suatu kecelakaan yang dampaknya terasa hingga tamat SMA.

Saat berusia 5 bulan saya jatuh dari kawasan tidur ibuku. Saat itu ibuku sedang menciptakan camilan manis untuk dijual hari itu. Ibu terkejut mendengar tangisanku yang secara tiba-tiba itu. Aku sudah tergeletak di atas lantai. Setelah diperiksa, alhamdulillah tidak ada cedera di tubuhku.

Ibu tidak membawaku ke rumah sakit hanya diperiksa sendiri saja, alasannya ialah dikala itu ibu tidak punya uang. Dengan cekatan ibu menggendongku dengan penuh kasih sayang, dengan kehangatannya yang hingga dikala ini masih terasa dan selalu kurindukan.

Sejak kecil saya mengalami kesulitan dalam melaksanakan gerakan, tubuhku kaku, tidak lincah menyerupai teman-temanku. Semakin besar gerakanku semakin kaku, hingga kesudahannya saya di bawa ke rumah sakit yang berada jauh dari desa kami tinggal.

Sebetulnya orang tuaku tidak mempunyai uang untuk itu, tetapi dengan banyak sekali perjuangan yang halal kesudahannya ayahku bisa mengumpulkan sedikit uang untuk berobat ke kota.

Sesampainya di rumah sakit saya ditangani oleh seorang dokter yang bagus dan baik hati, lemah lembut tutur katanya, namanya dokter Mila.

Dari pemeriksaannya ternyata saya mengalami kelainan pada tulang kaki dan tanganku, sehingga saya harus menjalani beberapa terapi untuk menormalkan kembali fungsi tulang-tulangku semoga bisa berjalan dengan baik.

Salah satu penyebabnya kemungkinan pada dikala saya terjatuh pada usia 5 bulan itu. Baru beberapa hari saya tinggal di rumah sakit persediaan uang ayahku menipis, kesudahannya dengan sangat terpaksa ayah ibu membawaku kembali ke kampung.

Orang tuaku pasrah atas ujian yang Allah berikan. Apapun yang akan terjadi semua ialah kehendak-Nya. Usaha orang tuaku patut kuacungi dua jempol, bahkan bila memungkinkan empat jempol sekaligus.

Dengan telaten setiap hari ibuku melaksanakan terapi sendiri di rumah, sementara ayahku berbagi saya kawasan untuk mencar ilmu berjalan dari bambu. Sebelum ayahku pergi bekerja saya selalu diajak untuk melaksanakan latihan secara rutin dengan penuh kasih sayang.

Aku melihat tidak ada sedikitpun guratan kesedihan di wajah mereka, senyum senang selalu menyelimuti bibirnya dikala memberi semangat padaku untuk melaksanakan latihan tersebut. Apalagi jikalau sudah melihat saya bosan, ibu selalu membujuknya dengan kesepakatan akan berbagi saya makanan kesukaanku. Ayah pun demikian tidak pernah luput memujiku dengan perkembangan kemampuanku untuk berjalan.

Tanpa terasa saya sudah duduk di dingklik SMA, saya masih selalu diantar jemput oleh ibuku alasannya ialah saya memang belum sanggup berjalan dengan sempurna. Jalanku masih pelan-pelan takut jatuh, ibu selalu menggandeng tanganku dan memapah saya berjalan. Kegigihan ia dalam membimbing, benar-benar memacu hatiku untuk bertekad mewujudkan cita-citaku menjadi seorang dokter andal tulang yang bagus dan sukses menyerupai Dokter Mila.

Hari demi hari kulalui dengan dukungan dan kehangatan orang tuaku, terutama ibu. Sampailah pada tahun ke 3 di SMA, prestasi belajarku melesat cepat, nilai pelajaranku sangat baik.
Pertolongan Allah pun tiba. Aku mendapat sumbangan dari Pak

Haji Sholehudin, seorang yang gemar memberi di kampungku, sehingga orang tuaku tidak begitu dipusingkan dengan biaya sekolahku di SMA. Walaupun demikian ayah dan ibuku tidak berhenti atau bermalas-malasan mencari nafkah, alasannya ialah pada prinsipnya tidak mau merepotkan orang lain.

Pak Haji Sholeh ialah pedagang di pasar di kota, istri tercintanya telah meninggal dunia 15 tahun yang lalu. Meski usahanya sangat maju namun kehidupannya sangat sederhana.

Beliau hidup bersama 5 orang anak yatim piatu di rumahnya yang sangat sederhana. Kepeduliannya kepada orang yang tidak bisa jauh lebih peduli dibandingkan dengan orang kaya yang ada di kampungku.

Menurut dongeng dari ibuku, semenjak masih muda ia gemar sekali bersedekah, begitu pula dengan almarhum istrinya. Baginya harta dia bahu-membahu ialah harta yang dia berikan untuk orang lain. Subhanallah!!

Dengan segala keterbatasan dan dukungan dari orangtua, saya bisa menuntaskan pendidikan di Sekolah Menengan Atas dengan prestasi dan nilai yang gemilang. Acara wisuda di sekolah sangat meriah. Kami saling berpelukan, menangis alasannya ialah haru bahagia.

Kami sadar kami akan berpisah dengan teman-teman dan entah apakah kami akan bertemu kembali atau tidak. Kelak kami akan menjadi apa? Kami tidak tahu, semua itu ialah diam-diam Ilahi.

Allah mendengar dan mengabulkan semua doa dan harapan orang tuaku, yang selalu kudengar dikala ibuku selesai menunaikan shalat Tahajud di keheningan malam yang sepi. Bersamaan dengan mengalirnya airmata dari bola matanya yang indah kemudian sebait doa pun meluncur dari bibirnya.

Tak henti-hentinya ibu selalu mendoakan aku, demi kebahagiaanku, keberhasilanku. Kadang saya berpikir kapankah ibu tidur? Setiap saya terbangun ibu sedang berzikir, berdoa, mengaji, shalat dan banyak lagi serangkaian ibadah yang dilakukannya.

Selepas Sekolah Menengan Atas saya diterima di PTN yang paling terkemuka di Indonesia, dengan jurusan yang diminati banyak pelajar Sekolah Menengan Atas yaitu Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI).

Terima kasih Ya Allah, Kau mengabulkan cita-citaku menjadi mahasiswa kedokteran apalagi di Universitas Indonesia. Subhanallah tiada henti-hentinya saya bersyukur.

Mendapat kenikmatan besar dan petaka memilukan ...

Qadarullah, mungkin alasannya ialah kelewat bahagianya mendengar saya diterima di Fakultas Kedokteran UI, ayahku kena serangan jantung kemudian meninggal dunia.

Sejak itu ibuku hijrah ke Jakarta, menemaniku alasannya ialah saya dikala itu belum tepat betul. Setelah mengantarkan saya ke kampus, ibu pergi bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah seorang dokter yang kebetulan menjadi dosenku, namanya dr. Sudiyanto SpBO (dokter Spesialis Bedah Orthopedi). Dosen yang baik hati ini mempunyai 2 anak yang secara kebetulan anak sulungnya ialah abang kelasku, 3 tahun diatasku.

Dr Sudiyanto pun merasa prihatin dengan kondisiku, sehingga dengan nrimo membantuku pengobatanku dengan terapi medis secara gratis. Alhamdulillah dalam jangka waktu 1,5 tahun saya sudah sanggup berjalan dan tanganku sanggup digerakkan dengan elastis menyerupai teman-temanku yang lainnya.

Sepeninggal ayah, saya mendapat beasiswa alasannya ialah saya termasuk anak yatim yang berprestasi, dan dari keluarga yang miskin.

Hari demi hari kulalui bersama ibuku, dengan kesetiaannya ibuku selalu menemani saya dalam belajar, selalu memberi semangat, menjadi inspirasiku dalam menuntaskan studiku.

Dalam jangka waktu 5 tahun saya lulus sebagai dokter umum, kemudian dilanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi sebagai dokter seorang andal bedah orthopedic, sesuai cita-citaku dulu. Pendidikan ini pun sanggup kuselesaikan dalam jangka waktu 3 tahun. Allahu akbar!

Tibalah saatnya saya menjalani wisuda sebagai Dokter Spesialis Bedah Ortopedi. Dalam hatiku dan selalu dipenuhi rasa syukur kepada Allah. Malam hari sebelum wisuda saya tidak bisa tidur, kupandangi wajah ibuku yang sudah tampak bau tanah kelelahan, saya hanya bisa berucap lembut: “Ibuuuuu, terima kasih alasannya ialah kamu telah mengantarkan saya menjadi seorang dokter dengan kelembutan, kehangatan, kesabaran, ketekunan, yang niscaya doamu sangat nrimo untukku, Allah telah mengabulkan doamu.

Aku persembahkan gelar dan ijazahku untukmu, engkaulah yang patut mendapat gelar itu. Ibuuuu saya sangat mencintaimu…”

Tanpa terasa matahari pun muncul dari persembunyiannya, saya dan ibuku sibuk mempersiapkan diri untuk menghadiri upacara wisuda. Kami berangkat dengan memakai becak, namun tiba-tiba kami dikejutkan dengan kedatangan Dr Ade Sutisna, putra sulung Dr Sudiyanto.

Saat itu kami hendak menaiki becak yang sudah kami pesan, dengan sedikit memaksa ia mengajak kami untuk ikut masuk ke dalam kendaraannya. Sebagai penghargaan padanya kesudahannya kami mengikutinya. Sesampainya di kampus UI ternyata saya sudah dinantikan oleh Dr Sudiyanto dan istrinya.

Sepulang program wisuda, malam harinya keluarga Dr Ade Sutisna berkunjung ke rumah kontrakan kami yang sangat kecil. Di luar dugaan, kunjungan mereka bertujuan melamarku untuk dijodohkan dengan Dr Ade. Subhanallah, kami hanya bisa menangis haru dan rasa syukur.

Ternyata di zaman modern ini masih tersisa insan aristokrat yang mau menimbulkan orang miskin ini menjadi menantunya tanpa proses pertentangan. Rupanya semenjak saya masuk kuliah Dr. Sudiyanto sudah berniat menjodohkan saya dengan putranya. Tanpa sepengetahuan ia dr Ade menaruh hati padaku.

Dua tahun kemudian kami menikah dan merajut keluarga sakinah hingga sekarang. Dalam kebahagiaanku, kebaikan almarhum ayahku tak pernah terlupakan.

Hanya doa yang kupanjatkan kepada Allah, satu-satunya balas jasaku pada ayahku. Semoga doaku menjadi amal ayah yang tiada terputus.

Duhai ayah, seandainya dikala ini Allah mengizinkanmu masih hidup, betapa bahagianya dirimu, ikut mencicipi kebahagiaanku. [VoaIslam]
Kisah Kasatmata Dasyatnya Keluarga Sakinah

Kisah Kasatmata Dasyatnya Keluarga Sakinah


Namaku Wina lengkapnya Sri Winarsih, kini usiaku sudah mencapai 28 tahun. Aku dilahirkan dari keluarga yang sangat sederhana.

Ayahku seorang pegawai negeri dengan penghasilan yang sangat rendah, sedangkan ibu seorang ibu rumah tangga yang hanya sanggup membantu meringankan suaminya dengan berjualan jajanan keliling kampung. Seingatku, saya tidak pernah mendengar ayah ibuku mengeluhkan wacana hal itu.

Aku dilahirkan dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Aku tidak tepat menyerupai bayi-bayi lainnya, tubuhku kecil alasannya ialah saya lahir prematur. Mungkin alasannya ialah ibu terlalu ulet bekerja semoga sanggup membantu ayahku dalam mencari nafkah.

Oleh alasannya ialah orang bau tanah tidak mempunyai banyak biaya untuk perawatanku di rumah sakit, maka orang tuaku membawaku pulang ke rumah untuk dirawat dengan peralatan seadanya.

Berkat dukungan ayahku, ibuku merawatku sebaiknya mungkin dengan sangat berhati-hati. Sehubungan saya lahir belum dewasa maka tubuhku membutuhkan kehangatan yang lebih, kata ibuku dulu untuk sanggup menghangat tubuhku maka dipakai lampu mencar ilmu bekas pemberian tetangga. Orang tuaku berharap saya sanggup tumbuh dengan tepat menyerupai layaknya bawah umur pada umumnya.

Alhamdulillah dengan dukungan ayahku dan berkat pertolongan Allah maka saya sanggup tumbuh dengan cepat dan sehat. Namun di tengah perjalanan hidupku terjadi suatu kecelakaan yang dampaknya terasa hingga tamat SMA.

Saat berusia 5 bulan saya jatuh dari kawasan tidur ibuku. Saat itu ibuku sedang menciptakan camilan manis untuk dijual hari itu. Ibu terkejut mendengar tangisanku yang secara tiba-tiba itu. Aku sudah tergeletak di atas lantai. Setelah diperiksa, alhamdulillah tidak ada cedera di tubuhku.

Ibu tidak membawaku ke rumah sakit hanya diperiksa sendiri saja, alasannya ialah dikala itu ibu tidak punya uang. Dengan cekatan ibu menggendongku dengan penuh kasih sayang, dengan kehangatannya yang hingga dikala ini masih terasa dan selalu kurindukan.

Sejak kecil saya mengalami kesulitan dalam melaksanakan gerakan, tubuhku kaku, tidak lincah menyerupai teman-temanku. Semakin besar gerakanku semakin kaku, hingga kesudahannya saya di bawa ke rumah sakit yang berada jauh dari desa kami tinggal.

Sebetulnya orang tuaku tidak mempunyai uang untuk itu, tetapi dengan banyak sekali perjuangan yang halal kesudahannya ayahku bisa mengumpulkan sedikit uang untuk berobat ke kota.

Sesampainya di rumah sakit saya ditangani oleh seorang dokter yang bagus dan baik hati, lemah lembut tutur katanya, namanya dokter Mila.

Dari pemeriksaannya ternyata saya mengalami kelainan pada tulang kaki dan tanganku, sehingga saya harus menjalani beberapa terapi untuk menormalkan kembali fungsi tulang-tulangku semoga bisa berjalan dengan baik.

Salah satu penyebabnya kemungkinan pada dikala saya terjatuh pada usia 5 bulan itu. Baru beberapa hari saya tinggal di rumah sakit persediaan uang ayahku menipis, kesudahannya dengan sangat terpaksa ayah ibu membawaku kembali ke kampung.

Orang tuaku pasrah atas ujian yang Allah berikan. Apapun yang akan terjadi semua ialah kehendak-Nya. Usaha orang tuaku patut kuacungi dua jempol, bahkan bila memungkinkan empat jempol sekaligus.

Dengan telaten setiap hari ibuku melaksanakan terapi sendiri di rumah, sementara ayahku berbagi saya kawasan untuk mencar ilmu berjalan dari bambu. Sebelum ayahku pergi bekerja saya selalu diajak untuk melaksanakan latihan secara rutin dengan penuh kasih sayang.

Aku melihat tidak ada sedikitpun guratan kesedihan di wajah mereka, senyum senang selalu menyelimuti bibirnya dikala memberi semangat padaku untuk melaksanakan latihan tersebut. Apalagi jikalau sudah melihat saya bosan, ibu selalu membujuknya dengan kesepakatan akan berbagi saya makanan kesukaanku. Ayah pun demikian tidak pernah luput memujiku dengan perkembangan kemampuanku untuk berjalan.

Tanpa terasa saya sudah duduk di dingklik SMA, saya masih selalu diantar jemput oleh ibuku alasannya ialah saya memang belum sanggup berjalan dengan sempurna. Jalanku masih pelan-pelan takut jatuh, ibu selalu menggandeng tanganku dan memapah saya berjalan. Kegigihan ia dalam membimbing, benar-benar memacu hatiku untuk bertekad mewujudkan cita-citaku menjadi seorang dokter andal tulang yang bagus dan sukses menyerupai Dokter Mila.

Hari demi hari kulalui dengan dukungan dan kehangatan orang tuaku, terutama ibu. Sampailah pada tahun ke 3 di SMA, prestasi belajarku melesat cepat, nilai pelajaranku sangat baik.
Pertolongan Allah pun tiba. Aku mendapat sumbangan dari Pak

Haji Sholehudin, seorang yang gemar memberi di kampungku, sehingga orang tuaku tidak begitu dipusingkan dengan biaya sekolahku di SMA. Walaupun demikian ayah dan ibuku tidak berhenti atau bermalas-malasan mencari nafkah, alasannya ialah pada prinsipnya tidak mau merepotkan orang lain.

Pak Haji Sholeh ialah pedagang di pasar di kota, istri tercintanya telah meninggal dunia 15 tahun yang lalu. Meski usahanya sangat maju namun kehidupannya sangat sederhana.

Beliau hidup bersama 5 orang anak yatim piatu di rumahnya yang sangat sederhana. Kepeduliannya kepada orang yang tidak bisa jauh lebih peduli dibandingkan dengan orang kaya yang ada di kampungku.

Menurut dongeng dari ibuku, semenjak masih muda ia gemar sekali bersedekah, begitu pula dengan almarhum istrinya. Baginya harta dia bahu-membahu ialah harta yang dia berikan untuk orang lain. Subhanallah!!

Dengan segala keterbatasan dan dukungan dari orangtua, saya bisa menuntaskan pendidikan di Sekolah Menengan Atas dengan prestasi dan nilai yang gemilang. Acara wisuda di sekolah sangat meriah. Kami saling berpelukan, menangis alasannya ialah haru bahagia.

Kami sadar kami akan berpisah dengan teman-teman dan entah apakah kami akan bertemu kembali atau tidak. Kelak kami akan menjadi apa? Kami tidak tahu, semua itu ialah diam-diam Ilahi.

Allah mendengar dan mengabulkan semua doa dan harapan orang tuaku, yang selalu kudengar dikala ibuku selesai menunaikan shalat Tahajud di keheningan malam yang sepi. Bersamaan dengan mengalirnya airmata dari bola matanya yang indah kemudian sebait doa pun meluncur dari bibirnya.

Tak henti-hentinya ibu selalu mendoakan aku, demi kebahagiaanku, keberhasilanku. Kadang saya berpikir kapankah ibu tidur? Setiap saya terbangun ibu sedang berzikir, berdoa, mengaji, shalat dan banyak lagi serangkaian ibadah yang dilakukannya.

Selepas Sekolah Menengan Atas saya diterima di PTN yang paling terkemuka di Indonesia, dengan jurusan yang diminati banyak pelajar Sekolah Menengan Atas yaitu Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI).

Terima kasih Ya Allah, Kau mengabulkan cita-citaku menjadi mahasiswa kedokteran apalagi di Universitas Indonesia. Subhanallah tiada henti-hentinya saya bersyukur.

Mendapat kenikmatan besar dan petaka memilukan ...

Qadarullah, mungkin alasannya ialah kelewat bahagianya mendengar saya diterima di Fakultas Kedokteran UI, ayahku kena serangan jantung kemudian meninggal dunia.

Sejak itu ibuku hijrah ke Jakarta, menemaniku alasannya ialah saya dikala itu belum tepat betul. Setelah mengantarkan saya ke kampus, ibu pergi bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah seorang dokter yang kebetulan menjadi dosenku, namanya dr. Sudiyanto SpBO (dokter Spesialis Bedah Orthopedi). Dosen yang baik hati ini mempunyai 2 anak yang secara kebetulan anak sulungnya ialah abang kelasku, 3 tahun diatasku.

Dr Sudiyanto pun merasa prihatin dengan kondisiku, sehingga dengan nrimo membantuku pengobatanku dengan terapi medis secara gratis. Alhamdulillah dalam jangka waktu 1,5 tahun saya sudah sanggup berjalan dan tanganku sanggup digerakkan dengan elastis menyerupai teman-temanku yang lainnya.

Sepeninggal ayah, saya mendapat beasiswa alasannya ialah saya termasuk anak yatim yang berprestasi, dan dari keluarga yang miskin.

Hari demi hari kulalui bersama ibuku, dengan kesetiaannya ibuku selalu menemani saya dalam belajar, selalu memberi semangat, menjadi inspirasiku dalam menuntaskan studiku.

Dalam jangka waktu 5 tahun saya lulus sebagai dokter umum, kemudian dilanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi sebagai dokter seorang andal bedah orthopedic, sesuai cita-citaku dulu. Pendidikan ini pun sanggup kuselesaikan dalam jangka waktu 3 tahun. Allahu akbar!

Tibalah saatnya saya menjalani wisuda sebagai Dokter Spesialis Bedah Ortopedi. Dalam hatiku dan selalu dipenuhi rasa syukur kepada Allah. Malam hari sebelum wisuda saya tidak bisa tidur, kupandangi wajah ibuku yang sudah tampak bau tanah kelelahan, saya hanya bisa berucap lembut: “Ibuuuuu, terima kasih alasannya ialah kamu telah mengantarkan saya menjadi seorang dokter dengan kelembutan, kehangatan, kesabaran, ketekunan, yang niscaya doamu sangat nrimo untukku, Allah telah mengabulkan doamu.

Aku persembahkan gelar dan ijazahku untukmu, engkaulah yang patut mendapat gelar itu. Ibuuuu saya sangat mencintaimu…”

Tanpa terasa matahari pun muncul dari persembunyiannya, saya dan ibuku sibuk mempersiapkan diri untuk menghadiri upacara wisuda. Kami berangkat dengan memakai becak, namun tiba-tiba kami dikejutkan dengan kedatangan Dr Ade Sutisna, putra sulung Dr Sudiyanto.

Saat itu kami hendak menaiki becak yang sudah kami pesan, dengan sedikit memaksa ia mengajak kami untuk ikut masuk ke dalam kendaraannya. Sebagai penghargaan padanya kesudahannya kami mengikutinya. Sesampainya di kampus UI ternyata saya sudah dinantikan oleh Dr Sudiyanto dan istrinya.

Sepulang program wisuda, malam harinya keluarga Dr Ade Sutisna berkunjung ke rumah kontrakan kami yang sangat kecil. Di luar dugaan, kunjungan mereka bertujuan melamarku untuk dijodohkan dengan Dr Ade. Subhanallah, kami hanya bisa menangis haru dan rasa syukur.

Ternyata di zaman modern ini masih tersisa insan aristokrat yang mau menimbulkan orang miskin ini menjadi menantunya tanpa proses pertentangan. Rupanya semenjak saya masuk kuliah Dr. Sudiyanto sudah berniat menjodohkan saya dengan putranya. Tanpa sepengetahuan ia dr Ade menaruh hati padaku.

Dua tahun kemudian kami menikah dan merajut keluarga sakinah hingga sekarang. Dalam kebahagiaanku, kebaikan almarhum ayahku tak pernah terlupakan.

Hanya doa yang kupanjatkan kepada Allah, satu-satunya balas jasaku pada ayahku. Semoga doaku menjadi amal ayah yang tiada terputus.

Duhai ayah, seandainya dikala ini Allah mengizinkanmu masih hidup, betapa bahagianya dirimu, ikut mencicipi kebahagiaanku. [VoaIslam]